Mencari Kedalaman Narasi dalam Tiga Sudut Pandang Dunkirk

Ini film yang seharusnya saya suka. Perpaduan setiap elemennya sangat dramatik. Sutradaranya, Christopher Nolan, adalah favorit saya, filmnya berlatar sejarah (Perang Dunia II), penata musiknya adalah Hans Zimmer, peraih Oscar dan berkali-kali masuk nominasi lewat film-film legendaris seperti The Lion King dan Gladiator. Sinematografernya? Hoyte van Hoytema yang ikut meramu film-film peraih penghargaan seperti Her, Interstellar dan Tinker Tailor Soldier Spy. Penulis skenarionya? Christopher Nolan! Ah, bagaimana bisa saya lupa kuatnya jalinan cerita The Dark Knight Rises dan Inception yang ia tulis. Aktor-aktornya? Tom Hardy dan Kenneth Branagh, langganan nominasi berbagai penghargaan. Pendek kata, semua syarat yang dibutuhkan Dunkirk untuk menjadi film perang yang sangat kuat secara emosional (semacam Saving Private Ryan), tersedia. Tapi, mengapa itu tidak terjadi?

Dunkirk berkisah tentang 300 ribu tentara yang terkepung di pantai Dunkirk pada akhir April tahun 1940. Mereka adalah tentara sekutu yang berasal dari Inggris, Prancis, Belgia, Polandia dan Belanda, terjebak di pesisir Dunkirk, sebuah kota yang terletak di Utara Prancis, berjarak 10 km dari Belgia. Para tentara ini terkepung dari segala arah, tanpa tahu kapan bisa pulang. Pantai Dunkirk tidak bisa dilabuhi kapal besar untuk mengangkut mereka kembali ke negara masing-masing. Satu-satunya cara adalah mengerahkan kapal-kapal kecil yang siap mengantar para serdadu ini ke kapal angkut di tengah laut. Tetapi, itu tidak mudah. Dari udara, kapal-kapal perang Jerman selalu bolak-balik melemparkan bom-bom untuk menghancurkan semua kapal ini. Para prajurit yang sakit dan kelaparan di pantai Dunkirk didera rasa takut dan keputusasaan tidak bisa pulang. Di tengah situasi tak menentu inilah dua serdadu Inggris, Tommy, Alex dan seorang serdadu Prancis berjuang untuk bisa pergi dengan segala cara. Mulai dari menyelundup ke kapal medis sampai mencuri kapal nelayan. Tak satu pun dari usaha itu yang berhasil. Apapun yang mereka lakukan, mereka selalu dibawa kembali ke pantai.

Inilah kisah yang disuguhkan Nolan kepada kita sepanjang 1 jam 46 menit. Di satu sisi, film ini bisa dikatakan luar biasa, buah karya dari seorang seniman film yang sudah teruji keandalannya. Sinematografinya indah. Sudut pengambilan gambarnya–yang tidak diragukan lagi diambil berdasarkan perhitungan yang matang-sangat istimewa. Bentuk penyajiannya pun unik. Nolan menyuguhkan kisah dari tiga perspektif. Pertama, dari perspektif mereka yang berjuang di darat, diwakili oleh Tommy, dkk. Kedua, dari perspektif laut, ini diwakili oleh Mr. Dawson, seorang mantan marinir. Ketiga, dari perspektif udara, diwakili oleh Farrier, seorang pilot Inggris yang menghancurkan pesawat-pesawat udara Jerman di atas perairan Dunkirk. Ketiga perspektif ini berganti-ganti sepanjang film, saya pikir, dengan tujuan supaya para penonton mendapat keutuhan kisah penyelamatan ratusan ribu tentara yang sangat heroik ini.

Namun, dari begitu banyak hal istimewa di Dunkirk, satu hal yang tidak saya dapatkan–yang sayangnya, bagian yang hilang itu adalah sesuatu yang menjadi ciri khas Christopher Nolan selama ini–adalah tidak berkembangnya karakter tokoh-tokoh ceritanya, meskipun semua tokoh itu bermain sangat baik. Hal ini mungkin karena Nolan menulis dari tiga perspektif, sehingga tidak cukup waktu untuk mengeksplorasi karakter. Atau, hal ini bisa juga dikarenakan kurangnya kedalaman narasi film itu sendiri. Sepanjang film yang kita lihat hanya aksi dan rangkaian seni fotografi film berkualitas unggul. Bandingkan dengan film Nolan yang lain semisal The Dark Knight yang narasinya sangat dalam dan kuat, atau, jika mau membandingkan dengan film sejenis, kita bisa mengambil contoh Saving Private Ryan yang begitu kuat konflik dan jalinan narasinya.

Jadi begitulah, saya sungguh ingin mencintai film ini, tapi entahlah. Saya tidak tahu apakah kecewa atau bahagia karena film ini tidak seperti ekspektasi saya. Meski begitu, saya pikir saya akan tetap menunggu karya-karya Nolan, karena bagaimana pun, dia adalah seorang jenius di bidangnya.

Haluan, 28 Agt 2017

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.