Pelajaran dari 10 Penerima Penghargaan Orang Tua Hebat Kemdikbud (bag. 2)

Pada 9 Agustus 2017 lalu saya beruntung bisa bertemu 10 orang tua hebat dari berbagai pelosok Indonesia, Riau sampai Wakatobi, di acara Apresiasi Pendidikan Keluarga Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Para orang tua ini rata-rata tidak tamat SD, bahkan ada yang buta huruf, namun memiliki anak-anak yang semuanya sukses dalam pendidikan dan karir profesional. Semua anak mereka rata-rata berhasil mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri.

Inilah tiga hal yang saya pelajari dari mereka.

  1. Mereka ikhlas menjalani hidup mereka. Ketika mereka punya anak, orientasi hidup mereka berubah ke anak. Dari cerita-cerita yang saya dapatkan, para orang tua ini selalu menyediakan waktu untuk anak-anaknya. Bahkan, ada di antaranya, yang meski berpendidikan rendah, memilih duduk menemani anak-anaknya mengerjakan PR sekolah. Para orang tua ini peduli pada anak-anaknya, dan karena itulah mereka bisa melihat apa yang disukai anak-anak mereka. Misalnya, ibu Mbak Asma Nadia yang malam itu juga mendapat penghargaan. Ia dan suaminya hidup miskin di pinggir rel kereta api. Ketika ia melihat anak-anaknya suka membaca, ia mencari koran-koran bekas untuk dibaca anak-anaknya, karena tidak mampu membeli yang baru. Sulitnya hidup tidak jadi alasan untuk mengabaikan anak.
  2. Rezeki halal. Ini hal menonjol lainnya dari para orang tua hebat itu. Kemiskinan tidak mendorong mereka jadi gelap mata. Ketika anak mereka menginginkan sesuatu, para orang tua ini meminta anaknya bersabar. Mereka tidak menutupi kondisi keuangan mereka ke anak. Tak punya uang ya tak punya uang. Meski begitu, mereka berusaha memenuhi kebutuhan anak mereka dengan cara bekerja lebih keras. Apakah anak mereka kecewa? Saya lihat justru tidak. Dalam kasus Boimin, justru ia jadi terpacu untuk menabungkan uang jajannya untuk membantu orang tua. Inilah yang membuat anak-anak itu jadi tahu berterima kasih. Rezeki halal yang masuk ke darah mereka, membantu membersihkan jiwa mereka. Bukankah apa yang dimakan mempengaruhi jiwa?
  3. Kasih sayang. Ini hal yang sangat terasa dari para orang tua hebat itu. Mereka menyayangi anak-anak mereka tanpa syarat, tanpa menyertakan kepentingan-kepentingan mereka di dalamnya. Sebagian orang tua yang saya temui, bicaranya sangat lembut, bukan cuma nada, tapi juga pilihan kata. Ada yang bahkan bicara dengan bahasa Jawa halus. Kata-kata halus yang disampaikan dalam nada lembut bukan cuma mempengaruhi cara sang anak bicara, tapi juga karakter mereka.

Sederhana? ya, memang sederhana sekali teori mendidik 10 orang tua hebat ini. Tapi, meski sederhana, tidak semua orang tua yang mampu melakukannya. Meski di poin kedua mereka berhasil, kadang di poin pertama atau ketiga, mereka masih perlu berusaha keras. Satu di antara para orang tua ini mungkin termasuk saya.**

Bagi yang ingin melihat film dokumenter Boimin bisa langsung ke sini

bagian sebelumnya bisa dilihat di sini

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.