Wonder Woman: Kekuatan Perempuan di Belantara Superhero Lelaki

Perbincangan tentang film Wonder Woman di internet kini sudah merembet pada soal feminisme. Kritikus laki-laki yang memberi komentar buruk pada film ini bahkan dituding sebagai–seperti yang disebut Jenna Ammatuli di Huffington Post–berselera rendah dan hanya mampu melihat film ini dari kaca mata lelaki saja. “Patut dicatat bahwa semua ulasan (negatif) ini mengabaikan kekuatan representasi,” demikian tulis Ammatuli, “Wonder Woman mungkin tidak sempurna, tapi pastinya bersejarah.” Masih menurut Ammatuli, bagi perempuan, melihat perempuan lain menyelamatkan dunia merupakan sebuah pengalaman monumental, “kaum lelaki tak bisa memungkiri fakta, bahwa Wonder Woman merupakan tonggak dalam film-film superhero.”

Sebuah ulasan di New York Post menampilkan komentar para penonton perempuan dan rata-rata mereka sepakat bahwa Wonder Woman menarik karena menampilkan proyeksi mereka akan perempuan yang berdaya. Sosok Wonder Woman itu sendiri tampil sangat feminis secara keseluruhan tanpa ada kesan ingin menundukkan lelaki.

Di luar perdebatan mengenai soal feminisme di film ini, satu hal yang patut dicatat adalah, sosok Wonder Woman itu sendiri tampil dalam citra perempuan fashion masa kini. Tinggi, langsing, kulit warna tan yang mulus tanpa bulu dan ukuran tubuh yang memenuhi standar ukuran tubuh model-model pakaian dalam Victoria’s Secret. Agak ironi juga sebenarnya, ketika sang Wonder Woman bicara tentang perbudakan masa kini dalam salah satu adegan, sosoknya sendiri justru hasil dari ‘perbudakan’ citra perempuan masa kini. Begitu tingginya standar fisik sang Wonder Woman, hingga hampir-hampir muskil ada 1% saja perempuan di muka bumi ini yang memenuhi standar fisik serupa itu.

Sebagai sebuah film superhero, Wonder Woman bisa dikatakan cukup menarik. Pendekatan film ini lebih humanis, serupa dengan film-film superhero yang edar selama–setidaknya–satu dekade terakhir. Misalnya, dalam Trilogi Batman garapan sutradara Christopher Nolan, Batman ditampilkan dalam sosok yang rapuh dan terluka. Film trilogi Spiderman garapan sutradara Sam Raimi juga sama. Spiderman ditampilkan lebih manusiawi. Bahkan, film gabungan superhero (dan antihero) seperti The Avengers dan Suicide Squad, para tokohnya juga digambarkan seperti manusia normal lainnya, jahil, mudah kecewa, setia, sensitif, murah hati, dengan satu perbedaan, mereka punya kekuatan super. Sebelum Wonder Woman juga ada Logan, superhero hasil mutan yang menua dan akhirnya mati setelah berjuang menyelamatkan putri satu-satunya. Wonder Woman berada dalam gerbong trend yang sama dengan film-film ini.

Tersebutlah Diana dari Themyscira (diperankan Gal Gadot), seorang perempuan berkekuatan luar biasa, suatu hari menyelamatkan Steve Trevor (diperankan Chris Pine), seorang mata-mata tentara Amerika di Perang Dunia I yang mendapat informasi bahwa Jerman tengah mengembangkan senjata pemusnah masal. Diana yang sangat khawatir terjadi musibah besar di kalangan umat manusia, lalu membantu Steve kembali ke pasukannya, dan berencana ikut berperang guna menghentikan musibah itu. Diana percaya, bahwa perang disebabkan oleh Ares sang Dewa Perang yang juga putra Dewa Zeus. Ia yakin, jika bisa menemukan Ares, ia bisa mencegah malapetaka besar itu.

Secara umum film berdurasi 2 jam 36 menit itu bercerita tentang sepak terjang Diana yang polos, yang sebelumnya hidup bersahaja bersama sebuah suku di Amazon (yang seluruh warganya adalah perempuan bertubuh selangsing dan secantik model-model Victoria’s Secret, sehingga menimbulkan pertanyaan: why?), dalam menghadapi dunia yang kejam dan licik. Bila dilihat dari plot, film ini tak terlalu istimewa sebenarnya. Jalan cerita mudah ditebak, begitu juga akhirnya. Karakter tokoh-tokoh ceritanya, terutama sang Wonder Woman, kurang terolah dengan baik. Ekspresi wajah Diana dari Themisycira ini cenderung sama saja dari awal sampai akhir. Ia seperti berjarak dengan cerita itu sendiri. Saya pikir, jika film ini akan ada sekuelnya (sepertinya begitu, karena di awal cerita Diana mendapat kiriman dari Bruce Wayne–sang Batman), dan masalah-masalah di atas bisa diatasi, film ini akan lebih hebat.

Pendapatan awal film ini cukup mengejutkan, 103,1 juta dolar pada minggu pertamanya. Ini merupakan sebuah rekor tersendiri di Hollywood. Mungkin salah satu sebab rekor ini adalah, superhero film ini perempuan, sesuatu yang langka di belantara superhero lelaki Hollywood. Ditambah lagi, pemerannya adalah perempuan yang sangat cantik dari ujung kepala sampai kaki. Konon, Gal Gadot sang aktris adalah hasil seleksi sangat ketat dari banyak aktris perempuan yang dicalonkan. Seleksi itu terutama menyangkut ukuran fisik yang harus sempurna untuk seorang superhero. Dengan tinggi 178 cm dan berat 59 kg, sosoknya dianggap cukup representatif. Di luar itu, film ini biasa-biasa saja. Jika penggemar Trilogi Batman karya Christopher Nolan mengharap sesuatu yang lebih pada film ini, saya pikir mereka akan menemui kekecewaan. Meski begitu, sebagai sebuah hiburan, Wonder Woman  bisa dikatakan cukup lumayan. (*)

Kolom Cakrawala Film Haluan edisi 18 Juni 2017 (edar 17 Juni 2017)

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.