Istri Pro Poligami, Suami Pro Monogami

Bayangkanlah percakapan berikut terjadi antara suami istri yang telah menikah di atas 10 tahun, dan menjalani hidup penuh gelombang pasang. Bayangkan ini adalah percakapan mereka setelah pertengkaran kesekian yang menyakitkan.

Istri: Bang, aku minta maaf. Sudah ku renung-renungkan rumah tangga kita ini selama semalam tadi. Aku akhirnya mendapat kesimpulan, selama ini, akulah yang bersalah dalam rumah tangga kita. Aku terlalu egois. Aku tidak menimbang-nimbang perasaanmu. Saat kamu kalut, aku bukannya jadi tempat untuk menenangkan pikiranmu, malah membuatmu tambah kacau. Sekarang aku ikhlas, Bang, kalau kamu bisa lebih mendapatkan kebahagiaan bersama perempuan lain, aku rela. Aku ikhlas. Kamu tak perlu menceraikan aku. Aku pun takkan menuntut macam-macam padamu.

Suami: Dek, bertahun-tahun kita Bersama, Abang sudah kenal Adek luar dalam. Abang akui Abang letih dengan satu sisi Adek. Abang capek menghadapinya. Tapi, Abang juga tidak bisa memungkiri kalau Abang merasa sangat bahagia dengan sisi Adek yang lain. Setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan. Apa yang lebih pada diri Adek, sulit Abang temui pada diri perempuan lain. Adek suruh Abang kawin lagi? Mustahil, Dek. 99% tidak akan Abang lakukan. Jika pun ada perempuan yang memiliki kelebihan yang tidak Adek miliki, dia pasti punya kekurangan yang tidak ada dalam diri Adek. Setiap keluarga bahagia dengan cara mereka sendiri, Dek. Pernikahan itu terdiri atas deal-deal antara suami istri. Suami deal dengan Kekurangan dan kelebihan istri, istri begitu juga.

Adek suruh Abang kawin lagi? Bagaimana mungkin, Dek. Saat dulu Adek terima lamaran Abang aja, Abang merasa beruntung, masih ada perempuan yang mau sama Abang. Lalu sekarang bagaimana mungkin Abang cari perempuan lain, Dek? Apapun masalah di keluarga kita, harus kita hadapi bersama.

~

Utopia? hmm … tapi percakapan di atas menurut saya bisa saja terjadi dalam berbagai variasinya, dan saya yakin, percakapan semacam ini banyak terjadi di berbagai rumah tangga. Poin penting dari percakapan ini bukan pada poli atau monogaminya, tapi pada kesediaan keduanya, suami dan istri, untuk mencapai maqom pernikahan di atasnya: kesediaan berkorban untuk satu sama lain, ikhlas mencintai, dan tidak lagi memikirkan kepentingan diri masing-masing. Dalam rumah tangga seperti ini, saya yakin, topik poli atau monogami, tidak lagi menarik. Ya, sebab, pernikahan yang dihuni suami istri dengan jiwa tenang/muthmainnah begini, adalah pernikahan rahmah. Insyaallah dipenuhi rahmat Allah, dan segala yang tampak di rumah tangga mereka hanya kebahagiaan.

Akankah rumah tangga kita bisa mencapai level rahmah ini? Insyaallah. Allahumma amin 🙂

#catatanMalam

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.