10 Hal Tentang Kartini yang Kamu Nggak Tahu

Layaknya hidup kita yang tersusun atas keping-keping momen, hidup Kartini, perempuan yang dikukuhkan sebagai pejuang emansipasi wanita Indonesia oleh pemerintah itu juga terdiri atas banyak keping momen. Apa saja itu? Hayuk cekidot.

  1. Ayah Kartini,Raden Mas Ario Adipati Sosroningrat, adalah seorang adipati yang progresif. Dia termasuk adipati pertama yang menyekolahkan semua anaknya, termasuk yang perempuan, ke Europese Lagere School (ELS). Di situ semua anaknya belajar bahasa Belanda sampai fasih. Nggak heran kalau Kartini bisa membaca dan menulis surat dalam bahasa Belanda.
  2. Kartini mulai memikirkan tujuan hidup perempuan Jawa ketika ia bercakap-cakap dengan Letsy, teman di ELS-nya. Letsy bertanya pada Kartini akan jadi apa setelah besar, karena Letsy sendiri mau menjadi guru. Dari sini Kartini mulai mencari tahu perempuan Jawa sebenarnya akan menjadi apa ketika besar.
  3. Ayah Kartini berlangganan leestrommel (kotak baca yang berisi aneka bacaan dari toko buku), jadi Kartini dan saudara-saudaranya bisa mendapat pengetahuan yang lebih banyak mengenai dunia luar Hmm … terbukti kan ya, anak cerdas datang dari orang tua yang rutin menyediakan bacaan untuk anak-anaknya. (Catet)
  4. Sesuai tradisi Jawa, Kartini masuk pingitan setelah mendapat haid pertamanya. Kartini masuk pingitan pada usia 12 tahun. Biasanya, perempuan Jawa baru boleh keluar pingitan kalau sudah ada lelaki yang melamarnya, namun, ayah Kartini mendobrak aturan itu. Ia membawa Kartini dan adik-adiknya ke luar saat usia mereka masih 16 tahun dan belum menikah. Banyak orang yang mencibiri sang adipati, namun ya … seperti yang kita ketahui, ia nggak peduli. Bahkan kemudian ia membawa ketiga putrinya ini ke daerah yang lebih jauh, Semarang, menghadiri pertemuan dengan para pembesar Belanda. Wajar sih Kartini dan dua adiknya, Kardinah dan Roekmini jadi perempuan berpikiran progresif untuk masanya. Mereka punya ayah yang progresif sih. Nah, ini bukti satu lagi, bagaimana anak, seperti itulah orang tuanya. Jadi kalau ingin punya anak visioner, sebagai orang tua kita juga mesti visioner karena guru pertama anak adalah orang tua.
  5. Kakek Kartini, Pangeran Ario Tjondronegoro (ayah Adipati Sosroningrat) adalah bangsawan Jawa yang sangat progresif dan disebut-sebut sebagai bangsawan Jawa yang memiliki semangat pembaharu. Dia adalah bangsawan Jawa pertama yang memasukkan seluruh anak-anaknya, laki dan perempuan, ke sekolah barat. Dia juga seorang penulis yang dikagumi oleh orang Belanda. Kartini sendiri sangat mengagumi kakeknya. Dia sangat meneladani semangat sang kakek.
  6. Kartini punya kakak bernama RM Sosrokartono yang kuliah di Belanda. Dia termasuk orang Indonesia pertama yang kuliah di sana. Karena kecerdasan dan sikap charmingnya, Kartono sangat populer di Belanda dan disebut-sebut sebagai Pangeran dari Jawa. Ia menguasai 26 bahasa asing (W-O-W). Selama Perang Dunia I dia sempat menjadi wartawan untuk New York Herald. Suatu kali ia pernah mengobati seorang anak yang dokter pun sudah angkat tangan mengobati penyakitnya. Peristiwa itu membalikkan hidup Kartono. Akhirnya dia menghabiskan hidupnya menjadi penyembuh orang sakit di Indonesia (Woa, ini keren banget kalau difilmkan. Reza Rahadian cocok banget neeh jadi Kartono)
  7. Sejak kecil Kartini sudah bersahabat dengan orang-orang Belanda teman ayahnya. Misalnya Nyonya Marie Ovink Soer, istri asisten residen Jepara. Kartini dan adik-adiknya memanggilnya dengan sebutan Moedertje, alias ibu sayang. Mereka kerap menghabiska hari libur dengan bermain piano bersama-sama.
  8. Kartini bukan hanya menulis surat untuk teman-temannya, tapi juga menulis artikel untuk koran dan majalah seperti De Locomotief dan majalah De Hollandsce Lellie. Hmm, bagaimana denganmu. Mudah-mudahan nggak cuma nulis status facebook ajah
  9. Kartini berhasil mendapatkan beasiswa ke Belanda atas perjuangan Mr. Van Kol, seorang anggota parlemen Belanda yang membawa permohonan beasiswa Kartini ke arena politik. Pada saat itu, orang Belanda sedang heboh dengan Politik Etisnya Max Havelaar. Untuk menunjukkan bahwa Belanda juga memperhatikan daerah jajahannya, maka dibuatlah program beasiswa untuk anak-anak berbakat di Hindia Belanda. Kartini terpilih berkat tulisan-tulisannya di media yang menuai perhatian ribuan pembaca. Tuh kan. Kalau kamu mau dapat beasiswa ke luar negeri, nulis dong, kan bisa jadi portofolio kayak yang terjadi pada Kartini.
  10. Kartini membatalkan beasiswanya setelah percakapan yang dilakukan dengan Mr. JH Abendanon di pantai Klein Scheveningen (dikenal juga sebagai Pantai Bandengan). Kartini sangat dekat dengan keluarga Menteri Kebudayaan, Seni dan Agama untuk Hindia Belanda itu. Namun, meski Kartini sendiri yang membatalkan beasiswa tersebut, ia tetap terluka, dan hal itu tampak dari surat-suratnya selama setahun berikutnya. Tiga hari setelah melahirkan putra satu-satunya RM Soesalit, Kartini lalu meninggal. Ada yang menduga Mr. Abendanon merasa bersalah karena telah membuat Kartini membatalkan beasiswanya. Perasaan inilah yang membuat dia mengumpulkan semua surat Kartini pada sahabat-sahabatnya, dan membukukannya dengan judul Door Duisternis Tot Licht. Buku itu langsung habis di minggu pertama peredarannya, dan menjelang bulan pertama peredarannya berakhir, buku itu sudah naik cetakan ketiga.

sumber: Biografi Kartini karya Siti Soemandari Soerotoe

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.