Pelajaran dari 10 Orang Tua Penerima Penghargaan Orang Tua Hebat (bag. 1)

Air mata saya berlinang saat film dokumenter tentang keluarga pemuda bernama Boimin usai ditayangkan dalam acara Apresiasi Pendidikan Keluarga Kemdikbud yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 9 Agustus 2017 lalu. Sepanjang film saya berkali-kali menarik napas hanya supaya air mata saya tidak tumpah. Saya sungguh-sungguh terharu menyaksikan perjuangan orang tua Boimin yang berpendidikan rendah, untuk menyekolahkan anaknya setinggi mungkin, hingga akhirnya berhasil kuliah program doktoral di University of Masachusetts Amherst. Film dokumenter itu merupakan awal dari rangkaian acara penghargaan Kemdikbud untuk 10 orang tua hebat Indonesia. 10 orang tua ini datang dari berbagai daerah, Riau sampai Wakatobi. Mereka rata-rata berpendidikan rendah, tidak tamat SD, ada yang buta huruf dan tidak pandai berbahasa Indonesia, tapi mampu mendidik anak hingga berhasil dalam pendidikan (rata-rata anak mereka berhasil mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri) dan karir profesional.

Hari itu, tiba-tiba saja seluruh teori-teori pendidikan yang bercokol di kepala saya selama ini berjatuhan. Tiba-tiba saja saya merasa nol kembali. Gelas saya menjadi kosong lagi. Mungkin sebelumnya saya lupa kalau pendidikan sejatinya melibatkan manusia, dan kalau sesuatu itu sudah melibatkan manusia–makhluk yang diciptakan zat yang maha–maka yang kita punya hanyalah tafsiran-tafsiran. Semua konsep pendidikan kita berawal dari tafsiran-tafsiran kita akan apa itu manusia dan makna pendidikan. Tapi ya … sekali lagi, itu hanyalah tafsiran dan konsep. Manusia adalah makhluk Tuhan dan dengan begitu, banyak hal atas dirinya juga berhubungan dengan sesuatu yang sifatnya metafisik. Sesuatu yang jauh dan tak terjangkau. Sesuatu yang hanya berada dalam pengetahuan sang penciptanya sendiri. Maka, ketika saya melihat para orang tua sederhana dan berpendidikan rendah ini, punya anak-anak yang dalam penglihatan saya selama tiga hari (di hotel dan di TIM) bicara sangat lembut, santun, sopan dan jelas kelihatan cerdas, saya¬† jadi memikirkan ulang apa makna mendidik sebenarnya.

Teori Pendidikan

Hidup itu sederhana, yang rumit hanya tafsirannya, demikian kata Pram, sastrawan besar Indonesia itu. Bila dilihat dari kacamata pendidikan, maka kita bisa bilang, mendidik itu sebenarnya sederhana, yang rumit hanya tafsirannya. Selama ini, saya pikir, saya sudah terlalu merumitkan tafsiran mendidik itu. Saya menghabiskan waktu dengan membaca banyak buku tentang pendidikan bayi, anak usia dini, remaja, manajemen kelas, merancang pendidikan xyz, pedagogi, sistem pendidikan anu dan itu, konsep pendidikan anu dan itu, dan lupa dengan satu hal paling penting: manusianya. Jiwanya. Jiwa saya, jiwa anak-anak saya. Hari itu, ketika melihat sepuluh orang tua di TIM itu, mendadak apa yang selama ini rumit, tampak sederhana di mata saya. Tampak begitu mudah dan terang. Mendidik-pendidikan keluarga, cuma punya satu kunci yang darinya terbuka banyak pintu. Kata kunci itu bernama: ikhlas.

Ikhlas

Ya, ikhlaslah kunci penting yang mengantarkan anak-anak para orang tua itu meraih keberhasilannnya. Satu kata ini mungkin terdengar tidak sehebat istilah hands on learning, children oriented dan bla bla lainnya, tapi, jelas inilah yang menjadi pondasi pendidikan keluarga mereka. Kata ikhlas memang terdengar biasa, tapi, kata ini perlahan makin hilang dari hati banyak orang tua. Tidak percaya?

  1. Coba anda amati, berapa banyak orang tua di sekitar anda yang senang anak-anaknya berada di sekolah dalam waktu lama dengan tujuan orang tua bisa punya me time yang lama. Anak, dalam hal ini ‘dianggap sebagai beban’, hingga, semakin cepat sang anak ‘disingkirkan’ semakin lapang pikiran orang tua. Mereka akan punya¬†waktu sendirian yang cukup panjang.
  2. Berapa banyak orang tua yang tidak punya cukup waktu untuk duduk bersama anak-anaknya, tapi punya banyak waktu untuk kongkow bareng teman-temannya?
  3. Banyak orang tua yang lebih memikirkan kepentingan dirinya, kehidupan pribadinya, ketimbang kepentingan dan kehidupan anak-anaknya. Bahkan, banyak juga pasangan, yang meski sudah punya anak sekali pun, yang ada itu tetap aku dan kamu, diriku dan dirimu, bukan diri kita sebagai sebuah keluarga.

Apa maksud ikhlas di sini? Pertama, ikhlas menjalani hidup di posisi manapun. Kedua, ikhlas menjalani peran sebagai istri dan ibu, atau suami dan ayah. Ketiga, ikhlas membesarkan anak. Ikhlas bertanggungjawab terhadapnya. Ikhlas menyayanginya. Ikhlas mengurusnya. Ikhlas yang bersungguh-sungguh adalah, hidup berorientasi pada tanggung jawab, bukan kesenangan pribadi. Semua ego lenyap di situ. Tak ada ‘aku begini, kamu begitu’, yang ada, ‘ibu dan ayah menyayangimu, kalau ada sesuatu yang harus dikerjakan, mari kerjakan bersama. Jika kamu yang harus mengerjakannya sendiri, ibu dan ayah akan mendukung semampunya’.

Spirit inilah yang saya lihat jelas dalam diri 10 orang tua hebat ini. Mereka tidak berpendidikan tinggi. Tidak menguasai teori-teori parenting termutakhir. Mereka bahkan tidak tahu apakah teori parenting itu ada di dunia ini atau tidak. Yang mereka tahu hanyalah: mereka punya anak, mereka ikhlas menjalankan kehidupan sebagai orang tua, mereka melepas ego, lalu melebur menjadi sesuatu yang bernama ‘kita’. Mereka sederhana, apa adanya, tulus dan mencintai. Inilah yang menghidupi jiwa anak-anak mereka. Ketika anak-anak itu tumbuh besar, mereka jadi memiliki spirit untuk memberi rasa bangga pada orang tua yang telah tulus pada mereka. Mereka jadi terdorong untuk mendapatkan pencapaian-pencapaian tertinggi. Mereka jadi tahu berterima kasih. Hal ini sangat terasa ketika saya membaca tulisan salah satu anak orang tua hebat ini di Kompasiana (yang saat ini masih kuliah di luar negeri). Mereka terus menerus mendoakan orang tua, sebagaimana orang tua mereka pun terus menerus mendoakan mereka. Ini membuat saya jadi teringat hukum Newton III tentang aksi-reaksi. Besarnya aksi yang engkau lakukan, sebanding dengan besarnya reaksi yang didapatkan. Hal ini juga tersirat dengan jelas dalam doa yang diajarkan untuk kita baca sehabis salat. “Ya, Allah, cintai dan perlakukanlah orangtuaku, sebagaimana mereka mencintai, mendidikku dan memperlakukanku di waktu aku kecil.”

Sambungannya bisa dibaca di sini

 

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.