Jurnal Ramadan untuk Anak (free pdf)

Ramadan hampir datang. Yeay. It’s almost here. Saatnya bersiap menyambut bulan suci ini. Bugarkan fisik, siapkan mental dan mari menyusun kegiatan bermanfaat untuk mengisinya. Semoga latihan keras selama sebulan untuk menjadikan kita muslim yang tahan banting, bisa berbekas ke 11 bulan berikutnya.

Untuk menyambut Ramadan tahun ini, saya menyiapkan Jurnal Ramadan untuk bekal anak-anak saya menghadapinya. Masing-masing mereka akan mendapatkan satu jurnal (termasuk si kecil yang baru pandai menulis huruf ^_^ ). Tujuan Jurnal Ramadan ini adalah untuk membuat anak-anak lebih termotivasi melakukan hal-hal keren selama bulan Ramadan. Orang tua bisa memberi reward untuk anak selepas Ramadan. Reward ini bertujuan sebagai tanda syukur karena Allah telah memudahkan anak-anak melalui Ramadan dengan baik, dan sebagai ungkapan sayang kepada mereka. Sebagian orang tidak mau memberi reward pada anaknya karena takut anak beribadah karena mengharap imbalan. Tetapi, saya pikir ini ketakutan yang terlalu berlebihan ya. Orang tua memandang anak-anak dari kaca mata orang dewasa. Coba pandang dari kaca mata anak-anak, atau coba ingat bagaimana kita saat masih kecil dulu. Kita dulu suka kan kalau orang tua memberi sesuatu yang menyenangkan untuk kita. Hal-hal menyenangkan ini akan memberi kesan positif tentang bulan Ramadan ke dalam diri anak-anak. Jika semua kenangan mereka tentang bulan puasa adalah positif, maka di tahun-tahun berikutnya, mereka akan selalu bahagia menyongsong Ramadan. Jadi, niat memberi reward adalah untuk menanamkan perasaan bahagia saat Ramadan. Rasululah sendiri menganjurkan kita untuk saling memberi hadiah karena itu bisa mempererat hubungan dan kasih sayang. Nah, mengapa kita tidak melakukannya untuk anak-anak kita?

Saya selalu memberi reward untuk anak-anak selepas Ramadan. Tetapi, biasanya di hari-hari puasa mereka tidak memikirkan reward itu, sebab, mereka disibukkan aneka kegiatan yang kami rancang bersama. Saya selalu menyusun kalender kegiatan Ramadan buat ketiga putri saya. Jadi, kami selalu punya kegiatan pasti setiap hari. Beberapa contohnya adalah belajar memasak resep baru (tahun lalu anak-anak belajar membuat pizza dan roti bersama teman-temannya di rumah kami), membuat aneka craft, mendengar cerita-cerita dalam sejarah Islam yang mengasyikkan, dan malamnya, pergi tarawih bersama teman-teman. Itu semua menyenangkan bagi mereka. Saya tidak pernah memaksa mereka untuk puasa seharian. Kalau mereka tidak sanggup ya tidak apa-apa. Yang terpenting itu bukan apakah mereka sanggup puasa sampai magrib, yang penting itu mereka suka apa tidak melakukannya? kalau anak ‘dipaksa’ dengan ucapan-ucapan yang orang tua pikir bisa memotivasi, seperti “eh ayo puasa sampai magrib supaya dapat pahala” (bagi anak-anak, konsep pahala masih abstrak), atau “eh, malu kan sama si anu dan si itu yang udah puasa sampai magrib”, dan lainnya, terkadang puasa tidak lagi menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak-anak. Takutnya mereka puasa karena sekadar untuk memenuhi kewajiban saja, atau karena ya, sekarang Ramadan, ya puasalah. Mereka jadi kurang memaknai Ramadan. Tetapi, kalau orang tua menunjukkan bagaimana mereka menjalankan puasa dengan baik dan tanpa keluhan sampai magrib, bahkan terus beraktivitas, lalu, orang tua menunjukkan pemahaman dan kasih sayang setiap kali anak mengatakan tidak sanggup puasa sampai sore (dan bukannya memarahi), maka anak akan merasa diterima. Penerimaan dan cinta adalah motivasi terbesar seorang anak untuk menyelesaikan puasanya. Efek jangka panjangnya, mereka akan bahagia setiap kali Ramadan datang. Alhamdulillah, dengan cara begitu, putri pertama saya (11 th), penuh selalu puasanya sejak usianya 8 tahun. Tidak penuh pun sebenarnya tak apa-apa bagi saya, karena dia belum akil baligh, dalam Islam dia belum mukallaf.

Ada hal lain yang saya lakukan setiap hari Ramadan, yakni memberi bintang untuk setiap kegiatan seru dan bermanfaat yang mereka lakukan. Ini kebahagiaan yang lain lagi bagi mereka. Nanti, bintang-bintang itu akan dikumpulkan di akhir Ramadan, dan bisa ditukarkan dengan buku cerita baru. Ini adalah reward dan rasa syukur saya karena mereka tetap beraktivitas normal saat bulan Ramadan. Rewardnya sengaja saya pilih buku karena menurut saya, buku adalah reward yang sangat layak. Ini akan terus membuat mereka termotivasi untuk mempelajari sesuatu yang baru.

Nah, berikut ini Jurnal Ramadan 2017 yang saya susun untuk anak-anak saya. Saya bagi di sini untuk Anda semua. Boleh diperbanyak untuk tujuan pendidikan (tidak dikomersilkan). Jika ingin menyebarluaskan jurnal ini, tolong disertai link blog ini ya. Terima kasih.

SIlakan unduh Jurnal Ramadannya di sini

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.