Aku Homeschooling Maka Aku Aneh

Salah satu momen paling jengkelin setiap kali saya memberitahu kenalan baru bahwa anak saya belajar dengan metode homeschooling adalah reaksi berikut: “Haah? Nggak sekolah? Nggak punya teman dwoong”. Hadeeh, kadang kalau lagi mood, insting ceramah saya langsung naik dan menjelaskan ini itu kepada yang bersangkutan, tapi, kalau lagi malas saya cuma bilang dalam hati: terserah apa lu kata dah. Gawatnya, rasa malas ini muncul lebih sering sehingga sebagian besar kenalan benar-benar mengira anak-anak saya memang nggak punya teman. Dalam bayangan mereka anak saya belajar setiap hari di rumah, dengan tangan dan kaki terikat meja, lalu memelototi saya berceramah saban hari, dari pukul delapan pagi sampai pukul satu siang, persis seperti jam sekolah. Heuh, dikira saya Soekarno apa, yang tahan pidato sampe lima jam. Anak-anak saya apa lagi, begitu mendengar orang ceramah, nggak sampai lima menit mereka udah langsung ngorok krrrk … krrrk … Dikira belajar cuman ceramah doang.

Aku Homeschooling Maka Aku Aneh

 Iyaah, saya meng-homeschooling-kan anak, maka saya aneh. Saya pernah sampai dibujuk menemui seseorang untuk minta bantuan. Dikira, saya udah sangat melarat hingga menyekolahkan anak-anak ke sekolah negeri yang hampir 100 persen didanai pakai dana BOS saja nggak bisa. Ada juga tetangga yang ngomong baik-baik ke anak saya, supaya kalau memang kami kesulitan, ngomong ke dia. Dia mau bantu pendidikan anak-anak kami kok. Yaah, saya terima kasih aja sih sama mereka, tandanya mereka peduli dan mengamalkan surah Al Ma’un. Tapi, ya tolong dikenali dulu homeschoolingnya gitu lho. Saya nggak keberatan kok kalau ada yang menilai saya melarat, lah, memangnya kapan kita manusia ini yang nggak melarat? Wong nyawa aja nggak punya, dipinjamin gitu sama Allah. Mobil, rumah, pakaian mahal, semuanya juga pinjaman. Gempa kuat beberapa detik saja udah habis tuh semua kekayaan. Tapi, poinnya bukan itu. Poinnya adalah, saya memilih mendidik anak-anak saya. Dan kalau sudah memilih, mau kamu melarat atau bangsat eh salah … kaya maksudnya, bukan lagi faktor penting dalam mengambil keputusan.

Dulu dan Sekarang

 Kamu normal atau tidak, khusus dalam konteks mendidik anak, tolok ukurnya nyaris nggak jelas. Biasanya sih kalau semua orang melakukannya, maka itu normal. Artinya, tolok ukurnya lebih bersifat budaya. Dulu pada zaman Belanda, ngantar anak ke sekolah itu yang dianggap nggak wajar. Kartini sendiri pernah menyatakan kalau banyak orang yang menganggap ayahnya, Adipati Sosroningrat melanggar aturan karena memilih menyekolahkan seluruh anaknya, baik lelaki atau perempuan ke ELS, sekolah dasar anak-anak Eropa. Adipati Sosroningrat berlangganan leestrommel alias kotak baca untuk anak-anaknya. Dalam leestrommel itu ada majalah, koran dan buku. Bagi orang-orang di masanya, itu sangat aneh. Lah, kok anak ningrat baca yang kayak gituan. Anak-anak perempuan lagi. Kalau misalnya sang adipati berlangganan leestrommel itu di masa sekarang, kira-kira apa kata masyarakat? Kayaknya nggak ada yang gosipin deh, soalnya, di masa sekarang hal itu normal.

Dulu di Minangkabau, anak-anak lelaki belajar agama dan silat di surau, dan kadang-kadang belajar langsung ke rumah guru. Anak-anak perempuan, selain belajar agama, juga belajar PKK alias  kerumahtanggaan, misalnya memasak, menjahit, dan lain-lain. Anak lelaki juga harus bisa masak di Minangkabau, maka, dari kecil mereka belajar bikin lemang dan rendang. Kalau ada perayaan besar, biasanya mereka yang didaulat jadi tukang masak. Tempat belajar anak-anak tidak khusus di satu lokasi. Sekolah mereka seluas alam. Di mana ada guru hebat, ke situ mereka berbondong pergi. Makanya mereka tidak canggung merantau. Itu dulu sih, sekarang? Wah, susah. Metode belajar orang Indonesia yang sangat lokal itu, bisa dikatakan musnah, digantikan sekolah-sekolah yang katanya modern. Anak-anak belajar dari pagi sampai siang, bahkan kalau perlu sampai sore (umumnya sekolah swasta) di tempat yang sama, sehingga nyaris tertutup peluang mereka mempelajari hal-hal lain, di luar yang ditetapkan. Peluang mereka untuk belajar ke guru-guru hebat lain seperti masa dulu, nyaris tertutup, karena waktu mereka sebagian besarnya tersita di sekolah.  Ada sih saya menemukan beberapa sekolah yang anti mainstream, tapi jumlahnya nggak banyak. Nah, dalam kondisi seperti ini, ketika ada orang tua-orang tua yang mencoba memberikan metode belajar alternatif lain untuk anak-anaknya, dianggap aneh. Padahal, dulu ini dianggap normal-normal saja. Perubahan budaya mengakibatkan perubahan cara pikir masyarakat.

 Sekolah atau Belajar?

Paulo Freire, sang filsuf pendidikan itu pernah bilang, nenek melarangku pergi ke sekolah, karena ia ingin aku mendapat pendidikan. Poin kata-katanya bukan pada persekolahannya saya pikir, tapi pada pendidikannya. Belajar nggak cuma di sekolah. Sekolah hanya salah satu tempat. Jika ingin pintar, maka kau harus belajar. Titik. Itu saja. Belajar di mana? Ya itu urusanmu, tergantung kreativitasmu. Mau belajar di sekolah, ayo, mau belajar di tempat lain juga ayo. Selama tujuan mendidik itu tercapai ya nggak masalah toh? Yang penting kamu bertanggung jawab memajukan dirimu, anak-anakmu, dan kalau mungkin orang-orang di sekitarmu. Memilih metode belajar itu dalam beberapa hal mirip dengan memilih kendaraan ke pasar. Mau naik angkot atau motor ya terserah, yang penting kamu tahu jalan dan sampai di pasar.

**

 

 

 

Share Button

2 Replies to “Aku Homeschooling Maka Aku Aneh”

Leave a Reply

Your email address will not be published.