First Travel: Begitu Sulitkah Berempati?

Mertua saya genap 76 tahun sekarang ini. Tenaganya tidak lagi sekuat dulu, tapi dia masih suka ke sawah. Sawahnya terhampar di pinggir Danau Singkarak. Tempatnya indah dan menyenangkan. Setiap pagi atau sore, saya sering melihat puluhan burung-burung bangau terbang di atas sawahnya, kadang hinggap di pepohonan pinggir danau, dan berdiri merimbun di situ, seakan-akan pohon itu sudah berbunga bangau. Di situlah, selama puluhan tahun, Amak–demikian kami biasa memanggilnya–menggarap sawahnya untuk menghidupi sembilan anaknya, setelah suaminya meninggal 35 tahun lalu. Setiap musim tanam ia bersitegang dengan kemarau, hama dan upah menggarap. Keping demi keping uang sisa hasil panennya ia tabung, sebagian untuk pendidikan anak-anaknya, sebagian untuk memperbaiki rumah gadangnya yang sudah berusia nyaris seabad, dan sebagian lagi untuk menuntaskan kerinduannya pada baitullah. Tahun lalu, berbekal tabungannya ia mendaftar pergi umrah ke sebuah biro travel saat ia mengunjungi anaknya di Jakarta. Saya dan suami hanya diberitahu bahwa amak akan diberangkatkan sekitar Mei 2017.  Saya yang dulu membantu mengurus paspor amak ke kantor imigrasi. Amak kelihatan sangat bahagia. Dengan jerih payahnya selama bertahun-tahun, akhirnya ia bisa menikmati hal paling indah dalam doa-doanya, ke baitullah.

Mei yang ditunggu datang, kepastian berangkat belum turun. Lalu bulan berganti Juni, kemudian Juli. Kami bertanya-tanya kenapa amak belum juga berangkat, sementara persiapannya sudah matang. Di kala menunggu, kami mulai membaca berita-berita tidak menyenangkan seputar First Travel yang gagal memberangkatkan jamaah umrahnya. Berhari-hari membaca berita tentang itu membuat kami mulai mencurigai travel amak. Ketika kami menghubungi adik di Jakarta, kami mendapat kepastian menyakitkan: amak mendaftar umrah di First Travel. Habislah sudah. Semua tetes keringat  amak seakan lenyap begitu saja. Tak terbayang bagi kami bagaimana cara menyampaikan ini ke amak, perempuan sederhana, yang seumur hidupnya hanya tahu satu hal: membantu orang. Kami bahkan tidak tega untuk bertanya ke siapapun di keluarga kami mengenai hal ini. Kami takut memberi beban-beban rasa bersalah ke orang-orang yang dulu merekomendasikan travel ini ke amak. Kami marah pada pemilik First Travel, sekaligus bersedih untuk ibu kami sendiri.

Bertanya Pada Nalar

Apa yang paling membingungkan bagi kami dalam kasus First Travel ini adalah, banyaknya orang yang justru membela pemilik First Travel dengan alasan khilaf, sesama muslim mesti memaafkan, atau umrah itu soal rezeki. Bahkan, yang menyakitkan, adanya kalimat “hanya mereka yang dipanggil Allahlah yang ke baitullah, yang tidak dipanggil, ya tidak bisa datang, meskipun sudah membayar, punya paspor dan tiketnya.”  Ini membuat saya teringat lagi pada peristiwa gempa dan tsunami Aceh tahun 2004, dan gempa Padang 2009. Sementara para korban, dari bayi sampai lansia, berjuang untuk hidup, sebagian orang di luar sana bukannya membantu, malah sibuk berkhotbah tentang azab dan hukuman. Kemana urat simpati mereka?

“Sebelum umrah, mestinya para calon jamaah ini menganalisis travelnya dulu. Bener apa nggak.” Ini salah satu komentar yang acap saya temukan. Coba sampaikan kalimat ini di depan nenek-nenek atau bapak-bapak yang tidak tamat SD, yang tidak tahu harga kurs, tidak tahu harga tiket pesawat, tidak tahu peraturan Kemenag. Kira-kira kalimat canggih bin ajaib ini dimengerti tidak? Begitu susahkah melihat masalah ini dari sisi korban? Begitu sulitkah untuk bersimpati–minimal sedikit saja–terhadap orang-orang lugu seperti mertua saya, yang seluruh hasil keringatnya kandas begitu saja di tangan orang-orang semacam Andika dan Anniesa Hasibuan? Kalaupun seluruh korban First Travel adalah orang berpendidikan tinggi, juga tak ada hak orang-orang lain untuk mencemooh mereka. Sejak kapan korban menjadi orang yang harus disalahkan dalam sebuah kasus? Sejak hati mati? Banyaknya orang yang membela pemilik First Travel dengan alasan-alasan tak masuk akal, membuat saya mengerti kenapa korupsi tidak juga mati-mati di bumi Indonesia.

Simpati-Empati

Kasus First Travel cukup dilihat dari jawaban pertanyaan ini: bolehkah mengambil uang jamaah umrah untuk kepentingan pribadi? Mereka yang sehat nalarnya, meski tak menempuh pendidikan tinggi, apapun agamanya, pasti akan menjawab: tidak. Di kitab suci atau di uu buatan manusia sekali pun, hal ini terlarang. Jadi, seharusnya sikap kita sudah jelas dalam memandang kasus First Travel: para pemiliknya harus bertanggungjawab penuh terhadap perbuatan mereka. Kita tidak bisa menyebutnya sebagai silap. Bagaimana kita bisa mengatakan khilaf perbuatan memakai uang jamaah bermiliar-miliar yang terjadi berkali-kali. Silap hanya kalau itu dilakukan satu kali. Silap yang berkali-kali, bukan silap lagi namanya, tapi sudah mewujud kesadaran. Mereka harus bertanggungjawab di depan hukum. Tak ada urusan dengan apa agama mereka. Jika kita percaya Islam itu adil, maka kita pasti tahu, bahwa tak ada privilege apapun dalam hal ini untuk First Travel. Keberpihakan kita sudah seharusnya ada pada korban. Merekalah yang dizalimi. Merekalah kaum mustadha’afinnya. Dan, bukankah untuk itulah Islam datang? membela mereka yang teraniaya.

 

Share Button

2 Replies to “First Travel: Begitu Sulitkah Berempati?”

Leave a Reply

Your email address will not be published.