Literasi Keluarga: Menciptakan Pembelajar Sepanjang Hayat

Putri pertama saya baru berusia 3 minggu ketika saya mulai membacakan buku cerita untuk dia. Dia bahkan belum banyak membuka mata kala itu. Itu adalah malam yang mengawali ribuan malam membacakan buku berikutnya. Saya membacakannya kisah-kisah para Nabi dan sahabat, dongeng-dongeng Hans Christian Andersen dan Beatrix Potter, dan kala ia terjaga, saya menunjukkan lembaran buku berwarna cerah. Saat usianya enam bulan mainan favoritnya adalah buku, pada usia enam tahun ia sudah merancang majalahnya sendiri yang hingga sekarang sudah terbit tujuh edisi, dan pada usia 10 tahun dia memenangkan lomba menulis cerita anak tingkat Provinsi Sumatra Barat yang diselenggarakan Dinas Arsip dan Perpustakaan. Kini ia menunggu penerbitan novel perdanannya di salah satu penerbit mayor Indonesia. Setiap hari ia membaca minimal tiga buku. Buku tertebal yang pernah ia baca adalah seri terakhir Harry Potter berjudul Harry Potter and The Deathly Hallows setebal 1000 halaman, dan novel filsafat anak Dunia Sophie setebal 700-an halaman. Dia adalah contoh kongkrit, bagaimana sebuah pendidikan literasi yang dilakukan keluarga, bisa membuat potensi seorang anak mengembang begitu rupa.

 Literasi Usia Dini

 Pentingnya peran keluarga dalam membangun kemampuan literasi anak sudah banyak diteliti oleh para ahli. Diantaranya Lauren Leslie dan Linda Allen yang melakukan penelitian bertajuk The Literacy Project pada tahun 1993 terhadap anak-anak kelas 4 ke bawah (usia <10 tahun). Hasil penelitian mereka sebagaimana yang termuat dalam Reading Research Quarterly Vol. 34 No 4, Oktober/November/Desember 1999, menunjukkan bahwa anak-anak yang rutin dibacakan buku cerita oleh orang tuanya memiliki kemampuan membaca, menulis dan berkomunikasi yang lebih baik. Connie R. Green dan Shareen W. Halshall dalam penelitian mereka yang diberi tajuk Head Start  Families Sharing Literature, yang dimuat di ECRP: Fall 2004: Volume 6 Number 2 menemukan bahwa membacakan buku secara rutin untuk anak akan memberi mereka kemampuan bertanya, melabeli atau menamai (labeling), kemampuan mengamati secara detail, mampu membuat korelasi antara apa yang dibaca dengan kenyataan sehari-hari, dan menceritakan ulang. Kemampuan menceritakan ulang bukanlah sebuah kemampuan yang remeh karena melibatkan daya ingat, kemampuan memilih kata dan bagaimana mengungkapkannya secara lisan. Lebih jauh lagi, hasil penelitian Feitelson, Kita dan Goldstein, 1986, sebagaimana yang dikutip Green dan Halshall menunjukkan bahwa membacakan buku cerita untuk anak memiliki lima manfaat: pertama, memperkaya kosa kata, terminologi dan tema, kedua, mengenalkan tata bahasa secara benar ke anak, sesuatu yang kadang tidak ditemukan dalam bahasa percakapan sehari-hari, ketiga, mengenalkan anak pada stuktur sebuah cerita, keempat, mengenalkan anak pada beragam perangkat bahasa semisal metafora dan idiom, dan kelima, mampu membuat anak-anak belajar untuk memperhatikan sesuatu.

Bila kita perhatikan secara lebih seksama, penelitian-penelitian di atas menunjukkan bahwa perkembangan literasi anak lebih ditentukan pada tindakan orang tua, dan bukan pada kondisi sosial ekonomi mereka. Tindakan-tindakan sederhana seperti membacakan buku, menyediakan bahan-bahan bacaan (baik dipinjam maupun dibeli), dan membuat mereka terlibat sebanyak mungkin dalam kegiatan-kegiatan literasi, akan memotivasi anak-anak untuk menjadi seorang pembaca dan akhirnya pembelajar. Semakin dini orang tua terlibat, semakin besar kemungkinan efek positifnya berlangsung lama, bahkan seumur hidup. Dalam hal ini posisi orang tua menjadi sangat penting karena mereka adalah role model bagi anak-anaknya.

Poin Penting Dalam Kegiatan Literasi

 alam mengembangkan kemampuan literasi anak, setidaknya ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan orang tua.

Pertama, menjadikan kegiatan membacakan buku sebagai sesuatu yang rutin. Ini akan melahirkan perasaan familiar anak terhadap bacaan. Semakin mereka merasa dekat dengan bacaan, semakin mudah memotivasi mereka untuk menjadi seorang pembaca dan pembelajar yang baik. Semakin sering orang tua membangun komunikasi dengan anak, semakin baik kemampuan berbahasa mereka.

Kedua, utamakan bacaan yang memiliki ritme dan rima yang baik. Pada anak usia dini, dua hal ini penting, karena mereka mengembangkan kemampuan literasinya dengan cara mendengar dan bicara, bukan membaca dan menulis. Ritme dan rima akan mengasah kepekaan berbahasa sekaligus mengasah kesadaran puitik anak-anak.

Ketiga, jadilah contoh bagi anak-anak. Pepatah mengatakan, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, anak tumbuh tak jauh beda dengan orang tuanya. Sebagai orang-orang pertama yang mereka kenal di awal kehidupan, anak–tanpa mereka sadari–akan menjadikan orang tua sebagai role model. Jika orang tua menunjukkan ketertarikan terhadap bacaan, anak pun akan menunjukkan hal yang sama.

Pembelajar Sepanjang Hayat

 Albert Einstein mengatakan, bahwa poin penting pendidikan adalah melatih seorang anak untuk berpikir. Kegiatan literasi, dalam hal ini literasi yang dikembangkan dalam keluarga, akan melatih anak untuk berpikir sedari awal kehidupannya. Ini akan membuat mereka belajar menjadi seorang pemikir kritis, pemecah masalah (problem solver) dan kreatif dalam kehidupan. Tak hanya itu, baiknya kemampuan literasi seorang anak bukan hanya akan membuat mereka unggul di sekolah, tapi juga akan mendorong mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat, sesuatu yang dicita-citakan pendidikan nasional kita.(*)

sudah dimuat di Harian Haluan 11 Juni 2017

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.