Hidup Itu Tidak Mudah, Tapi Selalu Ada Cara Menghadapinya

Apa pelajaran hidup paling penting? Mungkin yang satu ini: bertahan dan berjuang. Saya selalu bilang begini ke anak-anak saya, terutama Ayesha yang sudah mulai besar: hidup itu tidak mudah, tapi di situlah letak keindahannya. Kamu kalah, kamu jatuh, kamu berjuang, kamu bangkit, kamu berhasil, itu adalah episode-episode yang harus dilalui manusia mana pun. Dunia ini tempat berjuang, bukannya tempat pencapaian. Secerdas apapun kamu, kamu akan mati dan kelak mungkin akan terlupakan. Seindah apapun rupamu, kelak kamu akan menua lalu cacing tanah akan mengerubungimu di alam kubur. Baqir Shadr sudah memberi kuliah logika pada usia 11 tahun, Noam Chomsky disebut-sebut sebagai pakar linguistik terbesar di masa kini, Albert Einstein boleh jadi ilmuwan terhebat di dunia modern, Karen Armstrong adalah salah satu pemikir agama terbesar abad ini, tapi mereka semua telah dan akan berlalu. Sehebat apapun mereka, toh mereka akan pergi juga. Masa berjalan dari pagi ke sore. Usia merambat dari muda ke tua. Segalanya akan berakhir. Kamu pernah tidak ada di dunia ini dan suatu saat juga akan tidak ada. Di antara awal dan akhir usiamu, di antara pagi dan sore masa hidupmu, ada yang namanya saat berjuang. Dan di situlah letak keindahan sekaligus kepedihan hidup ini. Hidup itu tidak mudah, tapi selalu ada cara untuk menghadapinya.

Taruhlah hari ini saya berhasil. Saya sukses meraih juara dalam kompetisi menulis novel berskala besar. Kemudian detik, menit dan jam berlalu. Hari berganti. Kemenangan itu dibawa kereta api menuju masa lalu. Kegembiraan itu diantarkan ke suatu tempat yang tak mungkin bisa saya jenguk kembali, kecuali melalui sebuah jendela bermerk kenangan. Semua sorak-sorai perlahan reda dan setelah sekian lama, orang-orang tak mengingatnya lagi.
Taruhlah hari ini saya gagal. Naskah yang saya kerjakan dengan susah payah ditolak, lalu saya menerima celaan yang begitu menjatuhkan. Saya down. Saya berada pada kondisi mental yang sangat rendah. Lalu detik, menit dan jam pun berlalu. Hari berganti. Minggu demi minggu berlalu. Semua kegagalan itu, sebagaimana kebahagiaan, juga dibawa kereta waktu ke masa lalu. Semua hinaan mereda dan setelah sekian lama orang-orang tak mengingatnya lagi. Perasaan saya pulih. Kenangan buruk itu menjauh. Saya tak bisa menjenguknya lagi kecuali melalui sebuah jendela bernama kenangan yang bisa saja saya tutup selamanya. See? Bahagia dan sedih hanyalah sebuah hal yang melintasi kita. Kenangan yang menetap selamanya, itu pun kalau kita mengizinkan.
Saya pernah mengalami sebuah peristiwa yang membuat saya down. Saya memikirkannya selama berhari-hari, sampai suatu ketika, selepas senja, saat gerimis, karena tidak tahan lagi saya duduk di pinggir trotoar dan menangis di situ lama sekali. Setelah usai, saya diam dan memikirkan semua yang telah terjadi. Ada kelegaan yang datang bersama berakhirnya tangis. Saat itu saya belajar keras untuk tidak menghakimi siapa-siapa. Belajar untuk memahami dan memaafkan semuanya. Lalu, dua hari selepas momen yang menyakitkan itu, sebuah kabar baik yang tingkat kebahagiaannya berkali lipat di atas kesedihan itu, datang. Tiba-tiba saja saya ingin tertawa mengingat kejadian selepas senja itu. Saya merasa terlalu cengeng. Bukankah terlalu sering terjadi dalam hidup ini, Tuhan membalas kesedihan dengan kegembiraan berkali lipat? Mengapa saya lupa dan membiarkan diri merana berhari-hari?
Hidup itu tidak mudah, demikian saya selalu berkata pada anak-anak saya. Nyaris setiap hari kita akan bertemu kepedihan dan kebahagiaan, penentangan dan penerimaan, cacian dan pujian, tetapi, satu hal yang harus diingat, nilai diri kita tidak terletak di setiap caci dan puji. Nilai diri kita terletak dari bagaimana kita menghadapinya.
Di atas segalanya, kita masih punya Tuhan bukan?
Toh bukankah pencapaian kita bukan di dunia yang sebentar ini, tapi di akhirat nanti.

*ini merupakan artikel keempat dalam proyek menulis #1hari1cerita yang saya gagas untuk diri sendiri

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.