Afi dan Kecerobohan Kita

Pada saat tulisan Afi Nihaya Faradisa, seorang anak SMA cerdas asal Jawa Timur viral di facebook, dan ia dipuja-puja, saya menulis status cukup panjang, yang bila diringkas isinya begini: pujaan yang terlalu berlebihan bisa mematikan potensi seseorang, apalagi seorang remaja yang ghirah belajarnya sedang menanjak. Bersikap biasa-biasalah terhadap penulisnya. Kagum boleh, tapi memujanya jangan. Sebagaimana celaan bisa membunuh (karakter) orang, pujaan juga sama.  Dalam kasus Afi, pujaan yang terlalu, bisa memunculkan dorongan bawah sadarnya untuk terus menerus memunculkan tulisan-tulisan yang dianggap menginspirasi, dan bisa membuat ia tanpa sadar atau tanpa sengaja memberikan semacam ‘fatwa’  atas sesuatu yang sebenarnya belum utuh dijabarkan. Sesuatu yang belum utuh dijelaskan itu bisa diibaratkan benda langit. Itu memang benda langit, tapi untuk menyebut benda langit itu sebagai komet, meteor, asteroid atau yang lainnya, tentu kita perlu melihat dan mengkajinya secara utuh.

Tetapi, perlu saya garis bawahi di sini, dalam KONTEKS menyampaikan pendapat, Afi tidak salah. Dia adalah anak cerdas yang menurut saya sangat potensial untuk membangun Indonesia di masa depan. Ada adagium yang menyatakan today a reader, tomorrow a leader, dan Afi, saya lihat dengan pemikiran-pemikiran yang cenderung agak lebih maju dari anak-anak seusianya, dengan kemampuan bernalar yang baik, kemampuan menulis yang-suka atau tidak, harus diakui-cenderung lebih baik dari rata-rata anak sekolahan Indonesia (terbukti dengan ia mampu menyatakan sesuatu yang dimengerti orang), dan bacaan-bacaan yang bagus, potensial untuk menjadi seorang leader. Di saat banyak anak-anak sekolahan Indonesia yang ketika diminta mengacungkan tangan untuk menyatakan pendapat saja banyak yang tidak berani, Afi bisa dikatakan istimewa. Terlepas dari semua kontroversi yang menyertai isi tulisannya.

Lalu yang salah siapa? Ya kita-kita ini. Para pemuja dan pencela yang begitu keterlaluan. Kelewatan memuji dan mencelanya sehingga bikin caption macam-macam di media sosial. Kalau dilihat-lihat dari tebaran caption orang akan status Afi di medsos, saya bisa menyimpulkan kalau para pembagi status Afi ini terdiri atas tiga bagian, pertama: mereka yang memang sepikiran dengan Afi, tapi karena nggak ketemu ide mengenai bagaimana menuliskannya secara tajam di status, maka begitu ketemu tulisan Afi langsung dengan gegap gempita membaginya. Kedua, mereka yang sepertinya menjadikan kegiatan membaca buku, terutama buku-buku tentang agama (atau pemikiran keagamaan) tidak menjadi prioritas dalam hidup. Maka, ketika membaca tulisan yang sebenarnya sudah terlalu banyak diulas bahkan secara lebih substantif oleh para pemikir, langsung merasa gimana gitu. Dan ketiga, adalah mereka yang menolak tulisan Afi mati-matian, membaginya dengan caption yang menyudutkan. Jadi, sebenarnya antara pemuja dan pencela sama aja. Sama-sama nggak proporsional.

Sejak dulu saya banyak melihat anak-anak sangat cerdas yang setelah dewasa tak ketahuan lagi jejaknya. Dulu ada anak yang usianya masih tujuh tahunan, sangat pandai ceramah agama, lucu pula. Orang-orang sangat suka mendengar dan melihat dia ceramah. Saking sukanya dibawa kemana-mana, ditampilkan di depan si ini dan si itu, dianggap anak ajaib. Kini? Entah. Saya tidak tahu dia ada di mana. Banyak anak-anak jenius Indonesia, yang muncul dengan beragam kecerdasan, mulai dari public speaking, kemampuan matematis yang luar biasa, daya ingat yang minta ampun dahsyatnya, yang ditampilkan di berbagai media, penuh puji puja, lalu ketika dewasa tak tahu rimbanya. Kadang, ini bikin saya trauma, dan ya, gelisah. Saya sangat suka dengan anak-anak yang cerdas dan sangat sedih ketika orang-orang dewasa ‘menumbangkan’ mereka.

Apa yang harus dilakukan ketika kecerdasan seorang anak muncul? Rawat, ajak dia belajar lebih banyak, sokong dengan berbagai fasilitas. Ibarat kelapa, ia sudah punya pati santan, tapi masih sedikit. Bila kita bersikeras memerasnya untuk mendapatkan santannya, tentu susah. Mungkin kita mendapatkannya di kali pertama, tapi di perasan berikutnya?

 

Untuk Afi, saya cuma ingin bilang apa yang pernah disampaikan Einstein: a person who never made a mistake, never tried anything new

Nah, selamat belajar, selamat mengembangkan dirimu. Tuhan menganugerahimu potensi dengan sebuah tujuan. Be strong, and be good, Afi.

Salam.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.