Kartini: Interpretasi Hanung dan Kekuatan Sinematografi

“Apakah kamu mau menjadi Raden Ayu?”

Kalimat pembuka ini menghentak kisah Kartini garapan sutradara Hanung Bramantyo yang sedang tayang di bioskop-bioskop Indonesia. Kartini, seorang perempuan ningrat Jawa, putri Bupati Jepara, disebut-sebut sebagai tokoh emansipasi wanita pada masanya. Terlepas dari segala kontoversi mengenai siapa sesungguhnya pejuang perempuan Indonesia yang lebih layak menyandang gelar itu, Kartini, Rahmah El Yunusiyah, Cut Njak Dien atau Dewi Sartika, harus diakui, spirit kehidupan Kartini sangat menarik untuk dibaca dan dibahas. Pemikiran-pemikirannya brilian. Cita-citanya tinggi. Dan, suka atau tidak, dia adalah perempuan Jawa ningrat pertama yang mendapat beasiswa ke Belanda, sesuatu yang dianggap tabu pada masanya. Hanung Bramantyo menggarap kisah perempuan yang akrab dipanggil Trinil itu dengan kualitas sinematografi mengagumkan.

 

Film Kartini digarap dengan plot flashback alias putar balik. Diawali dengan adegan Kartini (diperankan dengan baik oleh Dian Sastrowardoyo) ditanya oleh ayahnya, Bupati Sosroningrat (diperankan aktor kawakan Deddy Sutomo) apakah ia bersedia menjadi Raden Ayu, sebuah gelar yang diberikan untuk perempuan ningrat yang menikah dengan lelaki bangsawan atau pemimpin. Menjadi Raden Ayu, dalam tradisi Jawa kala itu, bisa dibilang semacam keharusan. Dalam Biografi Kartini yang ditulis Siti Soemandari, Kartini pernah menulis percakapannya dengan RM Slamet, kakak lelakinya sebagai berikut:

“Akan menjadi apakah aku setelah besar?”

Dijawab oleh sang kakak, “Ingin jadi apa? Anak perempuan tentu jadi Raden Ayu.”

Raden Ayu ibarat sesuatu yang taken for granted bagi perempuan ningrat. Mereka ibarat paspor laki-laki yang ingin naik pangkat jadi adipati. Cuma yang beristrikan seorang perempuan ningrat sajalah yang diberi jabatan itu. Meski seorang lelaki sudah jadi wedana selama bertahun-tahun dan cemerlang, pun sudah memiliki beberapa istri, tapi, selama belum memperistri seorang ningrat, dia belum bisa jadi bupati. Inilah nasib yang menanti Kartini di depan mata, yang terus mencemaskannya selama bertahun-tahun.

Apa yang terjadi setelah Kartini menerima pertanyaan soal menjadi Raden Ayu itu? Baru kita ketahui belakangan, menjelang film usai. Adegan kemudian beralih ke masa Kartini kecil ketika ia dipisahkan dari ibunya yang harus tinggal di rumah belakang karena sang ibu hanya selir (garwa ampil), sementara Kartini adalah seorang Ndoro Ayu, sebab mewarisi darah bansawan dari ayahnya. Di rumah depan, Kartini tinggal bersama semua kakak dan raden ayu ayahnya, RA Moeriam (diperankan Djenar Maesa Ayu). Kartini lalu masuk ke dalam pingitan dan–sesuai tradisi–baru boleh keluar bila ada laki-laki yang melamar.

Namun, Kartini memberontak dari semua tradisi itu. Kakak lelakinya yang lain, Kartono (diperankan Reza Rahardian), memberi Kartini semua buku-bukunya sehingga Kartini bisa berkenalan dengan pemikiran-pemikiran Eropa. Ia mulai membandingkan kehidupan perempuan Eropa dengan Jawa. Ia iri melihat betapa bebasnya perempuan Eropa menjadi dirinya sendiri, sementara ia tidak bisa. Muncullah pemberontakannya. Mulanya ia melawan diam-diam melalui surat-surat, lalu mulai bertindak. Ia berkenalan dengan tamu-tamu Belanda ayahnya, berhasil membuat ayahnya mengizinkan dia bertamu ke rumah sahabat Belanda mereka, keluarga Ovink Soer, kemudian menulis di jurnal dalam bahasa Belanda, dan akhirnya, bepergian hingga jauh ke Semarang bersama dua adiknya, Kardinah dan Roekmini. Apa yang dilakukan para putri kadipaten ini bukan hal lazim di masanya, sehingga mereka jadi cibiran masyarakat, namun di sisi lain, mengesankan semua orang Belanda di Jawa pada masa itu. Dan inilah yang membuat mereka terkenal dan jadi pembicaraan.

Film Kartini garapan Hanung ini digarap sangat mengesankan. Kekuatan sinematografinya sangat menonjol. Rangkaian adegan, gambar, musik, menyatu begitu padu. Membentot perhatian sejak awal.

Meski begitu, ada beberapa hal yang patut dikritisi dalam film ini. Pertama soal fakta. Dalam tahun-tahun terakhir hidup Kartini, peran J.H Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda bisa dibilang cukup besar. Bahkan, dialah yang berperan membujuk Kartini membatalkan keinginannya kuliah ke Belanda, namun, dalam film ini, yang berperan justru Ngasirah, ibu Kartini, peran Abendanon pun tak tampak, ia hanya hadir selintas lalu. Saya pikir, mereinterpretasi sejarah boleh saja, tapi tidak dengan mengubah faktanya. Dalam film juga tidak tampak bagaimana Kartini yang njawa bisa berbahasa Belanda. Tiba-tiba saja muncul adegan dia bisa membaca dan bercakap-cakap dalam bahasa Belanda. Bagi penonton yang belum pernah membaca riwayat hidup Kartini, tentu ini agak sedikit membingungkan.

Terlepas dari semua hal di atas, film Kartini besutan Hanung ini masuk kategori recommended. Hanung cukup berhasil mereinterpretasi ulang kisah Kartini. Perempuan yang kemudian memberikan beasiswanya pada H. Agus Salim ini digambarkan bukan sebatas perempuan yang memberontak dari kungkungan feodalisme saja, tapi juga suka belajar, berpikiran terbuka dan mengayomi masyarakat dan sangat menyayangi kedua orang tuanya. FIlm ini layak dipilih jadi tontonan akhir pekan bersama teman-teman dan keluarga.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.