Mencari Belle yang Penuh Emosi Dalam Lautan Musik

Saya sudah menantikan Beauty and the Beast sejak pertama kali membaca berita tentang pembuatan film ini, tahun lalu. Saya beberapa kali melihat trailernya di Youtube, dan–meskipun saya tidak pernah terlalu yakin dengan trailer sebuah film karena pastilah hanya menonjolkan yang bagus-bagus saja untuk menciptakan imajinasi tertentu–saya menaruh harapan yang cukup tinggi untuk film ini. Saya suka cerita-cerita rakyat Eropa-Amerika karena saya tumbuh dengan cerita-cerita itu. Para penulis cerita rakyat Eropa-Amerika umumnya sangat kreatif dalam memodifikasi cerita sehingga selalu berkembang dari waktu ke waktu. Mereka juga banyak menyisipkan fantasi yang melambungkan imajinasi. Misalnya saja cerita rakyat Cinderella yang pada awalnya hanya sebatas kisah seorang anak yang diperlakukan kejam oleh ibu tirinya (kita banyak mendengar cerita seperti ini dalam berbagai nama dan versi, misal kisah Bawang Merah dan Bawang Putih dari Indonesia), lalu dibubuhi segala macam pernik oleh Charles Perrault pada abad 19 sehingga akhirnya muncullah tokoh ibu peri, kereta labu, tikus yang menjelma jadi kuda, jam malam dan sepatu kaca. Pun dalam zaman Hollywood seperti sekarang, cerita-cerita rakyat itu juga banyak mengalami modifikasi, entah semangatnya ataupun latarnya. Dalam konteks inilah saya menunggu-nunggu Beauty and the Beast. Saya berharap ada satu loncatan imajinatif di film ini, sebagaimana sutradara Andy Tennant memodifikasi tokoh Cinderella dalam Ever After  menjadi lebih rasional dan feminis. Harapan saya makin membubung mengingat film Cinderella teranyar yang dibesut Kenneth Branagh juga bernilai bagus meski tidak banyak melakukan perubahan berarti dari versi Charles Perrault. Satu lagi, modifikasi kisah Sleeping Beauty (rilis 2014) juga sangat menarik karena diceritakan dari sudut pandang Maleficent yang selama ini dikenal sebagai tokoh antagonis.

Tapi, apakah harapan saya lunas setelah menonton Beauty and Beast? Inilah catatan saya untuk film garapan Bill Condon yang saya tonton di hari kedua pemutarannya di XXI Padang.

Musik Megah

Musiknya sangat megah. Inilah yang tidak saya duga dari film ini. Bagian musikal mengambil setidaknya separuh durasi. Sebagian percakapan diisi dengan nyanyian. Ini mengagetkan karena saya tidak pernah membaca kalau Beauty and the Beast adalah sebuah film musikal (atau saya yang kelewatan membaca beritanya?). Saat menonton Lala Land saya tidak kaget karena memang sudah tahu ini film musikal sebab banyak yang memberitakannya, tapi Beauty and the Beast? Okeh, terlepas dari keheranan saya, musik di film ini bisa dikatakan sangat megah. Dua jempol untuk komposernya. Musiknya bisa dikatakan paling menonjol (selain animasi dan kostum para pemain, tentu) dalam film ini. Ada sesuatu yang ajaib dibawa oleh musiknya dan ini seperti bring the whole of fairy tale magic ke dalam filmnya. Animasinya luar biasa. Saya sangat terkesan dengan nyaris sempurnanya penggambaran Mrs. Pot, Lumiere dan perabot-perabot istana Beast lainnya yang hidup, bisa bergerak dan bernyanyi. Tiga hal ini, musik, animasi dan kostum, membuat Beauty and the Beast menjadi film yang begitu indah dan sangat nyeni.

Plot

Plot bisa dikatakan nyaris tak ada bedanya dengan versi yang ditulis Charles Perrault. Ayah Belle memetik mawar di taman Beast—>Beast marah dan menangkap ayah Belle—>kuda ayahnya kembali ke Belle—>Belle ke istana Beast untuk membebaskan ayahnya—>Belle menggantikan ayahnya sebagai tawanan Beast karena sang ayah dianggap bersalah sudah mencuri—>Belle berinteraksi dengan Beast dalam istananya—>Beast dan Belle jatuh cinta—>Belle meninggalkan Beast, tapi kemudian kembali saat penduduk desa ramai-ramai menyerang Beast—>Beast terluka–> Belle mengucapkan kata cinta saat Beast sekarat dan kelopak mawar terakhir hampir jatuh—>Beast dan seluruh istananya bebas dari kutukan—>tamat.

Itu saja.

Film ini mirip dengan Cinderella garapan Kenneth Branagh yang juga setia pada versi Charles Perrault, namun ada satu kelebihan di Cinderella yang tidak saya temui di Beauty and the Beast, yakni emosi. Cerita ini nyaris kering dari emosi. Mungkin karena separuh film dihabiskan dengan nyanyian sehingga kesempatan untuk mengeksplorasi gestur, ekspresi wajah dan intonasi suara jadi sedikit. Ada bagian-bagian yang seharusnya dibiarkan saja sebagai drama, seperti kisah saat Belle pertama kali makan di meja makan atas undangan Lumiere, tapi digarap sebagai pentas musikal. Selain itu sentuhan percakapan melodramatik antara Belle dan Beast juga sangat sedikit, yang sedikit itu pun kurang menyentuh. Chemistry antara Belle dan Beast kurang terbangun. Emma Watson dan Dan Stevens seolah-olah bukan Belle dan Beast tapi hanya aktris dan aktor yang berperan sebagai dua karakter itu. Perbedaannya terasa sekali. Dan khusus untuk Beast, semestinya emosinya yang tertekan akibat kutukan itu bisa dieksplorasi lebih jauh lagi. Seharusnya Beast bisa tampil sebagai monster pemarah yang terlihat kuat namun sesungguhnya rapuh. Seharusnya ada beberapa momen yang bisa menunjukkan hal itu. Namun, di film ini saya tidak terlalu melihatnya.

Untuk tokoh Belle, ada beberapa catatan saya tentangnya. Pertama, bila memang bersetia pada versi Charles Perrault, semestinya ia ditampilkan sebagai gadis lugu yang selalu ingin tahu tentang dunia. Emma Watson dalam hal ini tampil terlalu tidak lugu, bahkan lebih tepat disebut sebagai terpelajar dan akademik, sesuatu yang ganjil sebenarnya di tengah lingkungan tempat dia hidup. Aura anak desanya tidak kelihatan. Kedua, intonasinya saat bicara dengan Beast, terutama pada momen-momen menyentuh (misal saat di taman) kurang ‘ngena’, kurang dalam emosinya. Getaran dalam suaranya nyaris tidak ada. Bahkan saat momen paling kritis bagi Beast, ketika ia luka parah dan hampir mati, getaran dalam suara itu nyaris tidak terdengar. Kalau pun ada, maka saya tidak terlalu merasakannya. Belle seperti berada di luar pemerannya, bukan berada dalam diri sang pemain. Bukannya Emma Watson bermain tidak bagus. Ia bermain cukup bagus, hanya saja sedikit kering dari emosi.

Tokoh yang justru patut diacungi jempol bagi saya adalah Luke Evans, pemeran Gaston. Ia cukup berhasil memerankan Gaston yang ambisius, pemuja diri sendiri dan bodoh. Meskipun ia juga banyak kebagian scene menyanyi, namun gestur dan ekspresi wajahnya dalam sesi itu cukup kuat. Ia bisa tampil sebagai sosok yang memuakkan.

Satu lagi, saya suka dengan karakter Mrs. Pot (Emma Thompson), Lumiere (Ewan Mc Gregor) dan Cogsworth (Ian Mc Kellen). Meski mereka hanya animasi, namun karakter mereka sangat kuat berkat kemampuan para pemerannya membangun emosi melalui suara. Saya sendiri sampai terenyuh saat Mrs. Pot mencari-cari anaknya, Chip, menjelang membeku jadi poci teh selamanya. Ada tekanan emosi yang kuat dalam nada suaranya. Tabik saya untuk sang pemeran.

Hal Unik

Terakhir ada dua hal unik yang saya catat dari film ini. Pertama, karena Belle beraksen Inggris maka untuknya diciptakan anak kisah mengenai bagaimana ia dilarikan ayahnya dari daratan Prancis ke Inggris untuk menghindari wabah mematikan. Ini membuat aksen Inggris Belle jadi logis karena pada versi Charles Perrault ia adalah orang Prancis. Kedua, Belle dalam satu kesempatan memakai tudung merah yang mengingatkan saya pada kisah Si Tudung Merah. Apakah Hollywood sedang mempersiapkan diri untuk me-remake film ini? Rasanya nggak mungkin juga sih mengingat versi teranyarnya baru rilis 2011 (dibintangi Amanda Seyfried). Tudung Merah versi 2011 adalah versi baru, mengekor kisah percintaan manusia-monsternya Stephenie Meyer dalam Twilight. Tapi ya … siapa tahu.

Beauty and the Beast, meski di bawah ekspektasi saya, bukan film buruk. Sebagai sebuah tontonan ia cukup menghibur. Bagi yang ingin menontonnya bersama anak-anak, saran saya batalkan saja rencana itu. Adegan dewasa dalam film ini, saya yakin, bukan sesuatu yang pantas ditonton bersama mereka.

#1hari1cerita

 

Share Button

2 Replies to “Mencari Belle yang Penuh Emosi Dalam Lautan Musik”

  1. Izzah Annisa

    Makasih reviewnya, Uni. Cakep dan lengkap banget.

    Ngomong2 soal film musikal/drama musikal, aku pribadi kurang suka, Uni. Kalo pas nonton, biasanya yang bagian berseriosa ria aku skip, apalagi kalu dah kelamaan, huehehe… Soalnya ga sabar pingin tau adegan selanjutnya. Tapi berhubung suka dengan dongeng2 Eropa, meski kemungkinan aku bakal bosan sama porsi musikalnya yang separuh film, rasa2nya aku tetap mau nonton film ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.