Setelah 22 Tahun Saya Kembali ke Tempat Itu (bag. 1)

Tanggal 8 Mei lalu saya membawa anak-anak ke desa tempat saya dulu dibesarkan. Saya ingin menunjukkan kepada mereka betapa menyenangkannya kehidupan masa kecil saya. Saat itu masa sekolah sangat pendek (Senin-Kamis saya pulang pukul 12.30 WIB, dan kalau hari Jumat-Sabtu pulangnya pukul 11.00 WIB). Selepas sekolah saya bermain sampai sore. Saya dibebaskan oleh orang tua mengeksplorasi desa tempat saya tinggal. Saya banyak membaca, bermain di sawah, bermain tanah liat, naik turun bukit, membantu teman menunggui sawahnya, dan lain sebagainya. Saking menyenangkannya masa kecil saya, saya bahkan tidak mengingat bagaimana persekolahan saya dulu (kalaupun ada bagian yang saya ingat, maka itu adalah bagian ketika saya dipukul guru dengan rol kayu keras-keras).
Suasana sekolah dulu sungguh berbeda dengan sekarang. Sekarang anak-anak pulang sore, mesti bimbel ini itu segala. Mereka tak punya kesempatan bahkan untuk lebih mengenal lingkungannya dan teman-teman sekitar rumahnya. Kadang saya cemas juga anak-anak sekarang tumbuh menjadi orang yang kurang berakar di tempat tinggal mereka sendiri. Sekolahnya jauh dari rumah, pulang sore dalam keadaan capek, lalu setiba di rumah pengennya istirahat sambil nonton tv. Ya, kasihan.

 

Ini adalah jalan menuju komplek perumahan saya. Di sini tinggal tentara dari berbagai daerah di Indonesia dan ada beragam agama di sini. Lingkungan di sini sangat multikultural. Kami hidup bahagia dalam suasana toleransi yang tinggi

Balik ke perjalanan saya. Saya sudah sering menceritakan masa kecil saya ke anak-anak, sekarang saatnya membawa mereka langsung ke TKP masa kecil saya. Maka, berangkatlah kami semua ke situ setelah salat Asar.
Dulu saya tinggal di Kompleks Perumahan Tentara Kompi Senapan C, Desa Purwajaya, Kab. 50 Kota. Kompleks ini merupakan bagian dari Batalion 131 Brajasakti yang terletak di Tiakar, Payakumbuh. Ya, ayah saya memang seorang tentara. Sebelumnya kami tinggal di kompleks perumahan Batalion 133 Yudhasakti yang dulu masih di Padangpanjang (sekarang sudah pindah ke Air Tawar, Padang). Tahun 1985 ayah saya dipindahkan ke Batalion Brajasakti, dan setahun setelahnya, saya ikut pindah.

Ini kantor Kompi Senapan C. Setelah 22 tahun tidak ada perubahan bentuk dan warna (yah mana tahu aja ada niat mengecatnya jadi pink gitu haghaghag). Saya sering main ke sini tiap kali ayah saya dapat giliran piket

Saya ingat dulu sangat ‘excited’ pindah ke Desa Purwajaya itu. Baru datang saja saya sudah mengeksplorasi lingkungan sekitar rumah. Saya sangat takjub melihat hamparan sawah dan sungai di sekitar kompleks perumahan. Rasanya seperti menemukan daerah petualangan baru. Baru datang, dengan cepat saya menemukan teman yang alhamdulillah terus menjadi teman saya hingga hari ini. Bedanya dia dengan saya adalah, dia menikah dengan tentara, sementara saya tidak ^_^.

Rumah kami dulu. Sekarang kosong. Setiap tentara yang menikah akan mendapat satu rumah sendiri. Ukurannya sesuai pangkat. Karena ayah saya dulu bintara, maka ia mendapat rumah tipe 40 dengan dua kamar. Yang di bawahnya mendapat rumah tipe 36 (atau 38 ya) dengan dua kamar. Untuk golongan perwira rumahnya lebih besar dengan tiga kamar. Tentara yang belum menikah tinggal di barak-barak. Kami menyebutnya barak remaja. Setiap pagi para tentara ini akan apel dan latihan fisik. Yah, maklum jadinya kalau mereka pada sixpack. Haisssh …

Masa kecil saya dihabiskan dengan menjelajah. Saya dan teman-teman sering mencari tanah liat untuk dibuat jadi peralatan makan. Kami juga sering bermain di sungai yang masyallah banyak sekali lintahnya, tapi kami cuek saja berenang bersama lintah-lintah itu. Hwadoh. Saya juga sering mencari buah kalimuntiang di bukit. Buah itu seukuran ujung telunjuk, berwarna merah tua bila masak. Rasanya manis dan kerap menjadi makanan burung. Saya nggak tahu apa nama buah ini dalam bahasa Indonesia.

Ini lapangan tembak, tempat latihan menembak tentara batalion. Sekarang sudah dibuldozer untuk dijadikan perumahan. Hikz hikz … Di sini saya dulu mulung selongsong peluru dengan teman-teman

Jalan menuju Komplek Perumahan Kompi Senapan C ternyata sudah diaspal bagus. Dulu masih jalan tanah. Jarak dari gerbang ke kompleks sekitar 1 km. Ternyata bangunannya masih sama seperti dulu. Warna kantor kompinya juga. Saya dulu suka sekali bermain di kantor kompi. Kalau ayah saya lagi piket, saya suka main di situ lama-lama.
Yang mengejutkan bagi saya adalah lapangan di depan barak remajanya. Dulu lapangan itu rasanya luas sekali, sekarang kok kecil ya. O saya ingat, dulu kan saya masih kecil, jadi lapangan itu tampak sangat besar. Dulu lapangan itu jadi tempat main favorit anak-anak kompleks. Saya dan teman-teman suka main patuk lele di situ.
Saya kemudian mengajak anak-anak melihat rumah saya tinggal dulu. Ternyata rumahnya kosong. Saya cerita ke anak-anak kalau dulu sering ditinggal Oma di situ sendirian, soalnya Oma kerja. Ibu saya dulu bekerja sebagai asisten apoteker. Sudah kebiasaan di situ kalau antar tetangga saling menitipkan anak. Alhamdulillah saya tidak pernah merasa jadi anak terlantar karena punya ibu bekerja. Sebaliknya, saya merasa mendapat banyak sekali perhatian dan kasih sayang waktu kecil.

Ini lapangan sepak bola yang terletak di samping lapangan tembak. Tiap sore ada saja yang main bola di sini, dulu. Bukit yang nampak itu adalah arena bermain saya waktu kecil. Saya sering memanjat bukit itu bersama teman-teman meski dilarang. Ibu saya sangat takut saya naik ke sana karena ayah saya pernah ketemu harimau dahan di situ. Pernah suatu kali ibu saya mengejar saya dengan sapu ke lapangan itu dan berteriak agar saya turun. Suara pekikan ibu saya sampai terdengar ke seluruh penjuru komplek :v :v :v
Ibu saya sangat pencemas. Dalam pikirannya, kalau saya naik ke bukit akan segera jadi santapan harimau :v :v :v

Saya juga pergi ke lapangan tempat saya bermain dulu. Menyedihkan, sebagian lapangan sudah dibuldozer untuk perumahan. Dulu bagian yang itu adalah tempat latihan menembak. Setiap kali latihan usai, saya dan teman-teman suka mencari selongsong peluru di sana. Saya biasanya dapat banyak sekali. Saya menjualnya ke pembeli barang bekas dengan harga mahal. Ya, ini juga bagian dari masa kecil saya: peluru, senapan, samurai, pistol. Itu adalah barang-barang yang sering saya lihat dan pegang. Ayah saya selalu mengamankan pelurunya setiap kali terpaksa membawa senapannya pulang.
Sekian dulu laporan perjalanan saya. Lain kali akan saya ceritakan kisah lainnya.

Anak-anak melihat-lihat lapangan tempat saya main dulu saat masih seusia mereka. Waktu saya kecil dulu mana pernah terpikir suatu saat saya akan berdiri di tempat yang sama dalam sosok Maya dewasa, bersama anak-anak saya
Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.