8 Jam Belajar di Sekolah, Seberapa Efektif?

Berapa jam seharusnya seorang anak menghabiskan waktu belajar di sekolahnya? Pertanyaan ini mengemuka begitu kebijakan sekolah 8 jam sehari diberlakukan secara bertahap mulai semester depan. Pertanyaan di atas diikuti pertanyaan lanjutan sebagai berikut: seberapa efektif durasi sekolah yang lama terhadap kemajuan belajar siswa? Apakah durasi belajar berperan penting terhadap prestasi belajar? Apakah yang penting itu durasi atau metode? Untuk menjawab pertanyaan ini–dalam konteks Indonesia–tentu perlu riset yang cukup panjang. Tetapi, saya pikir ada cara mudah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, yakni dengan membandingkan data durasi belajar berbagai negara milik OECD (Organisation of Economic Co-Operation Development) dengan data PISA (The Programme for International Student Assesment) yang sampai sekarang masih menjadi acuan keberhasilan pendidikan akademik sebuah negara. Dengan mempelajari data-data ini setidaknya kita bisa menarik sebuah kesimpulan mengenai hubungan antara durasi belajar dengan prestasi belajar siswa.

Data Durasi Belajar

Ini adalah data durasi belajar setahun negara-negara OECD pada tahun 2014. Dari data ini kita lihat durasi belajar tingkat SD terlama disematkan pada Chile yang mencapai 1049 jam pertahun, sementara Latvia adalah negara dengan durasi belajar paling sedikit, hanya 592 jam setahun. Untuk tingkat SMP, rekor terlama dipegang Meksiko dengan 1167 jam belajar setahun, dan durasi paling sedikit Swedia dengan 754 jam belajar setahun. Bagaimana dengan Indonesia? Menurut data OECD tahun 2009 durasi belajar anak SD Indonesia pertahun mencapai 1255 jam. Itu artinya, jika kita anggap lama belajar efektif dalam setahun adalah 10 bulan, 6 hari dalam seminggu, maka dalam sehari rata-rata anak SD (negeri) Indonesia belajar selama 5,2 jam sehari. Ini membuat Indonesia termasuk negara dengan durasi belajar terlama dalam negara-negara OECD. Jika Indonesia jadi menerapkan kebijakan 8 jam belajar sehari, selama 5 hari dalam seminggu, maka Indonesia akan mencatat rekor sebagai negara dengan durasi belajar terlama. 1440 jam pertahun, dengan kalkulasi sebagai berikut: 8 jam x 5 hari = 40 jam. 40 jam x 4 minggu= 160 jam. 160 jam x 9 bulan masa efektif belajar= 1440 jam (tentu angka ini bisa dikoreksi)

Lalu, apakah durasi sekolah yang lama sebanding dengan prestasi belajar siswa?

Mari kita lihat data PISA. PISA menilai kemampuan akademik siswa dari tiga kategori, yakni membaca (reading), matematika dan sains. Siswa dinilai dari kemampuan–antara lain–sebagai berikut: kemampuan menerangkan fenomena secara saintifik, menginterpretasikan data, kemampuan mengevaluasi teks, kemampuan memahami, menggunakan konsep, fakta dan menyusun argumen. Berdasarkan hasil tes PISA tahun 2015 diketahui 10 negara dengan peringkat PISA tertinggi adalah Singapura, Hongkong, Jepang, Makau, Estonia, Kanada, Finlandia, Korea Selatan, China dan Irlandia. Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia berada di peringkat 64, tergolong rendah di antara negara-negara peserta tes PISA.

Sekarang mari kita lihat durasi belajar siswa di 10 negara peringkat atas PISA ini. Dari 10 negara ada tiga, yaitu Singapura, Hongkong dan Makau, yang belum saya dapat data durasi belajarnya, adapun 7 negara lagi, durasi belajar pertahunnya sebagai berikut: Jepang 762 jam, Estonia 661 jam, Kanada 919 jam, Finlandia 632 jam, Korea Selatan 648 jam, China 612 jam, dan Irlandia 915 jam. Dari data ini bisa disimpulkan sebagai berikut, durasi belajar yang lama tidak terlalu berkorelasi dengan prestasi belajar siswa. Buktinya Finlandia, Korea Selatan dan China yang durasi belajarnya di bawah 650 jam pertahun ternyata memiliki prestasi belajar yang sangat baik. Chile, Indonesia dan Meksiko yang durasi belajarnya di atas 1000 jam pertahun, ternyata menembus peringkat 30 besar PISA pun tidak.

Kesimpulan

Berdasarkan data di atas, ada satu hal yang bisa disimpulkan yakni, kebijakan pemerintah menambah durasi belajar siswa sepertinya perlu dikaji ulang. Jika tidak berdampak positif terhadap kemajuan belajar, maka sepertinya yang perlu dievaluasi bukanlah durasi belajar, tetapi hal-hal lain di luar itu, seperti metode, kualitas guru dan hal-hal lainnya.

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.