Lembah Harau: Bukan Lembah Yosemite yang Lain (bag. 1)

Selama beberapa waktu ke depan saya akan menampilkan artikel seri Lembah Harau di blog ini. Lembah Harau merupakan sebuah lembah sangat indah yang berada di kepungan tebing-tebing Harau yang gagah di Kabupaten 50 Kota, Sumatra Barat

 

Orang bilang Lembah Harau adalah Lembah Yosemite yang lain. Tapi, sebagaimana satu orang bukanlah perwujudan seorang yang lain, Lembah Harau pun bukanlah kembaran lembah yang lain. Dia adalah sebuah tempat dengan kemisteriusan dan keindahannya tersendiri. Pada permukaan tebing-tebingnya yang berwarna coklat tanah, merah maron dan kuning tanah liat, tersembunyi sejarah jutaan tahun pergerakan lempeng bumi. Dan sebagaimana Grand Canyon membutuhkan 1,7 miliar tahun timbul tenggelam di lautan agar bisa tampil seperti yang kita saksikan hari ini, Lembah Harau pun membutuhkan peristiwa yang sama, dalam rentang waktu yang juga panjang, untuk tampil seperti sekarang.

Berikut ini rekaman perjalanan saya menyusuri Lembah Harau yang menolak menjadi Lembah Yosemite yang lain.

Yang Menggeliat di Jantung Hutan

Ada raksasa yang menggeliat dalam gemuruh di jantung hutan Lembah Harau. Namanya Sarasah Tanggo. Dulu hanya pencari hutan yang melihatnya, kini, orang-orang gila petualangan seperti saya juga ikut menemuinya. Raksasa ini menjulang setinggi 75 meter di tengah keheningan rimba raya. Menyepi dari hiruk pikuk dunia. Sarasah dalam bahasa Minang berarti air terjun. Dalam kajian geologi, air terjun adalah sungai yang patah. Konon ada tujuh sungai yang patah di lembah ini. Yang paling sering dikunjungi orang adalah yang terbesar di antaranya,Sarasah Aka Barayun. Di sarasah ini lebar dinding air terjun mencapai sekitar 30 meter. Bila musim hujan tiba, airnya yang bergejolak di puncak sana jatuh menderu dalam kecepatan dan suara yang menggidikkan bulu roma. Bahkan mereka yang berdiri dalam jarak 50 meter pun akan kebasahan.

foto dari blog masuakrimbokaluarimbo.blogspot. Saya sendiri tidak membawa kamera saat berkunjung ke sarasah ini

Sarasah Tanggo adalah keindahan lain yang tersembunyi dalam rimbunan pakis-pakisan dan sulur-sulur tanaman yang merambat sepanjat dinding. Tempat ini adalah surga bagi udang dan kepiting sungai. Hewan-hewan ini mudah ditemui di sepanjang pinggir telaga yang berpasir. Batu-batu besar berserakan di mana-mana, seperti menjadi monumen sesuatu yang patah dan jatuh di masa lalu. Cara mudah mencapai sarasah ini adalah dengan mengikuti jejak pencari kayu. Saya masuk melalui jalan di bagian belakang kantor Bupati 50 Kota di Sarilamak. Di dekat sana ada simpang tiga kecil. Dua di antaranya sama-sama menuju hutan. Saya mengambil arah ke kanan.

Jejak pencari kayu mudah terlihat, ditandai dari rumput rebah dan alur tanah gundul bekas pijakan. Air merayap di atas tanah. Menyebar ke mana-mana tanpa membuat jalan menjadi becek. Mungkin ceritanya bakal beda kalau musim hujan tiba. Di beberapa tempat saya menemui dataran sempit pasir, sesuatu yang ganjil terasa di tengah kesenyapan belantara. Namun, entah kenapa ada rasa lega saat melihatnya karena itu artinya, sarasah yang dicari akan muncul sebentar lagi.

Butuh 30 menit berjalan kaki mencapai tempat itu. Dalam jarak lima belas menit perjalanan gemuruhnya sudah terdengar. Suara “owa owa” monyet ekor panjang bersahut-sahutan di sepanjang perjalanan. Konon ada babi hutan di sini, tapi saya tidak menemukan. Setelah menyibak pakis-pakisan, rimbun dahan dan sesemakan, akhirnya apa yang dicari tampak di depan mata. Sarasah Tanggo menjulang gagah. Airnya berdentum-dentum seperti meneriakkan sebuah kisah dari dasar lautan, pada suatu masa yang berlangsung puluhan juta tahun lalu.

Dasar Laut

“Di sini ada gelar Dt. Nakhodo,” kata seorang teman saya yang tinggal di Taram, sebuah daerah yang berada tak jauh dari Lembah Harau. Nakhodo berarti nakhoda dalam bahasa Indonesia. Orang Minang umumnya memberi nama banyak hal berdasarkan musabab kejadian. “Kenapa ada nakhoda? bukankah artinya dulu di sini ada kapal dan nakhoda?” begitu tanyanya.

Pertanyaannya ini boleh jadi seiring sejalan dengan Legenda Puti Sari Banilai yang hidup di masyarakat. Konon, dahulu Lembah Harau adalah sebuah laut. Suatu kali ada seorang putri cantik bernama Puti Sari Banilai dan keluarganya yang terdampar di sana. Puti ini sudah memiliki tunangan di daerah asalnya, Hindustan. Seiring waktu, keluarga Puti Sari Banilai hidup rukun bersama warga setempat, sampai akhirnya di hati sang ayah muncul keinginan untuk menikahkan putrinya dengan Rambun Paneh, pemuda setempat. Tak lama kemudian sang putri dengan Rambun Paneh pun menikah, lalu mempunyai anak.

Suatu kali, saat sang anak bermain di pinggir laut, mainannya tiba-tiba jatuh ke laut. Puti Sari Banilai pun berupaya mengambilnya. Tak dinyana ombak besar datang menghempas. Sang putri tiba-tiba teringat akan janjinya untuk menikahi tunangannya nun jauh di Hindustan sana. Dia sadar telah melakukan kesalahan. Dia lalu berdoa agar air laut surut. Tak lama kemudian air laut pun surut. Ia juga berdoa, jika benar telah membuat kesalahan, maka ia rela menjadi batu. Tak lama kemudian ia pun perlahan menjadi batu. Legenda ini bisa jadi merupakan metafora dari sejarah Lembah Harau sendiri. Menurut penelitian yang dilakukan tim geolog Jerman pada tahun 1980, diketahui batuan di Lembah Harau berjenis breksi dan konglomerasi, sejenis batuan yang umumnya terdapat di dasar laut. Menurut pemaparan Ari Wibowo dan Iqbal Fardiansyah yang termuat dalam Indonesia Journal of Sedimentary Geology dan dipublikasi di blog wordpress gprgindonesia, diketahui proses pembentukan tebing-tebing karang ini sudah berlangsung sejak zaman Paleogen. Paleogen merupakan sebuah periode geologi yang berlangsung selama 42 juta tahun, tepatnya berlangsung mulai 65 juta-23 juta tahun lalu.

Wisata Geologi

salah satu komunitas panjat tebing sedang melakukan aksinya saat saya mengunjungi tempat ini

Lembah Harau bukan sekadar tempat memanjakan mata. Ini juga salah satu tempat terbaik belajar sejarah bumi. Selama puluhan juta tahun proses sedimentasi yang masif–terbukti dengan jejak-jejak aliran pasir aneka warna yang membatu–tergambar nyata di permukaan tebing. Batu pasir yang kasar dalam aneka warna tampil mencolok pemandangan. Proses selama jutaan tahun menjadikan tebing-tebing ini padat dan kuat, membuatnya dijuluki salah satu arena panjat tebing terbaik di dunia.

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.