Pernikahan Adalah …

  • Bahkan mereka yang sudah menikah lebih dari 50 tahun belum tentu bisa merumuskan arti pernikahan, sebab, hal paling indah di dunia biasanya tidak bisa didefinisikan.

Dalam The Perfect Marriage, Kate Kerrigan menggambarkan dua kisah pernikahan yang saling bertolak belakang. Pertama, kisah pernikahan sang nenek yang tanpa cinta, dan kedua, kisah pernikahan sang cucu yang diawali hasrat menggebu, lalu perlahan padam seiring waktu. Pertanyaan mengenai apa itu pernikahan membentang sepanjang cerita. Kenyataan bertabrakan dengan definisi klasik pernikahan: pertemuan dua orang yang berkomitmen untuk hidup bersama, melayani kebutuhan satu sama lain hingga akhir hayat.

Bagaimana kalau ternyata pernikahan itu tanpa cinta seperti yang dialami sang nenek. Bagaimana kalau ternyata komitmen itu perlahan memudar begitu suami atau istri mengetahui seperti apa pasangan hidupnya? Masihkah hubungan pernikahan yang dijalankan secara terpaksa tetap bernama pernikahan? Apakah hubungan yang seharusnya membawa orang-orangnya ke dunia baru tempat mereka menjadi diri yang baru, masih disebut pernikahan bila kemudian salah satunya menolak untuk berubah? Secara formal tentu saja itu bernama pernikahan, tapi secara batiniah? Bila kedua pihak (suami dan istri) terus hidup bersama luka terhadap satu sama lain selama bertahun-tahun yang akhirnya membuat hubungan berada antara ada dan tiada, masihkah hubungan itu layak diteruskan?

Hidup itu kompleks, apalagi pernikahan. Benar, pernikahan bertujuan untuk ibadah, tapi, masihkah pernikahan menjadi ibadah jika membawa kesengsaraan? Bukankah pernikahan baru bernilai ibadah jika kedua belah pihak sama-sama berusaha untuk saling mendengarkan, melayani dan membahagiakan kebutuhan satu sama lain? Sekali lagi, hidup itu kompleks. Bila pernikahan kita, orang tua atau teman-teman kita baik-baik saja, belum tentu pernikahan orang lain juga demikian. Sesuatu yang tidak kita alami, belum tentu tidak terjadi. Hidup setiap orang tidak sama, dan dengan demikian, pandangan A terhadap sebuah pernikahan, tidak bisa dipaksakan pada B yang sifat, sikap dan pengalaman hidupnya jauh berbeda dari A.

14 tahun lalu, saat saya belum menikah, saya mendapat cerita dari seorang murobbi mengenai seorang muslimah yang ditampar suaminya. “Kenapa ditampar?” tanya saya, “karena dia bercarut (berkata kotor) pada suaminya,” jawab sang murobbi. Apa yang terjadi? cecar saya. Megapa sang muslimah sampai berkata seperti itu? Ternyata masalahnya kompleks. Sang muslimah ini tidak tahan dengan perlakuan suaminya, hingga di puncak amarahnya ia tak bisa menguasai diri. Saat sang murobbi menceritakan hal itu, pasangan ini sedang dalam proses berpisah, “padahal mereka belum lama menikah,” kata sang murobbi menyayangkan. Saya terhenyak saat itu. Pernikahan ternyata tidak sesimpel yang saya pikirkan. Bertemu, menikah, menjalani hidup bersama sampai tua. Pernikahan itu sangat kompleks, sebab bukan hanya melibatkan dua orang, tapi juga banyak orang, mulai dari orang tua, kakak adik, ipar, sepupu sampai teman-teman. Pernikahan juga melibatkan sifat dan sikap mental orang-orang yang terlibat. See? Pernikahan itu sangat kompleks.

Selama bertahun-tahun ini saya menjadi tempat curhat banyak orang soal pernikahan. Ada istri yang menderita karena suaminya suka jajan. Ada istri yang dipaksa meninggalkan rumah, dan di saat yang sama, tidak boleh membawa anaknya turut serta. Bertahun-tahun dia memendam kerinduan dan kesedihan pada sang anak yang tidak boleh ia jumpai. Ada istri yang harus menghidupi anak-anaknya seorang diri, sementara suami nun jauh di rantau sangat jarang mengirimkan uang, karena hidupnya pun susah di situ. Ada suami yang menderita kekerasan fisik dan mental dari istrinya, lalu terpaksa bertahan demi anak-anaknya. Banyak pernikahan yang menderita di luar sana. Penyebabnya tidak sesimpel: karena suami gagal membuat visi keluarga atau karena suami gagal mendidik istri, atau karena istri gagal menjadi salehah, dan yang semacamnya. Penyebabnya kompleks, dan untuk merunutnya, kita harus mengetahui latar belakang serta sifat masing-masing pihak dalam rumah tangga itu.

Apa yang membuat sebuah pernikahan gagal? Apa pula yang membuatnya berhasil? Saya tidak tahu rumusnya. Tapi, kalau saya bisa mengambil pelajaran dari novel Kate Kerrigan di atas, mungkin rumusnya ini: komitmen. Pernikahan bisa berhasil bila kedua belah pihak, suami dan istri, sama-sama memegang teguh komitmen pernikahannya. Kamu cinta pada seseorang lalu menikahinya? Bagus. Tapi cinta bisa pudar setelah kamu melihat semua kekurangannya. Kamu tidak mencintai seseorang, tapi keadaan membuatmu terpaksa menikahinya? Itu juga bagus, karena cinta bisa datang setelah kamu melihat semua kelebihannya. Dalam novel Kerrigan, kasus pertama dialami oleh sang cucu, sementara kasus kedua dialami sang nenek. Alkisah, sang nenek yang bertekad tidak pernah ingin mencintai laki-laki yang dijodohkan padanya, tiba-tiba menyadari dengan sepenuh-penuhnya bahwa ia mencintai suaminya–ironisnya–setelah sang suami meninggal di pelukannya. Selama puluhan tahun ia menolak romantisme sang suami, karena dendam pada kenyataan yang membuat dia tidak bisa menikahi kekasih masa mudanya. Ia menyesal. Dan, meski puluhan kali ia mengatakan ‘aku cinta padamu’ di telinga sang suami, toh itu tak bisa mengembalikan nyawa suaminya. Sementara sang cucu yang mulanya begitu cinta pada sang suami, mendadak membencinya dan ingin meninggalkannya. Sang suami tidak seperti yang ia pikirkan sebelumnya, meski suaminya adalah lelaki yang sangat baik dan setia. Dia ingin pergi dan hidup sendiri. Kalau perlu, menemukan orang lain yang lebih tepat. Ia baru merasa ditonjok ketika teman suaminya berkata, “kamu sudah memilihnya.” Ya, dia sudah memilih seorang laki-laki dengan kesadarannya sendiri, untuk menjadi suaminya. Dia sudah berkomitmen. Bukankah kesediaan berkomitmen adalah tanda kedewasaan? Dia membaca tuntas buku harian neneknya lalu sampai pada satu kesimpulan: hal-hal terindah dalam pernikahan tidak ditandai dari seberapa banyak dan mahal benda yang bisa dibeli, atau dari seberapa jauh tujuan liburan keluarga. Hal-hal terindah dalam pernikahan justru datang dari hal-hal sederhana: minum teh bersama, bicara hal-hal konyol tentang diri kita, berbagi kenangan masa kecil, membersihkan rumah, menyiapkan makanan, menunggui istri belanja sampai lumutan, menaruh kembali sepatu suami di tempatnya semula, dan yang semacamnya. Itulah hal-hal kecil yang menyusun pernikahan kita. Jika kita tidak bisa menikmatinya, maka tak ada apapun lagi yang bisa kita nikmati dalam pernikahan itu.

Pernikahan sejatinya tentang momen-momen yang kita bagi bersama. Kesedihan, kesepian, kegembiraan, kesenangan, kepahitan. Apa yang tidak mampu menjatuhkanmu, akan menguatkanmu. Jika pahit manis hidup tidak mampu menamatkan sebuah pernikahan, maka itu akan menjadi perekat. Sesuatu yang membuat pernikahan lebih kuat.

Jadi, apa itu pernikahan?

Pernikahan adalah … (masih) sesuatu yang tidak bisa didefinisikan, sebab, hal-hal paling indah di dunia tidak bisa diungkapkan, hanya mampu dirasakan.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.