Temukan Alasan Untuk Bergerak

Mengapa kamu bergerak? Sampai sekarang pertanyaan ini belum saya temukan jawabannya. Saya suka melakukan sesuatu, dan saya tidak yakin, kesukaan saya melakukan sesuatu itu erat kaitannya dengan misi kemanusiaan yang luhur, keinginan untuk membangkitkan peradaban dan blah … blah … yang wah lainnya. Saya cuma suka melakukan sesuatu, mengenai alasannya, saya tidak tahu. Terkadang, sebagai aplogi saya bertanya balik, memangnya butuh alasan untuk segala sesuatu? Ya, memang tidak sih. Seperti halnya kamu jatuh cinta. Terkadang kamu nggak punya alasan yang logis untuk itu. Kamu cuma cinta sama dia. Titik. Tolong jangan tanya alasannya. Sampai ke liang kubur pun mungkin kamu tak kan tahu.

Balik ke topik.
Sejak kecil hidup saya dikelilingi aksara, entah dalam bentuk tuturan atau tulisan. Mungkin ini sebabnya kenapa saya tidak bisa jauh-jauh darinya. Ditambah dengan lingkungan keluarga yang tak jauh dari aroma persekolahan (sebagian paman dan bibi saya adalah guru, ada yang punya sekolah, punya lembaga kursus, dan lain-lain), maka aksara+persekolahan membuat saya jadi guru, tanpa saya sadari, bahkan kehendaki. Maka, ketika saya menemukan anak-anak yang konon bintang di skeolahnya, tapi ketika nulis gak jelas apa yang mau dibicarakan, maka sontak saya jadi gatal-gatal pengen mengajarinya. Itulah ihwal saya mendirikan komunitas Kelas Kreatif Indonesia bersama kawan-kawan. KKI ini khusus bergerak mengembangkan literasi di kalangan pelajar. Komunitas ini berdiri akhir 2014 dan alhamdulillah terus bergerak sampai sekarang.
Orang-orang pikir saya ini keren sekali. Supermom. Padahal sebenarnya saya acakadut sekali. Kelihatannya aja yang keren. Namanya juga pencitraan (blaaah …). Salah satu keacakadutan itu tampak dari tidak jelasnya alasan saya bergerak. Bukan karena mau membangkitkan generasi emas yang blah … blah … seperti tulisan di spanduk-spanduk caleg tiap pemilu, tapi karena saya nggak bisa diam. Itu aja. Cuma pengen bergerak. Dan karena saya emak-emak gak ada kerjaan, maka, keinginan untuk membenahi ini itu kuat sekali di diri saya. Jadilah orang pikir saya ini hebat. Padahal nggak ada apa-apanya.
Saya selalu berpikir kita semua sebenarnya diberi peran masing-masing untuk membenahi ini itu di sekitar kita. Keinginan memperbaiki atau membenahi itu adalah fitrah manusia. Contoh, kalau kamu tiba-tiba ketemu anak yang jatuh dari sepeda, trus lututnya berdarah dan ia menangis, kamu pasti akan terdorong untuk membantunya. Itu adalah fitrah. Semacam chip kemanusiaan yang ditanamkan Tuhan untuk seluruh makhluknya. Perkara apakah chip ini akan makin kuat sinyalnya atau justru melemah, tergantung si manusianya. Apakah dia mau setiap hari mengelap hatinya yang serupa cermin itu agar bisa melihat dengan jelas kondisi sekitarnya, lalu terdorong memperbaiki, sekecil apapun itu, atau justru memilih mengabaikan karena berbagai hal: malas, capek, nggak ingin ribet, mementingkan diri sendiri, dll.
Setiap kita sesungguhnya dianugerahi potensi berbuat oleh Tuhan. Sebab, bukankah kita ini khalifah fil ardh, utusan Tuhan di bumi. Kalau kita sudah ditetapkan Tuhan sebagai rahmat bagi semesta, pasti kita juga dibekali sesuatu untuk melaksanakan tugas itu. Bekal itu bisa jadi dua: potensi/bakat dan fitrah kemanusiaan, bisa jadi bekalnya lebih banyak lagi (saya saja yang tidak tahu).
Apa potensimu? Temukanlah itu. Sebab, itu adalah salah satu alat yang diberikan Tuhan untukmu agar kamu bisa menjadi khalifah fil ardh. Jika kamu suka olah raga, mungkin kamu bisa bikin gerakan untuk mengajak orang rajin olahraga, bikin kegiatan ini itu, supaya fisik orang-orang makin sehat. Ini jihad toh? Jika kamu suka musik, kamu bisa bikin musik yang indah, mungkin untuk anak-anak, agar syaraf-syaraf otaknya bisa saling menyambung lebih erat. Atau jika kamu orang yang gampang sedih melihat gambar di bawah ini, sebuah perpustakaan yang koleksi bukunya bahkan lebih sedikit dari koleksi buku saya, berarti kamu punya passion di dunia literasi.

Maka, tentu saja pilihan yang tepat untukmu adalah bergerak untuk mengembangkan literasi dalam berbagai bentuknya. Sekecil apapun itu.
Intinya, kita mesti bergerak. Lakukan apa yang mungkin.  Mulai dari lingkup terkecil. Bergerak untuk sekitar itu sama seperti menjalankan mobil di malam gelap. Yang mampu kita lihat hanya sejauh yang bisa diterangi lampu mobil. Tapi, percayalah, jika kita terus konsisten, kita akan sampai di tujuan.

Selamat bergerak, selamat menemukan tujuan.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.