A Space Between Us: Kisah Cinta Sejarak 225 Juta Kilometer

Cinta jarak jauh di bumi itu umum terjadi, tapi cinta jarak jauh antar planet? Agaknya baru Gardner dan Tusla yang melakukannya. Berdua, mereka menempuh jarak 225 juta kilometer untuk saling bertemu satu sama lain. Kisah cinta mereka sangat unik dan dramatis. A Space Between Us, film ciamik garapan Peter Chelson menyuguhkannya dengan baik untuk kita.

Alkisah di masa depan, ketika perjalanan bolak balik antar Bumi dan Mars menjadi sesuatu yang bisa dilakukan manusia, seorang ilmuwan ambisius bernama Nathaniel Shepherd (diperankan dengan baik sekali oleh Gary Oldman) berencana mendirikan Texas Timur, sebuah kota baru di Planet Mars. Setelah segala prasarana dibangun di planet itu, ia lalu mengirim enam astronot yang dipimpin Sarah Elliot (Janet Montgomerry) untuk hidup selama empat tahun di Mars. Namun, sesuatu terjadi. Saat singgah di stasiun antariksa luar angkasa, mereka menyadari sesuatu, Sarah Elliot hamil. Dengan gugup, semua anggota tim yang terlibat dalam proyek Texas Timur itu menyaksikan pertumbuhan janin Sarah Elliot hingga terlahir dengan selamat di Mars. Malang bagi bayi itu, ibunya meninggal sesaat setelah ia lahir. Jadilah, bayi malang itu diasuh oleh para astronot. Gravitasi Mars membuat perubahan pada struktur tubuhnya. Tulang-tulangnya jadi tidak sepadat tulang manusia di bumi, komposisi darahnya pun berbeda. Ini membawa efek buruk, dia akan sulit hidup di bumi, itu artinya, bayi yang kemudian diberi nama Gardner Elliot (diperankan oleh Asa Butterfield) itu akan menjadi manusia Mars pertama dalam pengertian sebenarnya.

Gardner dibesarkan oleh para ilmuwan dan robot. Ia tumbuh menjadi anak yang sangat jenius. Di Mars, ia berhasil menemukan koneksi masuk ke akun media sosial di bumi lalu menjalin persahabatan dengan Tulsa (Britt Robertson), seorang cewek berumur 16 tahun yang dibesarkan berbagai keluarga asuh sebelum akhirnya terdampar di panti sosial. Pelan-pelan, hubungan persahabatan mereka menjelma jadi hubungan cinta jarak jauh.

Kehadiran Gardner membawa perdebatan serius dalam tubuh NASA. Akhirnya 16 tahun setelah kelahirannya, Gardner kemudian dibawa pulang ke bumi dengan berbagai konsekuensinya. Begitu sampai di bumi ia segera dikarantina dan diperiksa. Hasil tes memberi kabar buruk bagi Gardner, ia dinyatakan tidak bisa hidup di bumi. Gravitasi dan kondisi atmosfer bumi tidak cocok untuk tubuhnya. Jika ia terlalu lama berada di bumi, jantungnya akan membesar, ia bisa meninggal.

Gardner tidak tahu hasil ini, tapi ia sudah menduga kalau akan dikembalikan ke Mars. Ia lalu kabur dari pusat karantinanya dan mencari Tulsa. Bersama Tulsa, ia berkelana mencari dimana ayah kandungnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Gardner belajar menjadi penduduk bumi.

A Space Between Us adalah sebuah film bergenre fiksi ilmiah-romantis. Kehidupan Gardner yang dramatik sangat menyentuh. Petualangan Gardner mencari siapa ayah kandungnya, mengingatkan kita pada perjalanan paling purba dalam diri manusia, yakni menemukan akar kehidupannya. Tak peduli dimanapun seseorang tinggal, di Mars atau di Bumi, keinginan untuk mengenal identitas diri adalah sesuatu yang menjadi kebutuhan sejati ruhani manusia. Dan pada akhirnya, bagi seorang anak, tak ada yang lebih membahagiakan selain bisa berada di dekat orang tuanya pada akhir hidupnya.

“Aku tak bisa memilih dimana aku dilahirkan, tapi aku bisa memilih di mana aku akan mati. Di sini, di Samudera Pasifik tempat abu ibuku ditaburkan,” begitu ungkar Gardner pada Tulsa di sela keputusasaannya akan nasib dirinya.

A Space Between Us digarap sangat baik, dari sisi skenario, penyutradaraan maupun akting para pemain. Film ini di satu sisi lucu, namun di sisi lain mengharukan dan menimbulkan banyak perenungan akan eksistensi manusia itu sendiri. Film ini bisa menjadi pilihan Anda untuk menghabiskan akhir pekan.

30 Juli 2017

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.