Surau dan Silek: Energi Generasi Baru Merajut Tradisi.

“Di lahia silek mancari kawan, di batin silek mancari Tuhan.” Selama beratus tahun spirit ini hidup di kalangan pesilat Minang. Dahulu, salah satu syarat yang harus dipenuhi seorang calon murid silat adalah memberikan kain kafan untuk gurunya, tujuannya, jika ia salah, sudah mengingkari jalan Tuhan, sudah menggunakan silat untuk kejahatan, sang guru boleh menghukumnya, dan kalau ia melawan lalu mati, kain kafan itu digunakan untuk membungkus jenazahnya. Tanggung jawab murid sepanjang jalan, tanggung jawab guru seluas alam. Spirit yang mulai pudar belakangan ini dimunculkan kembali oleh Arief Malinmudo, sutradara berbakat asal Ranah Minang melaui film besutannya yang tengah tayang di bioskop, Surau dan Silek.

Alkisah tiga anak usia sekolah dasar, Adil, Kurip dan Dayat kebingungan setelah ditinggal merantau oleh guru mereka, Rustam, yang merupakan mamak kandung Adil. Mereka sangat ingin ikut lomba silat untuk membalas dendam pada Hardi yang sudah mengalahkan Adil dengan curang di babak final pada lomba silat yang lalu. Dalam perjalanan mencari guru silat mereka banyak menemukan kejadian unik, seperti bertemu perguruan silat yang mengutip bayaran sangat mahal, sampai bertemu perguruan silat yang berlatih dalam aroma kemenyan, dan meminta tiga sahabat itu memenuhi syarat yang aneh bila ingin diterima, yakni ayam patah kaki, bebek yang buta sebelah matanya dan gunting karatan.

Di tengah kebingungan, muncul pertolongan dari teman sekelas mereka, Rani. Rani mengenalkan mereka pada Kakek Johar (Yusril Katil), seorang pensiunan dosen yang punya reputasi internasional. Johar dulunya adalah seorang pandeka. Dia mengundurkan diri dari ‘dunia persilatan’ karena jengkel melihat banyaknya pemuda yang salah motivasi belajar silat. Pada mulanya dia enggan mengajar silat pada tiga anak itu, tapi berkat bujukan istrinya, Erna (diperankan Dewi Irawan), hatinya luluh juga dan bersedia menjadi guru silat bagi Adil, Kurip dan Dayat.

Kisah Surau dan Silek sangat bersahaja. Mengingatkan saya pada kebersahajaan film-film Iran semacam Children of Heaven.  Ceritanya sama sekali tidak rumit. Percakapan-percakapannya sederhana dengan narasi yang terpilih. Kekuatan film ini ada pada nilai-nilai yang disampaikan dalam kata dan gestur. Yang membuatnya jadi tambah istimewa, film ini dibintangi oleh mereka yang hidup dan besar dalam kultur Minang, yang bukan cuma membuat pengucapan bahasa Minang menjadi pas, tapi cara mengucapkannya, mulai dari intonasi sampai gestur menjadi cocok. Sepanjang film kita disuguhi humor maupun gaya keseharian orang Minang, seperti lelucon tentang mie rebus (banyakkan kuahnyo stek, bia kanyang), hubungan salat dengan kegiatan yang dilakukan (patuiklah kalah se Kalene ko- karena salatnya diabaikan),  menjadikan makan sebagai pereda kegalauan (tampak dari ajakan ibu si Rustam saat mendengar keluh kesah anaknya yang merasa tidak berguna di kampung), dan bagaimana menaruh empati pada teman tanpa si teman merasa dirinya tengah dikasihani (tampak dari dialog Kurip dan Dayat dengan Adil yang memilih tidak ikut acara jalan-jalan sebagai bentuk solidaritas pada Adil yang tidak mampu membayar biaya jalan-jalan. Adil beralasan dia tidak ikut karena mabuk darat. Dayat dan Kurip juga mengajukan alasan yang sama). Banyak lagi kearifan lokal orang Minang kita temukan sepanjang cerita, sehingga saya sampai merasa film ini mampu membentuk citra positif lain orang Minang yang umumnya banyak dicitrakan sebagai pedagang yang ulet saja.

Yang menarik bagi saya, Arief Malinmudo yang juga bertindak sebagai penulis skenario, menyisipkan pesan-pesan politik juga dalam film ini. Terlihat dari sepotong adegan Kurip tengah membaca buku yang mempertanyakan PRRI itu sebenarnya pemberontakan atau bukan. Masalah ini memang cenderung sensitif di Minangkabau. Peristiwa pemberangusan gerakan ini oleh tentara pusat banyak menimbulkan luka traumatik masyarakat Minang.

Sebagai film keluarga, Surau dan Silek cukup berhasil memberikan tontonan segar yang penuh nilai-nilai kekeluargaan, persahabatan dan kasih sayang. Sinematografinya cukup kuat. Musiknya menarik. Lanskap alam yang diambil juga sangat indah. Agak sulit melupakan adegan saat Adil, Kurip dan Dayat bersepeda di tengah padang rumput yang begitu luas, dengan puluhan sapi gemuk di satu sisi (mengingatkan saya pada lanskap Padang Mangateh), Dan adegan saat ketiga anak itu berlatih silat di atas ‘tembok  China’ Ngarai Sianok. Keindahan alam Sumatra Barat betul-betul dieksploitasi.  Mengingatkan saya pada bagaimana Riri Riza dan Mira Lesmana mengeksploitasi alam Sumba yang indah dalam Pendekar Tongkat Emas.

Surau dan Silek bukan cuma kaya nilai, tapi juga kaya dengan lanskap alam yang mempesona. Di tengah uap panas caci maki  yang banyak menguar di media sosial, film ini ibarat oase, bisa sedikit mengademkan hawa gerah.

*sudahdimuat di Haluan Minggu, 21 Mei 2017

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.