The Great Wall: Catatan Kaki Zhang Yimou

Sebagai penonton setia film-film Zhang Yimou, saya tak mungkin melewatkan film satu ini, The Great Wall. Bercerita tentang legenda Tiongkok kuno, taotie, monster pemakan manusia yang memangsa setiap 60 tahun sekali, The Great Wall penuh dengan adegan perang kolosal plus senjata-senjata mematikan yang aneh bentuknya. Zhang Yimou selalu penuh kejutan. Dia satu dari sedikit sutradara dengan energi kreativitas luar biasa. Zhang selalu menawarkan hal-hal baru di filmnya. Dalam film favorit sepanjang masa saya, Hero, Zhang membawa estetika  cerita ke puncaknya yang paling tinggi. Di film itu dia berhasil menunjukkan betapa segala sesuatu yang terhampar, meski itu kematian brutal, adalah keindahan bila kita bisa melihatnya dari sudut pandang yang pas. Di film The Curse of the Golden Flower, lagi-lagi Zhang bicara tentang keindahan yang menyeruak di tengah amisnya darah. Di situ ia berhasil membidik keindahan dan keburukan dalam satu frame. Kemampuannya memadukan dua hal yang paradoks sungguh mengagumkan. Inilah salah satu ciri khas film-filmnya. Berangkat dari pengalaman sangat positif menonton film-film sutradara kelahiran Tiongkok ini, tak salah kiranya jika saya menaruh ekspektasi tinggi pada film The Great Wall.

Taotie

Kisah monster pemakan manusia berulang di sepanjang masa, di banyak peradaban. Tak kurang-kurang, sejarahwan Yunani kuno, Herodotus, pernah menulis tentang monster ini dan menyebutnya sebagai anthropophage alias man eaters (pemakan manusia). Di Tiongkok, monster ini disebut taotie. Ada yang menarik bagi saya soal taotie ini. Penggambarannya di The Great Wall sedikit mirip dengan penggambaran Herodotus tentang anthropopage. Dua matanya ada di bagian bahu, sementara di tempat yang seharusnya ada kepala, yang terlihat cuma mulut dengan ratusan gigi geligi setajam silet. Dan hal menarik lain tentang anthropopage adalah makhluk ini disebut sebagai salah satu suku liar di Scythia, daerah yang juga bagian dari Tiongkok kuno. Dalam Islam, Scythia merupakan wilayah yang dipercaya sebagai tempat tinggal Yajuj Majuj atau Gog Magog. Apakah tiga nama ini menggambarkan makhluk yang sama?
Kembali ke taotie. Alkisah, pada masa kaisar Zhao Zhen dari Dinasti Song, ada sebuah divisi militer yang bernama Nameless Order yang khusus dibentuk untuk menghabisi monster taotie yang muncul setiap 60 tahun sekali. Untuk menyongsong para monster ini mereka mempersiapkan persenjataan canggih, termasuk bubuk mesiu yang merupakan senjata pembunuh paling modern di masanya. Tepat saat mereka mulai bersiap menghadang taotie di atas Tembok Besar China, dua orang kulit putih pencari bubuk mesiu muncul, Wiliam (Matt Damon) dan Tovar (Pedro Pascal). Saat digeledah, kedua orang ini diketahui membawa potongan kaki taotie.
William dan Tovar segera diinterogasi. Umumnya para prajurit Nameless Order tidak percaya kalau satu makhluk taotie bisa dikalahkan satu manusia saja. Namun, saat melihat sendiri bagaimana William dan Tovar mengalahkan satu taotie dalam peperangan pertama, keraguan itu hilang dan mereka berdua, terutama William, mulai diterima.
Nyaris sepanjang film kita disuguhi perang kolosal ras manusia melawan ras taotie. Zhang Yimao menyuguhkan perang itu dalam adegan-adegan mencekam yang cukup artistik. Kesan ini sudah terlihat dari nama satuan tempur, bentuk fisik prajurit, pakaian, senjata sampai gerakan. Satu yang paling mencolok perhatian adalah satuan tempur akrobatik yang seluruhnya perempuan cantik berseragam biru cerah. Satuan tempur ini bertugas menombak para taotie dengan bantuan derek. Meski pasukan ini terasa ganjil dan tidak masuk akal bagi saya karena lebih terlihat sebagai umpan ketimbang tentara, namun adegan loncat dan menombak mereka sangat indah, sekaligus perih.

Tidak Seperti Zhang Yimou
The Great Wall adalah film Zhang Yimou yang tidak seperti film Zhang Yimou. Saya justru tidak mengenali Zhang di film ini. Ciri yang melekat pada film-filmnya nyaris tidak terlihat. Keindahan dan sifat puitik yang selama ini tampak pada film-filmnya hampir tidak saya temukan di The Great Wall. Kalau pun ada, maka itu hanya di beberapa adegan saja, seperti prosesi pemakaman Jenderal Shao dan cara bertempur pasukan derek akrobatik. Yang membuat film ini makin di bawah ekspektasi saya adalah, penokohannya terkesan serba tanggung. Setiap karakter kurang terolah dengan baik. Jenderal perempuan Lin Mae (Jing Tian) yang seharusnya tampil dengan perbawa sangat kuat sebagai pemimpin dari ribuan tentara dengan keterampilan khusus, justru tampil sebaliknya. Seorang jenderal boleh saja berusia muda, seperti yang ditampakkan Zhang pada sosok Lin Mae, tapi kematangan sebagai tentara yang membuat dia dipercaya menjadi jenderal, harus tampak pada ekspresi, gestur dan intonasi. Selain itu, Andi Lau yang berperan sebagai ahli strategi Wang tampil tidak sebagus biasanya ia bermain. Porsinya juga tidak banyak. perannya pun terkesan tidak terlalu penting. Bandingkan dengan film Tiongkok lain, Red Cliff, yang juga menampilkan seorang ahli strategi, Zhuge Liang. Di film kolosal ini, peran Zhuge Liang sebagai ahli strategi tampak begitu sentral. Dan bukankah semestinya demikian, bila kita merujuk pada sejarah peperangan kerajaan-kerajaan Tiongkok kuno. Dan yang paling mengacaukan dari semuanya adalah tampilan monster-monster taotie. Makhluk itu seperti berada di tempat dan waktu yang salah. Sungguh aneh rasanya melihat ribuan monster mirip dinosaurus yang ratunya mirip dino jenis pentaceratops, bertarung melawan para prajurit Tiongkok. Mungkin akan lebih baik kalau tampilan monsternya tidak mirip dinosaurus, tapi lebih mirip ke manusia buas macam makhluk Orc.

Catatan Kaki
Film ini sangat klise, setiap percakapan dan adegannya mudah ditebak. Bila dibandingkan dengan film-film Zhang Yimou yang lain seperti Hero, House of Flying Daggers dan The Curse of the Golden Flower yang mempesona, The Great Wall ibarat catatan kaki saja. Terus terang, saya kehilangan Zhang di film ini. Segala yang puitik dari seorang Zhang hampir tidak berjejak. Meski begitu sebagai sebuah hiburan, film ini cukup menarik. Dari lima bintang saya beri 2,75.

*sudah dimuat di kolom Cakrawala Film Haluan, 16 April 2017

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.