Mencari Konsep Ibu Rumah Tangga Ideal

Ada satu pertanyaan yang bersarang di hati saya setiap kali membaca artikel atau status-status tentang perempuan/ibu rumah tangga ideal. Perlukah seorang perempuan menjadi ideal untuk memenuhi harapan orang lain? Apa ideal itu? Apakah konsep ideal bisa ditafsirkan secara tunggal? Tak terhitung sudah berapa ratus saya membaca status tentang konsep-konsep ideal ini sampai-sampai saya nyaris hapal setiap butir konsep itu. Meski ditulis dengan bahasa dan gaya berbeda, tapi, rata-rata butir-butirnya sama.

1. Ibu rumah tangga ideal adalah yang menyediakan waktu penuh untuk mengurus keluarganya (suami dan anak)
2. Mereka bangun paling pagi, sekitar pukul 04.00, lalu mulai nyuci, masak, beres-beres rumah, dll.
3. Ketika suami sudah pergi kerja, ibu mulai mengajar anak-anaknya (yang prasekolah).
4. Masakan mereka enak dan sehat. Ibu yang baik tidak akan membiarkan anaknya membawa bekal dari katering ke sekolah. Ibulah yang membuatkannya.
5. Jika penghasilan suami tidak cukup untuk kebutuhan keluarga, ibu mesti bantu. Berusaha dari rumah.
Butir-butir ini akan makin panjang jika kita memasukkan pandangan orang-orang tentang dunia persekolahan/pendidikan, karena sebagian mereka menganggap, madrasah terbaik adalah ibu, dengan demikian, belajar di rumah bersama orang tua, khususnya ibu (karena ayah pergi bekerja pada siang hari), menjadi suatu yang niscaya.

Well, sini saya kasi satu rahasia: jika kamu ingin bahagia sebagai ibu rumah tangga, jauhi semua konsep yang dibuat orang lain. Mau tahu kenapa? Karena semua konsep itu mereka buat untuk diri mereka, berdasarkan persepsi mereka. Kamu adalah individu yang juga bisa berpikir dan punya persepsi juga atas sesuatu. Bagaimana bisa kamu memaksakan diri untuk hidup dalam konsep-konsep atau ukuran orang lain? Apa kamu mau berjalan dalam sepatu orang lain? Saya beberapa kali bertemu ibu rumah tangga yang selalu merasa dirinya buruk hanya karena ia belum bisa menerapkan konsep ibu ideal ini dan itu dalam dirinya. Mereka kagum dengan si xyz, ingin menjadi seperti xyz pula, lupa, bahwa mereka bukan xyz. Mereka punya kultur berbeda, keluarga berbeda dan irama hidup berbeda. Memaksakan diri hidup dalam irama orang lain tentu saja akan bikin stress. Itu membuat kamu tidak jadi dirimu sendiri. Jika ukuran tubuhmu L, jangan paksakan diri memakai baju ukuran S.

Temukan Irama Hidupmu dan Berbahagialah

Mana yang lebih penting, ibu yang berusaha meniru konsep ibu ideal versi orang lain, atau ibu yang bahagia karena ia jadi dirinya sendiri? Saya memilih yang kedua, karena saya tahu, jika saya bahagia, keluarga saya juga akan bahagia. Tiga belas tahun hidup berumah tangga, saya memahami, bahwa apapun yang terjadi pada diri seorang ibu, mempengaruhi seluruh keluarga. Jika saya sedih, rumah jadi terasa muram. Jika saya bahagia, suami dan anak-anak saya akan ceria sepanjang hari. Pada saat saya secara kongkret memahami frasa ‘ibu jantung keluarga’, pada saat itu juga saya tahu, bahwa yang perlu saya lakukan untuk menceriakan keluarga adalah (pertama-tama), dengan menjadi diri sendiri dan bahagia. Saya menjalankan hidup saya sesuai irama, kultur dan persepsi saya. Cukup yang saya pegang satu: tidak mengabaikan keluarga. Bagaimana bentuk menjalaninya, tergantung kultur keluarga saya. Kami punya ukuran sepatu kami sendiri.

Kehidupan Seharihari Kami

Saya tidak bekerja, sekaligus bekerja. Saya ibu rumah tangga sekaligus cukup sering bepergian karena urusan pekerjaan. Saya bisa di rumah berhari-hari, bisa pula bepergian ke berbagai tempat, tidak pulang selama berhari-hari. Saya menikmati hidup saya sebagai istri dan ibu, sekaligus menikmati kehidupan pekerjaan saya. Anak-anak saya homeschooling, tapi mereka tidak harus selalu belajar bersama saya. Saya tidak ingin menjadi ibu ideal versi anu dan itu, saya hanya ingin menjadi ibu yang dicintai anak-anak. Saya tidak ingin menjadi istri ideal versi anu dan itu, saya hanya mau jadi istri yang dicintai saja. Saya juga tidak pernah menuntut suami saya untuk jadi suami ideal versi anu dan itu, karena ia adalah ia. Ia di luar konsep-konsep itu. Ia punya konsepnya sendiri akan siapa dirinya. Saya memahaminya, dan karena itu, dia juga memahami saya. Ketika suami dan istri sudah saling memahami dan menerima, mereka akan berlapang hati terhadap ketidakidealan pasangannya. Jika ayah dan ibu hidup dengan lapang begini, anak-anak akan merasakan emosi positif.

Konsep Hidupmu

Jadi, berhentilah memaksa diri untuk menjadi seideal anu dan itu. Kamu tidak hidup dalam kulit mereka, sebagaimana mereka juga tidak berjalan dalam sepatumu. Temukan hal-hal paling substansial saja dalam hidup, lalu, gunakan energi kreatifmu untuk menemukan cara menjalaninya.
Hidup itu sederhana, tafsirannyalah yang rumit.
Cinta itu sederhana, keinginanmulah yang membuatnya pelik.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.