Sebuah Kelas di Papua: 72 Tahun Indonesia

Suatu siang, di pertengahan Agustus 2017, saya menerima WA dari nomor yang tak dikenal. Memang sih, saya biasa juga menerima WA yang nomornya belum ada dalam daftar kontak saya, tapi, WA kali ini sungguh istimewa. WA itu berasal dari seorang guru bahasa di Jayapura, Papua. Isinya, selain basa-basi perkenalan, juga meminta saya untuk mau menjadi tutor dalam kelas menulis yang diampunya. Caranya? Via skype. Dari Padang, saya akan hadir dalam kelas menulis sang ibu guru. Suara saya akan menempuh jarak lebih 2500 kilometer sebelum didengar para siswa itu. Berapa lama waktu yang dibutuhkan suara dan gambar saya untuk sampai ke Jayapura? Hanya beberapa detik.

Ini memang bukan pengalaman pertama saya berkomunikasi via skype. Sebelumnya, saya pernah melakukan wawancara via skype dengan seorang kurator acara sastra di Singapura. Dan sudah tidak terhitung berapa kali saya berkomunikasi dengan keluarga saya via skype setiap kali saya atau mereka bepergian ke berbagai tempat di seluruh Indonesia, Jakarta, Yogyakarta, Makasaar, Denpasar, Pekanbaru, Balikpapan. Jarak bukan lagi masalah di sini. Hubungan komunikasi tatap muka saya tidak lagi sebatas antara saya dengan orang-orang di sekitar lingkungan perumahan saya, tapi juga di lingkungan dunia ini.

Kembali ke ibu guru di Papua tadi. Saya sangat terkesan dengan ide sang ibu guru. Saya sangat menghormati kerja-kerja kreatif, terutama dalam bidang pendidikan seperti ini. Saya sangat menghargai upaya-upaya para pendidik, untuk membumikan pelajaran mereka dengan berbagai cara, termasuk dengan cara menghadirkan seorang penulis ke ruang kelasnya, meski hanya melalui jalur maya. Permintaan sang guru ini saya setujui, bahkan saya menawarkan untuk menyiapkan bahan pelajaran yang bisa disiapkan sang ibu guru. Jadi, saya rancang materi belajar di Padang, saya kirim via email ke Jayapura, diproses di sana, lalu pada hari H saya hadir di kelas untuk menjelaskan tentang seni penulisan kreatif pada anak-anak. Setelah bicara beberapa menit, saya minta mereka mengerjakan kertas kerja yang saya kirimkan, lalu sang guru bisa memotret beberapa dan mengirimkannya pada saya, melalui skype. Saat itu juga, saya bisa mengomentari setiap tulisan mereka. Apa yang dulu terasa rumit, kini menjadi begitu mudah. Apa yang dulu dirasa sukar, kini segampang membalikkan telapak tangan. Saya bersyukur, kemudahan-kemudahan seperti ini mulai menjadi biasa di Indonesia. Pada usianya yang ke 72, republik yang didirikan dengan darah, nyawa dan kekuatan diplomasi ini, kini seluruh penduduknya bisa mengakses internet dengan mudah, dari Aceh sampai Papua, dari rumah saya di Padang, sampai sekolah sang ibu guru di Jayapura.

Arti 72 Tahun Indonesia

Apa arti usia 72 tahun bagi Indonesia? Terlalu banyak untuk diurai. Indonesia adalah sebuah kisah yang tak akan ada habisnya diceritakan. Topik ceritanya membentang dari rangkaian 17 ribu pulau-pulaunya, sampai keragaman flora faunanya. Dari keragaman adatnya sampai variasi kelezatan kulinernya. Masa ceritanya bukan hanya sampai 17 Agustus 1945 saja, tapi memanjang ke belakang hingga ke sebuah kerajaan bernama Salakanagara yang berdiri sekitar abad 1-2 M. Riwayat tokoh-tokohnya bukan sebatas masa Soekarno-Hatta, duo proklamator Indonesia saja, tapi bisa ditelusuri hingga Kudungga Anumerta Dewawarman, raja Kutai yang memerintah pada abad 4 M di sebuah daerah yang kini disebut Kalimantan Timur.

Selama ribuan tahun, kerajaan-kerajaan besar jatuh bangun di nusantara ini, Kutai, Mataram, Majapahit, Sriwijaya, Samudera Pasai, Minangkabau. Mereka memiliki corak khas tersendiri. Ada yang memiliki armada maritim yang kuat seperti Majapahit ada yang jaya di bidang agraris seperti Mataram, ada yang unggul di bidang pendidikan sehingga menjadi tempat rujukan belajar agama Hindu seperti Sriwijaya. Tak pelak lagi, penduduk Indonesia hari ini adalah anak-anak para jenius yang jatuh bangun mendirikan kerajaan-kerajaan besar itu. Dan betapa hebatnya, pada tanggal 28 Oktober 1928, anak-anak para jenius ini, dari Aceh sampai Ambon, bersepakat untuk memiliki satu nama dan satu bahasa: Indonesia. Mereka meninggalkan seluruh ego kesukuan dan memilih bersatu, mendirikan negara berdaulat yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ikrar itu dikukuhkan pada 17 Agustus 1945. Dan kini, kita bisa melihat efek dari ikrar itu: pesawat CN 235, medali emas olimpiade, puluhan anak bangsa pemenang olimpiade fisika dan matematika, tank-tank militer dan senjata modern hasil produksi sendiri, puluhan ribu kilometer jalan, rel kereta api, ratusan bandara besar dan kecil yang menghubungkan setiap pulau, ribuan bandar pelabuhan besar dan kecil yang kini menjadi jaringan tol laut Indonesia, aliran listrik yang merambah 92% kawasan pemukiman Indonesia dan jaringan internet yang kini mulai merambah 4G.
Apa ini arti 72 tahun Indonesia? Terlalu kecil jika kita menyebutnya begitu. Ini hanya sebagian kecil dari makna 72 tahun kemerdekaan Indonesia. Makna terbesar dengan menjadi Indonesia adalah, kita semua, dari Aceh sampai Papua, bersatu sebagai sebuah negara, utuh hingga hari ini. Dan karena kita utuhlah, kita bisa mencapai hal-hal yang disebutkan di atas. Dan karena kita utuhlah, kita bisa bermimpi suatu saat nanti Indonesia akan menjadi negara besar yang digdaya, sebab, kita memiliki seluruh prasyarat yang dibutuhkan. Kita punya mental jadi negara besar, karena leluhur kita sudah pernah membangun kerajaan-kerajaan besar di nusantara ini.

Suatu saat nanti, saya yakin, dengan kemajuan teknologi internet yang terus-menerus diperbaharui pemerintah Indonesia, kegiatan kelas virtual seperti yang diadakan sekolah di Jayapura bersama saya, akan menjadi sesuatu yang umum. Dengan demikian, kesempatan kita, sebagai sebuah bangsa, untuk saling mengenal lebih dekat saudara-saudara sendiri, akan makin terbuka.

Jaya Indonesia!

*refleksi 72 tahun kemerdekaan Indonesia

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.