Berkunjung ke Kampung Adat Balai Kaliki, Payakumbuh

Pada tahun 2017 ini aku punya satu keinginan yakni mengekspos semua keindahan budaya dan wisata di Sumatra Barat, terutama kampungku sendiri, Payakumbuh-Kab.50 Kota. Kalau ditinjau-tinjau, segenap keindahan ini seakan tiada habis. Dikira selesai menjelajahi sebuah kampung, eh besoknya ada info baru kalau ada sesuatu yang menarik di situ. Betapa luar biasanya keragaman budaya di Sumbar, itu baru Sumbar saja ya, gimana seluruh Indonesia?

Nah, kali ini aku akan bercerita soal Balai Kaliki

Rumah gadang Suku Mandailiang

sebenarnya aku sudah lama ingin ke sini, tapi selalu belum bisa. Nah, pada Maret ini aku berkeras hati mengunjungi tempat ini sekaligus-kalau bisa-berinteraksi dengan penduduknya. Alhamdulillah kedua hal ini bisa terlaksana.

Aku ke sana pada 28 Maret lalu, pukul 09.00 WIB. Hari hujan lebat, masyaallah, dinginnya. Dalam hati sempat hopeless juga . Habis, dingin-dingin begitu kan enaknya masuk kamar dan zzzz … zz gitu ya. Selimut begitu menggoda, tapi, keinginan untuk mengunjungi Balai Kaliki lebih kuat hingga akhirnya meluncurlah aku ke sana.

Balai Kaliki terletak di Kota Payakumbuh, tepatnya di Kec. Payakumbuh Utara (dekat rumah Gus Tf, sastrawan hebat itu). Payakumbuh merupakan kota yang sangat cantik, rapi, bersih dan teratur (wajar kalau dapat Adipura). Yang khas dari Payakumbuh adalah kulinernya. Untuk yang satu ini akan kuceritakan lain waktu.

Nah, singkat cerita, pagi itu aku berangkat menuju Balai Kaliki. Setelah menelepon seorang teman, aku mendapat nomor telepon Dt Bijo, beliau adalah salah satu datuk yang sangat dihormati di situ (kemudian aku tahu kalau beliau juga sekretaris Kerapatan Adat Nagari Payakumbuh Utara). Beliau orang yang sangat ramah. Di telepon sambutannya sangat baik. Beliau kemudian mengundangku bertamu ke rumahnya. Wah, bukan hanya beliau, keluarga beliau juga baiiiik sekali, sampai menghidangkan minuman segala ^_^. Beliau banyak bercerita tentang Kampung Adat Balai Kaliki yang dijadikan cagar budaya oleh pemerintah pada tahun 2008.

Dt. Bijo di tengah perkampungan adat Balai Kaliki

Menurut cerita beliau, di kampung itu ada 11 rumah gadang dan 14 rangkiang yang sudah berumur di atas satu abad. Rumah-rumah itu masih dihuni dan terawat baik hingga kini. Semua rumah gadang bertipe rajo babandiang dengan ciri khas ada bagian lantai yang ditinggikan. Bagian lantai ini khusus untuk tempat duduk kaum perempuan sebagai penghormatan pada mereka (wah sebagai perempuan Minang aku merasa tersanjung ^_^).

Semua rumah gadang dibuat dari kayu jua. Ini adalah kayu sangat kuat yang sudah jarang ditemui pada masa sekarang (tapi konon daun-daunnya yang bisa dijadikan sayur masih bisa ditemukan di pasar tradisional). Kayu jua yang dipakai haruslah berasal dari pohon yang berusia minimal 50 tahun (maaak … tuanya). Setelah dipotong, kayu ini direndam selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk membuatnya jadi kuat. Biasanya direndam di sawah. Ini adalah metode untuk memadatkannya agar bisa bertahan selama puluhan tahun. Sebagai info, rumah gadang milik mertuaku yang dibangun tahun 1940 juga dibuat dari kayu jua dan masih kuat hingga sekarang–gak ada yang nanya ya? >_< . Inilah yang membuat rumah gadang di Balai Kaliki tetap kokoh.

Setelah menjelaskan perihal Balai Kaliki, Dt. Bijo lalu mengajakku mengunjungi beberapa rumah gadang. Pertama, beliau mengajak mengunjungi rumah gadang Suku Mandailiang yang memiliki 30 tiang,  didirikan oleh Dt Gindo Sinaro Nan Kuniang tahun 1906. Di sini aku menemukan lemari besi dari zaman VOC, lengkap dengan lambang VOC. Aku kemudian berkenalan dengan ahli waris rumah itu, dan senangnya … mereka mengizinkan aku melihat kamar-kamar di situ dan membolehkan aku memotretnya.

Lemari besi dari zaman VOC

Sehabis dari sana aku kemudian diajak ke rumah gadang Suku Kampai yang didirikan Dt. Sinaro Nan Hitam tahun 1916. Di rumah ini aku menemukan lebih banyak perabot tradisionalnya, seperti lemari, lampu hias, ukiran, dan lainnya. Rumah gadang ini memiliki 40 tiang.

Aku kemudian turun dari rumah gadang dan berjalan menyusuri perkampungan adat itu (di bawah hujan, betapa romantis dan melankoliknya). Aku memutuskan tidak singgah ke mana-mana lagi, aku cuma ingin menyusuri romantisme masa lalu di antara deretan rumah gadang dan rangkiang-rangkiang (tempat menyimpan padi dan benih). Benakku penuh dengan imaji Balai Kaliki seabad lalu. Anak-anak lelaki bermain patuak dengan telanjang dada di halaman, ibu-ibu menampi beras untuk membuang atah di dekat rangkiang, dan di sekitarnya, beberapa ayam menunggu rezeki butiran beras yang jatuh. Para lelaki duduk di lepau sambil menghisap tembakau, mengobrol tentang orang-orang ‘ulando’ (Belanda) yang tingkahnya makin memuakkan saja. Di surau, seorang tuanku muda, hasil didikan seorang syekh, tengah membuka-buka kitab kuning. Anak-anak perempuan duduk di bawah pohon bermain batu. Itu permainan favoritku di masa kecil, permainan warisan ibuku, yang juga diwariskan ibunya pula.

Di dekat sebuah rangkiang yang berselimut tanaman menjalar yang aku tidak tahu namanya, aku berhenti. Pada saat itu, masa lalu menjadi begitu romantis bagiku. Bangunan-bangunan di situ membawa perasaan-perasaan sentimentil yang tidak  aku duga. Aku cemas jika upaya renovasi di Balai Kaliki yang kini terhenti tidak dilanjutkan, semua romantisme itu akan musnah dan anak-anakku, mungkin hanya sekadar tahu dari mana asal-usulnya, tanpa benar-benar merasa terhubung dengan itu semua.

#1hari1cerita

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.