Merayakan Hari Buku Sedunia: Ini Dia Lima Kutipan Puisi Favorit Saya

Saya suka membaca puisi. Membaca saja ya, nggak mendeklamasikan di depan orang banyak. Dulu waktu SMA saya cukup suka berdeklamasi, tapi makin lama kesukaan itu makin berkurang. Dan sekarang, kalau diminta membacakan puisi saya selalu bilang, “terima kasih, tapi maaf, yang lain saja deh. Saya jadi tukang tepuk tangan saja.”

Saya suka membeli buku-buku puisi, saya punya rak yang khusus menyimpan buku-buku tersebut. Menurut saya, puisi adalah puncak sastra. Bagaimana sebuah ide atau pemikiran dikatakan hanya dalam beberapa kalimat saja itu butuh kecerdasan yang tinggi. Para penyair adalah seniman kata dengan IQ di atas rata-rata. Mereka mungkin tampak kalem di luar, tapi ketika sudah disuruh menulis … wahaaa meledaklah semua isi kepalanya.

Okeh, saya punya banyak puisi-puisi favorit. Beberapa puisi M. Aan Mansyur saya sangat suka. Saya suka bagaimana cara Aan memadukan hal-hal yang sepertinya tidak berhubungan atau paradoks dalam kalimat-kalimatnya dan jadinya sangat estetik. Saya juga suka cara penyair Esha Tegar Putra mengungkapkan sesuatu. Ada satu puisinya yang saya sangat suka, dan kutipannya saya hapal sampai sekarang, yaitu ‘rumah adalah hati yang disayat bilah’. Makna selarik sajak ini dalam sekali. Ngilu-ngilu saya membacanya.

Meskipun punya banyak puisi favorit, tapi saya cuma akan menaruh lima kutipan di sini, lainnya mungkin kapan-kapan ya (antriiii).

Nah, inilah lima kutipan puisi tersebut.

  1. Puisi Adimas Immanuel

Adimas Immanuel merupakan penyair yang karyanya masuk penghargaan sastra Khatulistiwa Literary Award yang keempat belas. Saya suka puisi-puisinya yang jernih, terasa jujur dan cenderung relijius.

2. Puisi Raudal Tanjung Banua

Saya suka pada ledakan-ledakan yang ada dalam hampir semua puisi Raudal Tanjung Banua. Ada sesuatu yang menggigil sekaligus menggigit dalam setiap baris puisinya.

3. Penyair Afrizal Malna

Afrizal Malna punya gaya penulisan puisi yang sangat unik. Kadang puisinya sedikit prosais. Sesuatu yang lugu dan kekanak-kanakan sering saya temukan dalam puisi-puisinya. Menurut saya,  cuma Afrizal Malna seorang yang mampu membacakan puisi-puisinya dengan pas. Saya belum menemukanada yang bisa melakukannya setara atau lebih baik dari dia.

4. Riki Dhamparan Putra

Sama seperti puisi-puisi Raudal Tanjung Banua, saya juga menemukan ledakan-ledakan di hampir setiap larik sajaknya. Saya suka membaca ulang puisi-puisinya di kala senggang.

5. Joko Pinurbo

Puisi-puisi Joko Pinurbo sangat unik. Kadang puisi-puisinya terdiri atas bait-bait yang dipisah tanda bintang, seakan-akan dia menulisnya di waktu yang berbeda dengan jenis emosi yang berbeda-beda pula.

 

 

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.