Ketika Kelasmu Berada Sejauh 5700 KM

Ini pengalaman pertama saya mengajar sekelompok siswa yang terpisah jarak 5700 km lebih dari rumah saya di Padang. Rasanya nano-nano. Ada takjub, senang selaligus cemas sinyal ngadat. Alhamdulillah jaringan di tempat saya 4G terus, jadi akses lancar. Selama 1 jam 45 menit saya berdialog, mengajar dan mengajak siswa menulis melalui aplikasi Google Hang out.

Inilah dunia kita sekarang. Jarak bukan lagi persoalan karena kita bisa memangkasnya melalui teknologi. Padang-Mimika bisa dikatakan ujung-ujungnya Indonesia. Dari ujung barat suara dan gambar saya melayang di atas udara Indonesia untuk akhirnya masuk ke layar laptop/in focus sebuah kelas di Mimika. Ada lebih 5700 kilometer jarak yang dipangkas melalui internet. Dan ada lebih banyak hal lagi yang diperpendek teknologi, perbedaan misalnya.

Seiring kemajuan teknologi komunikasi, berubah pula cara hidup kita, dan akhirnya, cara pandang kita. Dengan demikian, ┬ásudah semestinya kita ‘welcome’ terhadap perubahan ini dan beradaptasi. Di bidang pendidikan misalnya, kita tidak bisa lagi terus menerus mengadopsi cara lama untuk mengajar anak-anak. Kita bisa meniru cara ibu guru Winda, guru anak-anak di Mimika ini, mengajar. Dia berusaha mendekatkan pelajaran ke siswa-siswanya dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Karena dia mengajar menulis kreatif, dia menghadirkan langsung penulis ke ruang kelasnya, dan mengajak murid-muridnya berdialog dengan sang penulis, saya sendiri. Dari ruang kerja saya, saya mengirimkan kertas kerja ke mereka, dan memandu mereka mengerjakannya. Itu asyik dan keren.

Siswa ibu guru Winda sedang mengerjakan kertas kerja yang saya email hari sebelumnya

Anak-anak murid ibu Winda ini enerjik dan aktif. Tak sungkan-sungkan mengajukan pertanyaan apapun pada saya. Bahkan sampai kepikiran nanya, “suaminya ganteng apa nggak?” :v :v :v . Ya ganteng dong. Seganteng cowok-cowok abegeh di kelas itu ^_^. Jawaban saya ini langsung disambut tepuk tangan meriah. Hwadehhh ^_^

Terus terang saya senang bisa hadir dalam kelas virtual seperti ini. Yah, jika kali ini hanya suara dan gambar saya yang sampai ke sana, mudah-mudahan suatu saat nanti saya sendiri bisa sampai ke sana. Udah lama saya pengen bikin novel bersetting Papua dan bisa riset langsung ke situ. Kayak novel saya yang mau terbit di Pastelbooks Mizan, ‘Jejak Sebelum 20 Tahun Berlalu’ yang mengisahkan perjalanan Bernard mencari cinta pertamanya, dengan menelusuri tempat-tempat indah di Sumbar, saya juga mau bikin kisah cinta indah yang tokoh-tokohnya menelusuri berbagai keindahan Papua ^_^. Ya, semoga bisa suatu saat nanti ^_^.

Kertas Kerja

Okeh, balik ke kelas di Mimika. Topik saya tadi (sesuai permintaan Ibu Winda) adalah Cara Menulis Kisah Fantasi. Nah, saya mengirimkan lembaran kertas kerja untuk para siswa mengenai dasar-dasar penulisan kisahnya. Secara sederhana, kisah fantasi adalah kisah yang ceritanya sama dengan cerita-cerita pada umumnya, tapi beberapa elemen di dalamnya bersifat imajiner/fantasi. Elemen itu bisa saja latarnya (seperti kisah Eragon), bisa tokoh-tokohnya (misal, naga, penyihir, makhluk-makhluk mitos).

 

Lembaran kerja yang saya berikan itu merupakan latihan dasar mereka membangun dunia fantasi sendiri. Caranya: dengan membuat peta tentang sebuah tempat imajiner (pulau fantasi) plus keunikan tempat itu yang tidak ditemui di dunia nyata. Para siswa nanti membuat cerita berdasarkan peta yang mereka buat, dengan menyertakan deskripsi tempat tersebut.

Nah, bagi yang mau mengunduh kertas kerja itu, saya membaginya di sini. Bisa diunduh di tautan berikut.

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.