Lion: Perjalanan Panjang Mencari Muasal Diri

Pada tahun 1986, Saroo, seorang anak lelaki India berusia lima tahun terjebak sendirian dalam kereta api yang membawanya ke Kalkuta, India, 1500 mil dari rumahnya. Dia terlalu kecil untuk menjelaskan siapa dirinya kepada polisi. Dia bahkan tidak bisa berbahasa Bengali. Yang dia tahu cuma dua, namanya dan daerah asal yang dilafalkannya sebagai Ginestlay. Tak ada daerah itu di India. Polisi lalu menyebarkan info anak hilang di koran, tapi tak satupun yang merespon. Tak ada pilihan. Saroo akhirnya dimasukkan ke panti asuhan, lalu diadopsi pasangan suami istri Brierley dari Tasmania, yang mengasuhnya dengan penuh kasih sayang. Saroo besar dengan pertanyaan akan identitas aslinya. 25 tahun setelah ia resmi menyandang nama Brierley, ia memutuskan mencari ibu kandungnya. Inilah kisah yang disuguhkan Lion, sebuah film sepanjang 1 jam 58 menit yang masuk 6 nominasi Oscar dan 4 nominasi Golden Globe. Lion adalah sebuah perjalanan panjang anak manusia mencari asal muasal dirinya. Seberapa jauh pun ia dibawa terbang, tetap ke tanah leluhur juga kerinduannya tertuju. Inilah film yang menjadi pembicaraan banyak kritikus dan juga jadi penanda lahirnya seorang bintang baru Hollywood, Sunny Pawar.

Cemerlang

Saya tidak familiar dengan nama Garth Davis, sutradara film ini. Namun, saat melihat trailernya di Youtube, saya tertarik untuk menontonnya karena di situ ada Nicole Kidman dan Dev Patel. Nicole Kidman, setahu saya, jarang bermain dalam film buruk. Cold Mountain, The Hours, Rabbit Hole, Grace of Monaco dan The Interpreter adalah beberapa filmnya yang bisa menjadi bukti. Dia pun aktris peraih Oscar lewat film The Hours. Kualitas aktingnya cenderung stabil dari film ke film.
Dev Patel adalah daya tarik yang lain lagi. Saya sudah menyukai aktor Inggris berdarah India ini sejak di film Slumdog Millionaire. Aktingnya baik sekali di situ, dan berharap bisa melihat aktingnya lagi di lain film. Dua nama ini bisa dibilang membuat saya penasaran dengan Lion dan menunggu-nunggu penayangannya di Indonesia.
Lalu apa yang terjadi setelah saya setelah menonton film ini? Lucunya, perhatian saya justru tidak pada keduanya, meski mereka bermain sangat bagus (bahkan keduanya sama-sama masuk nominasi Oscar untuk pemeran pembantu terbaik). Saya justru terkesan pada Sunny Pawar, aktor cilik yang berperan sebagai Saroo kecil. Dia bermain sangat alami. Gesturnya, ekspresinya, nada suaranya sangat cemerlang. Dia membuat saya terkesima sejak menit pertama film, dan terus mencari kehadirannya lewat kilas balik memori Saroo dewasa. Saya jatuh cinta pada Sunny Pawar, dan tiba-tiba merasa yakin dia akan menjadi aktor besar suatu saat nanti.

Emosi
Apa yang paling menarik dari Lion adalah emosi yang berhasil dibangun sutradara sejak menit pertama. Emosi itu tidak dibangun melalui kata-kata atau peristiwa yang meledak-ledak. Emosi itu dibangun dalam keheningan. Dalam gestur Saroo yang kesepian, tindakan anak jalanan yang memberi kardus untuk alas tidur Saroo atau saat ketika Saroo menemukan sebuah sendok di tempat pembuangan sampah, kemudian mencoba meniru gaya makan orang-orang di kafe dengan sendok itu. Semua emosi berjalan dalam hening, tapi justru itulah yang membuatnya kuat dan menyesakkan.
Semua bagian dari film Lion, mulai dari para pemerannya, lanskap, percakapan, sampai plot peristiwa terasa sangat terikat. Kalaupun ada bagian yang terasa kurang pas dalam film ini, maka itu adalah bagian kekasih Saroo, Lucy (Rooney Mara), yang kehadirannya terasa dipaksakan. Meski begitu, tidak mengurangi nilai film.
Saya memberi nilai 4 dari 5 bintang untuk film yang diangkat dari kisah nyata Saroo Brierley ini. **

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.