Metode-Metode Unik Mengajarkan Menulis Kreatif ke Anak SMP

Sebagai guru ekskul Menulis Kreatif di sebuah SMP negeri di Padang saya dihadapkan pada hal-hal berikut:
1. Siswa mulai belajar pukul 14.00 WIB atau 14.30 WIB. Itu artinya, mereka melalui 7 jam belajar matematika, IPA, IPS, PKN, dan lainnya sebelum sampai di kelas saya.
2. Siswa memiliki PR-PR yang harus dia kerjakan, dan semua PR ini lebih penting bagi mereka untuk dikumpulkan ketimbang menyelesaikan tugas ekskul
3. Siswa masuk kelas saya dalam keadaan otak sudah penuh, fisik letih dan perut kenyang karena habis makan siang. Itu mempengaruhi kemampuan mereka untuk fokus.

Menulis Kreatif, sejujurnya, sebuah pelajaran yang berat, bukan hanya bagi anak-anak/remaja, tapi juga bagi orang dewasa. Pelajaran ini makin menjadi beban bila siswa tidak memiliki kebiasaan membaca yang baik. Tidak ada enaknya pada pukul dua siang, duduk di kelas yang gurunya sibuk menerangkan teori-teori menulis, lalu menyuruh siswa-siswanya menulis. Jangankan anak-anak itu, saya saja yang suka menulis, mungkin akan langsung berbalik saat baru saja melihat pintu kelas. Mending saya kabur, atau, kalau saya yang jadi para abege itu, duduk di teras sekolah sambil mengecek instagram saya.
Apa menariknya pelajaran menulis kreatif? Toh saya tidak mau jadi penulis, cuma mau jadi vlogger atau instagrammer, demikian mungkin pikir saya versi abege.

Bahan Belajar Saya

Saya memulai pelajaran saya beberapa hari sebelum masuk kelas. Sebagai guru ekskul, saya dibebaskan pihak sekolah untuk menyusun kurikulum belajar sendiri. Materinya umum saja sih. Mulai dari mengenal jenis tulisan, menyusun plot sampai menyusun rubrikasi media. Yang saya perlu agak berpikir keras merancangnya adalah metode belajar. Sebagus apapun materi, kalau metode penyampaiannya tidak tepat, tidak akan berhasil. Jadi, materi dan metode, dalam hal ini adalah kawan seiring sejalan.
Nah, mulai minggu ini saya akan memposting materi dan dan metode belajar Menulis Kreatif yang saya buat untuk siswa-siswa SMP saya, mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi bagi guru-guru Bahasa Indonesia di manapun berada (itupun kalau dirasa memberi inspirasi :v :v ). Mestinya saya posting dari awal dulu ya. Itulah akibatnya kalau telat mikir. Kelas udah berjalan sekian kali, baru kepikiran.
Gambar-gambar di bawah ini adalah materi Menulis Kreatif hari ini. Materinya belajar menulis artikel. Metodenya? Saya memfotokopi beberapa artikel dari majalah National Geographic, dibagikan ke setiap siswa. Satu siswa satu artikel.

Saya sengaja memilih artikel yang memenuhi unsur-unsur berikut: unik, menerbitkan rasa ingin tahu, dan kalau perlu, tendensius. Kenapa? karena bagi siswa-siswa saya yang sudah melewati 7 jam belajar, artikel-artikel serius tidak akan masuk ke otak mereka. Yang mereka perlukan adalah sesuatu yang bisa membantu merilekskan pikiran mereka. Artikel dengan ciri yang saya sebutkan di atas, saya pikir, memenuhi kebutuhan itu.
Saya juga memiliki beberapa lembar kertas kerja untuk mereka.


Ini adalah kertas kerja pertama. Isinya meminta mereka menulis opini mereka terkait artikel yang dibaca (cukup satu atau dua kalimat), lalu tulis beberapa argumentasi yang mendukung opini itu.
Ini adalah pelajaran dasar mereka menulis artikel opini. Ya, oke, mungkin beberapa di antara yang baca ini berpendapat materinya terlalu sederhana untuk anak SMP (ini bahkan pelajaran homeschooling putri saya yang masih 8 tahun), tapi, berhadapan dengan anak-anak, yang meski sekolah di sekolah favorit, namun belum bisa menyusun argumentasi yang baik dan benar untuk sesuatu, seorang guru tidak mungkin memberi materi yang lebih rumit dari ini. Pelan-pelan, ibarat membangun rumah, anak-anak diajarkan membuat pondasinya terlebih dahulu, sebelum akhirnya nanti menyusun dinding batanya.

Ini adalah kertas kerja 5W+1H, demikian saya menyebutnya. 5W+1H (who, what, where, when, why, how) adalah enam unsur penting dalam sebuah tulisan. Ini adalah materi yang nyaris selalu saya ulang di setiap belajar. Saya pikir, saya akan terus memberi materi ini, sampai secara alamiah, anak-anak memasukkan keenam unsur ini dalam tulisannya. Ada banyak metode yang saya lakukan untuk mengajarkan 5W+1H ini, kertas kerja ini adalah materi/metode yang ke sekian. Saya meminta anak-anak untuk mengisi 5W+1H artikel yang mereka baca ke dalam daftar ini.

Ini adalah kertas kerja flashnews, alias berita kilat. Berdasarkan informasi dari artikel yang dibaca, anak-anak akan membuat berita singkat.
Apa ini? Nah, ini lembar hiburannya. Menghibur sekaligus membantu menguatkan kemampuan analisis anak-anak. Saya selalu suka memberikan lembaran maze ke siswa saya, sebab, maze menguatkan kemampuan analisis matematis.

Cukup? Tidak. Ketiga materi ini malah serupa materi sampingan kelas saya sebenarnya. Materi awal yang saya beri ke mereka adalah ini: facebook-facebookan.

Mereka memulai kelas dengan meng-update status di lembaran tersebut. Status tidak boleh menggunakan bahasa alay dan kasar. Setelah update status, mereka harus menyebarkan kertas ini ke teman-teman selokal untuk dikomentari. Komentar juga tidak boleh menggunakan bahasa alay dan kasar. Ini adalah metode sederhana saya untuk mengajarkan anak-anak literasi media, sekaligus adab bermedia sosial. Selain itu, dengan cara ini, saya juga melatih anak-anak berbahasa Indonesia dengan baik, meski bahasa yang dipakai tidak baku. Maksud lain dari memberi materi ini adalah juga untuk merilekskan pikiran mereka. Mungkin hari ini mereka memiliki emosi-emosi yang terpendam yang membuat psikis mereka letih. Dengan meng-update status seperti ini, mereka bisa melepaskannya meski sedikit.

Apakah asumsi saya benar? Boleh jadi, sebab sebagian besar di antara update status mereka berisi curhat yang sangat personal, yang tentu saja tidak akan saya bagikan di sini ^_^

Nah, semoga memberi inspirasi ^_^
Sampai jumpa di postingan materi berikutnya.

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.