My Cousin Rachel: Ketika Imajinasi Pembaca Bertengkar dengan Imajinasi Sutradara

Ada dua resiko yang akan seseorang dapatkan ketika menonton film yang diangkat dari buku. Pertama, dia bisa menjadi sangat menyukainya, dan kedua, tidak menyukainya hingga berharap tidak pernah menonton filmnya. My Cousin Rachel, bagi saya, agak condong ke poin kedua ini, dengan beberapa pengecualian (Well, itu artinya ada pilihan ketiga).
My Cousin Rachel adalah kisah yang diangkat dari novel klasik karya Daphne du Maurier. Novel ini menjadi begitu terkenal karena (saya pikir), banyak menjebak pembaca dengan ragam pertanyaan mengenai karakter dua tokoh utamanya, Philip Ashley dan Rachel. Tidak mudah menebak siapa protagonis dan antagonis di novel ini, karena keduanya, sama-sama menunjukkan dua karakter ini. Philip adalah seorang pewaris kekayaan yang sangat obsesif terhadap apa saja yang dimilikinya atau yang mungkin bisa dimilikinya. Rachel adalah sepupunya, janda Ambrose, sepupu Philip (dan juga sepupu Rachel) yang tindak tanduknya tidak tertebak. Du Maurier, sang penulis, sangat lihai menggiring pembaca untuk mencurigai Rachel sebagai seorang pembunuh, melalui rangkaian surat-surat Ambrose yang terlambat datang pada Philip, namun, di akhir cerita, kecurigaan ini pudar karena tindak-tanduk Rachel mengesankan bahwa dia sang protagonis. Hal sebaliknya terjadi pada Philip. Di awalnya pembaca melihat betapa tertekannya dia akan superioritas Rachel yang pelan-pelan menggerogoti kekayaannya, namun, menjelang akhir cerita simpati ini memudar. Simpang siur karakter inilah yang membuat  novel My Cousin Rachel sangat kuat, jalinan ketegangannya begitu memikat. Jadi, ketika kemudian film ini diangkat (kembali) ke layar lebar dengan bintang utamanya Rachel Weisz (bermain diantaranya dalam The Mummy, The Bourne Legacy) dan Sam Claffin (Me Before You, The Hunger Games), ada ketertarikan yang cukup tinggi untuk menontonnya, mengingat Weisz adalah aktris yang selalu bermain baik di setiap filmnya, dan Claffin adalah bintang baru yang tengah bersinar namanya).
Roger Michell, sang sutradara yang juga penulis skenario, memulai film ini dengan pikiran-pikiran Phillip Ashley, yang disampaikan bersamaan dengan latar alam Cornwall yang mempesona. Beda dari novelnya, yang langsung menguras emosi dan ketegangan dengan adegan saat Phillip kecil dan sepupunya, Ambrose, menemukan mayat tergantung di sebuah ladang, film ini dimulai dengan penggambaran akan kuatnya jalinan hubungan antara Phillip dan Ambrose. Philip diasuh Ambrose saat umurnya masih tiga tahun, dan yatim piatu. Ini membuat Ambrose, bagi Phillip, bukan hanya sekadar sepupu, tapi juga seorang ayah. Jadi, ketika suatu hari, karena sakitnya, Ambrose memutuskan pergi ke sebuah tempat yang memiliki banyak sinar matahari, seperti Italia, Phillip merasa kehilangan. Situasi makin buruk bagi Phillip ketika Ambrose menulis surat bahwa ia menikah dengan seorang janda bernama Rachel, dan tidak akan kembali lagi. Phillip yang saat itu sudah hampir berusia 25 tahun merasa sangat marah dan khawatir. Perasaan itu makin bertambah saat menerima surat Ambrose berikutnya, bahwa Rachel ternyata tidak seperti yang Ambrose pikirkan sebelumnya. Ia bahkan mulai mencurigai Rachel berencana membunuhnya.
Terdorong oleh kekhawatiran akan keselamatan Ambrose, Phillip memutuskan berangkat ke Italia dan menemukan satu kenyataan menyedihkan, Ambrose sudah meninggal. Kesedihan dan kemarahannya kemudian ditujukan pada Rachel yang menurutnya sudah membunuh Ambrose. Namun, Rachel sudah pergi dari Italia. Dengan putus asa Phillip kembali ke Cornwall, Inggris, hanya untuk menemukan satu hal: Rachel datang ke Cornwall. Bukan untuk berkunjung atau basa-basi perkenalan, tapi untuk tinggal. Rasa dendam yang membara di hati Phillip untuk Rachel saat meninggalkan Italia tiba-tiba sirna melihat betapa cantiknya Rachel, dan betapa bagusnya sopan santunnya. Phillip, tanpa sadar, langsung jatuh cinta pada Rachel, dan mulai memberikan segalanya pada perempuan itu. Bukan hanya seluruh perhiasan warisan keluarganya, tapi juga seluruh warisan Ambrose. Sepanjang cerita kita dihadapkan pada dugaan-dugaan tipu daya, kelicikan berkedok senyuman dan kecemasan-kecemasan akan nasib kedua tokohnya.  Akhir cerita yang tidak diperkirakan, membuat dugaan-dugaan ini terus menetap dalam benak kita.
Sebagai sebuah novel, My Cousin Rachel adalah sebuah cerita yang sangat hebat dengan konflik yang begitu menawan. Penokohan dan emosinya sangat kuat. Sebagai sebuah film, cerita ini berjalan nyaris tanpa suspens, meski dilabeli film romantic-thriller. Perbedaan ini sudah terlihat jelas sejak awal film.  Du Maurier memulainya dengan, “They used to hang man at Four Turnings in the old days.” Sementara Michell memulainya dengan, “Did she? Didn’t she? Who’s to blame?” Du Maurier lebih kongkrit, sementara Michell memulainya begitu abstrak.
Apakah saya kecewa dengan filmnya? Semestinya tidak, karena bagaimanapun, ketika sebuah kisah difilmkan, kisah itu tidak lagi imajinatif. Imajinasi pembaca sudah dibatasi oleh imajinasi sutradara. Semestinya, saya mengambil posisi itu. Tetapi, karena saya terlanjur menyukai novel Du Maurier ini, perasaan ini jadi tak terhindarkan. Mungkin lain kali saya harus mengosongkan gelas saya dahulu, sebelum mulai menikmati film yang diangkat dari buku. saya harus ingat untuk tak perlu susah-susah membandingkan imajinasi saya dengan imajinasi sang sutradara. Tonton saja yang ada dan nikmatilah.
Share Button

2 Replies to “My Cousin Rachel: Ketika Imajinasi Pembaca Bertengkar dengan Imajinasi Sutradara”

  1. dicky

    jadi penasarann…jadi sebenernya yg bunuh ambrose siapa yaa? soalnya ada surat yg di selipan buku yg mengatakan ambrose diracun rachel…, klo menurut novel nya ending nya gimana,?

Leave a Reply

Your email address will not be published.