Nikmatnya Pangek Lapuak, Makanan Kuno Minang

Saya baru tahu dengan pangek lapuak ini ketika melewati Batusangkar dalam perjalanan Payakumbuh-Padang sekitar 3 bulan lalu. Saat melihat nama makanan ini di sebuah rumah makan sederhana pinggir jalan, saya langsung penasaran. Namanya  saja sudah menerbitkan rasa ingin tahu, gimana kalau melihat sendiri ya?

Saya memutuskan singgah di situ untuk membeli sepotong pangek lapuak. Pangek adalah gulai khas Minang yang kuahnya kental, harum dan berminyak. Nah, pangek lapuak ini lauknya adalah ikan kolam (ikan nila). Dimasak di dalam belanga tanah dengan aneka jenis daun. Dua daun yang saya kenal di situ adalah daun salam dan daun melinjo, lainnya tidak tahu. Kuahnya tidak terlalu banyak (yaa, namanya saja pangek. Santannya dimasak sampai nyaris kering, meresap ke ikan dan berbulir). Begitu mencoba … woaaa … nikmat tak tertahan. Tulang ikan sangat lunak seperti tulang sarden, sehingga saya bisa memakan seluruh bagian ikan, termasuk rangka kepalanya, tanpa tersisa. Oo, jadi ini sebabnya kenapa pangek tersebut dinamakan pangek lapuak (pangek lapuk). Proses masaknya membuat seluruh tulang jadi begitu lunak hingga mudah dimakan. Kalau orang sekarang memakai panci presto untuk melunakkan tulang, orang dahulu menggunakan belanga tanah dan aneka daun untuk mendapat hasil yang sama, namun dengan kualitas rasa yang lebih bagus menurut saya.

Pangek lapuak ini adalah masakan kuno Minang. Sudah susah menemukan orang yang bisa memasak makanan ini. Pangek ini patut dilestarikan. Mungkin  dengan mengadakan pelatihan membuat pangek lapuak dan makanan kuno Minang lain yang terancam punah, atau dengan rajin mengadakan festival masakan tradisional Minang.

nah, kalau kamu ke Batusangkar, makanan ini patut dicoba. Letak rumah makannya di pinggir jalan Batusangkar-Payakumbuh, menjelang Barulak (dari arah Batusangkar).

#1hari1cerita

 

 

Share Button

2 Replies to “Nikmatnya Pangek Lapuak, Makanan Kuno Minang”

Leave a Reply

Your email address will not be published.