Gifted: Perseteruan Memperebutkan Anak Jenius

Bagaimana cara menangani anak jenius? Pertanyaan ini mengemuka sepanjang Gifted, film berdurasi 1 jam 40 menit garapan sutradara Marc Webb yang sebelumnya membesut 500 (days) of Summer, The Amazing Spiderman dan The Amazing Spiderman 2. Adalah Mary Adler (diperankan oleh McKenna Grace), bocah jenius berusia 7 tahun yang sudah mengejutkan gurunya. Bonnie (Jenny Slate) di hari pertama sekolahnya. Saat semua teman-temannya sibuk berpikir berapa 1+1, Mary sudah bisa menyelesaikan perkalian ribuan, bahkan kemudian memecahkan soal-soal kuadrat Matematika yang biasanya dikerjakan mahasiswa matematika. Tertarik akan kemampuannya yang luar biasa, sang guru berinisiatif menemukan orang tua Mary, Frank Adler (diperankan Chris Evans). Ia mendapatkan cerita yang luar biasa.

Frank ternyata bukanlah ayah Mary, dia adalah pamannya. Ia melarikan Mary kecil saat ibu Mary yang merupakan kakak kandung Frank, meninggal karena bunuh diri. Frank dan Mary berasal dari keluarga ilmuwan yang sangat terobsesi untuk memecahkan persoalan-persoalan matematika terkini. Kakak kandung Frank yang jenius, dari kecil sudah ditekan sang ibu, Evelyn Adler (diperankan Lindsay Duncan) untuk mempelajari matematika tingkat lanjut agar bisa memecahkan persoalan matematika klasik abad ini. Sedari kecil, kakak Frank sudah belajar bersama profesor-profesor matematika ternama. Ia kehilangan masa kecil dan masa remajanya yang indah. Kakak Frank mendapatkan reputasinya di bidang matematika sekaligus kehilangan hidupnya sendiri. Ia depresi lalu bunuh diri.

Tak ingin Mary bernasib seperti sang ibu, Frank yang merupakan doktor filsafat lalu mengundurkan diri dari pekerjaannya, dan kabur membawa Mary sejauhnya dari obsesi sang nenek. Ia lalu bekerja sebagai teknisi kapal, hidup prihatin di kawasan miskin, dan memlih memasukkan Mary ke sekolah biasa agar ia bisa menikmati masa kanak-kanaknya yang luar biasa. Ia memilih menulikan telinga atas semua saran orang untuk memasukkan Mary yang jenius ke sekolah anak unggul. Ia juga terpaksa berkonfrontasi dengan ibunya untuk merebut hak asuh atas Mary. Baginya, jauh lebih penting seorang anak menjalani hidup seperti kana-kanak umumnya, ketimbang duduk di depan para profesor sepanjang hari untuk memecahkan persoalan-persoalan rumit matematika.

Secara umum, film ini indah dan brilian. Film ini secara tegas mengkritik sikap orang dewasa yang kadang begitu gampang memasukkan anak-anak mereka ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi tanpa mempertimbangkan tingkat kematangan mentalnya. Tingkat kematangan kognitif seorang anak bisa dipercepat melalui berbagai latihan, tetapi, tingkat kematangan mental, biasanya tumbuh seiring usia. Jadi, memasukkan anak jenius berusia 7-12 tahun ke kelas orang dewasa, tanpa sedikit pun ia sempat berinteraksi dengan anak seusianya, hanya akan memicu stres dalam diri seorang anak. Kejeniusan adalah hal lain, sementara masa kanak-kanak adalah juga hal lain. Memiliki anak jenius di kelas profesor mungkin membuat orang tua sangat bangga, tetapi kebanggaan itu toh hanya milik orang tua. Anak-anak yang harus menjalani kehidupan seperti itu permenitnya, bisa jadi tidak menyukainya. Untuk itu, orang dewasa perlu jujur dan berani berlapang hati melongok ke dalam jiwa anak-anaknya.

Inilah pesan yang disampaikan dengan manis oleh Gifted. Sebagai sebuah drama keluarga, film ini bisa dibilang mengesankan. Plot film berjalan cukup rapi. Memang ada hal-hal yang seharusnya bisa digali lebih dalam, seperti karakter, emosi dan konflik keluarga, tetapi secara umum, pesan dalam film ini bisa tersampaikan dengan cukup baik.

*Sudah dimuat Haluan Minggu, 11 Juni 2017

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.