Sesuatu yang Harusnya Saya Lakukan Bertahun Lalu: Ziarah ke Makam Syekh Ibrahim Mufti

Tanggal 28 Maret lalu saya melakukan hal yang seharusnya sudah saya lakukan 18 tahun lalu: berziarah ke makam seorang ulama besar di Taram, Kecamatan Harau, Kabupaten 50 Kota, Sumatra Barat. Pasalnya, Taram sangat dekat dengan rumah saya sendiri, cuma berjarak sekitar 4 km. Yah, 18 tahun lalu saya tidak benar-benar mencari tahu mengenai sang syekh. Saya cuma mendengar ada surau tuo di Taram, dan info itu hanya berhenti sampai di situ. Seharusnya saya melanjutkan info itu ke ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’. Lalu, setelah merantau ke Padang, info mengenai hal itu terlupa, terhimpit dengan aneka kesibukan. Beberapa waktu lalu info itu teringat lagi, dan kali ini saya memutuskan untuk menelusurinya.

Surau tuo (surau tua) yang saya maksud merupakan sebuah surau yang didirikan oleh seorang ulama besar, Syekh Ibrahim Mufti. Surau itu didirikan, selain untuk tempat beribadah, juga menjadi tempat beliau mengajar ilmu-ilmu agama. Surau ini diperkirakan berdiri pada abad 17. Bangunan surau yang ada hari ini merupakan hasil pemugaran.

Makam Syekh Ibrahim Mufti yang terletak di samping surau

Suasana sekitar surau sangat sejuk begitu saya sampai, konon, lingkungan di sekitar surau itu memang selalu sejuk meski hari sedang panas-panasnya. Begitu tiba, saya disambut oleh beberapa orang angku datuk yang duduk berbincang-bincang. Mereka mempersilakan saya melihat-lihat surau. Mula-mula tentu saya mengunjungi makam Syekh Ibrahim Mufti. Makam beliau terletak di samping surau, dalam bangunan kubah. Makam itu sendiri ditutup kelambu. Selepas mengunjungi makam beliau saya pun masuk masjid dan berbincang dengan angku-angku datuk dan garin yang ada di sana.

Ada informasi menarik yang saya dapatkan. Salah seorang dari mereka menyatakan, bahwa memang orang mengenal sang ulama sebagai Syekh Ibrahim Mufti atau yang dikenal juga sebagai Syekh Taram atau Beliau Keramat Taram, tapi, nama beliau sebenarnya adalah Syekh Ibrahim Alkurani. Info ini sangat baru bagi saya, jadi saya tertarik mendengarnya. Saya mencoba menggali lebih jauh mengapa Syekh Taram dianggap Syekh Ibrahim Alkurani dan bukan Syekh Ibrahim Mufti sebagaimana yang umum diketahui, namun saya takĀ  mendapat jawaban memuaskan.

Akhirnya, sesampai di rumah saya membuka-buka buku sejarah Minangkabau yang berkaitan dengan Islam. Saya menemukan informasi di buku sejarahwan Amir Sjarifoedin Tj. A berjudul Minangkabau, Dari Dinasti Iskandar Zulkarnain Sampai Tuanku Imam Bonjol mengenai Syekh Ibrahim Alkurani. Disebutkan bahwa beliau merupakan salah satu pengembang tarekat syattariyah bersama Syekh Ahmad Al-Qusyasi. Dari kedua ulama ini, tarekat tersebut kemudian dibawa oleh Syekh Abdurrauf al-Sinkil ke Aceh, dan akhirnya menyebar ke seluruh pelosok nusantara. Nah, sesampai di sini saya menjadi bingung, sebab, Syekh Ibrahim Mufti ada juga disebut sebagai pengembang tarekat Naqsabandiyah. Jika beliau adalah Syekh Alkurani, bagaimana ceritanya dari syattariyah beliau kemudian mengembangkan naqsabandiyah, itu pertanyaan pertama. Pertanyaan kedua, Syekh Abdurrauf Al Sinkil, ulama besar Aceh yang menyebarkan Islam di nusantara, menurut satu sumber adalah murid dari Syekh Ahmad Al-Qusyasi, lalu bagaimana ceritanya beliau sampai menjadi guru Syekh Ibrahim Alkurani? Saya mencoba mencari nama Syekh Ibrahim Mufti di beberapa buku lain namun tidak menemukan jawaban memuaskan. Saya mencoba mencari buku Pak Azyumardi Azra berjudul Jaringan Ulama, tapi nggak ketemu. Yah, memang begitulah umumnya sifat buku, pas dibutuhkan nggak ketemu, pas nggak butuh, nongol sendiri di hadapan mata. Upaya ngeles dari kenyataan betapa berantakannya rak buku saya.

Surau Tuo dilihat dari gerbang. Bagian paling kanan adalah bangunan makam Syekh Ibrahim Mufti

Okeh, kembali ke topik. Dugaan saya bahwa Beliau Keramat Taram memang bernama Syekh Ibrahim Mufti (seperti yang umum diketahui). Sayangnya, saya menemukan sangat sedikit informasi tentang beliau (bahkan sebenarnya nyaris tidak menemukan) di buku-buku saya. Nama murid Syekh Abdurrauf di Minang yang saya temukan adalah Syekh Burhanuddin dari Ulakan yang memang sangat terkenal. Bahkan, kisah Syekh Burhanuddin menempati bab tersendiri di buku Pak Amir Sjarifoedin. Kalau mencari cerita Syekh Ibrahim Mufti via Google sih banyak, tapi umumnya yang diceritakan perihal kekeramatan beliau saja. Saya menginginkan kisah beliau sebagai tokoh sejarah, lengkap dengan data yang agak mendetail.

Keramat

Syekh Ibrahim Mufti adalah orang Arab, demikian yang saya dengar dari para angku datuk di Surau Tuo, ada yang menyebutkan kampung asal beliau adalah Palestina. Beliau bertemu Syekh Abdurrauf Al Sinkil di Madinah, lalu, bersama Syekh Abdurrauf pergi ke Aceh. Berarti waktunya pada akhir abad 17 ya, sesuai masa hidup Syekh Abdurrauf sendiri. Syekh Ibrahim Mufti kemudian melanjutkan perjalanan ke pedalaman Sumatra dan sampai di Taram.

Syekh Ibrahim Mufti bukan cuma dikenal sebagai penyebar agama, tapi juga dikenal memiliki karomah tertentu. Konon, begitu sampai di Taram yang waktu itu merupakan daerah kering, beliau langsung pergi ke Kapalo Banda yang merupakan sumber air penduduk, namun letaknya agak jauh dari kawasan hunian. Syekh Ibrahim Mufti lalu membuat aliran air dengan tongkatnya. Bagaimana caranya? Dengan ujung tongkatnya beliau menyapu tanah sehingga terbentuk semacam parit sangat kecil. Air di Kapalo Banda itu bersama ikan-ikan di dalamnya kemudian mengikuti tongkat beliau hingga akhirnya sampai di Taram. Apa yang beliau lakukan dianggap sebagai karomah, sebab aliran air tersebut bertentangan dengan hukum alam dimana air biasanya mengalir ke tempat yang rendah. Kapalo Banda merupakan sumber air yang letaknya lebih rendah dari Taram. Sampai sekarang parit kecil hasil goresan tongkat Syekh Ibrahim Mufti masih ada dan masih mengalirkan air. Orang-orang Taram menyebutnya sebagai Air Berbalik, karena memang airnya mengalir ke tempat yang lebih tinggi. Nah, kalau kamu ingin menyaksikannya sendiri, datanglah ke Taram.

Tongkat Syekh Ibrahim Mufti, sepertinya terbalik ini ya
Ember besi peninggalan Syekh Ibrahim Mufti

Saya beruntung diizinkan ahli waris beliau melihat peninggalan beliau yang berharga yakni kitab, tongkat dan ember besi beliau. Tongkat beliau memiliki ujung trisula. Saya merasa terharu diizinkan memegang dan mengangkatnya. Yah, kalaupun nggak ketemu Sang Syekh, ketemu tongkatnya jadilah. Kalau nggak bisa ketemu ama Nabi, ketemu makam dan barang peninggalannya jadi juga. Mudah-mudahan nanti di akhirat diperkenankan Allah melihat langsung wajah mereka semua. Amin.

#1hari1cerita

 

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.