Bagaimana Kita Belajar Memaafkan

Perjalanan  adalah seni menemukan hal-hal tak terduga, demikian ucap Bernard Hadison, tokoh dalam novel terbaru saya  “Jejak Cinta 20 Tahun Berlalu” yang diterbitkan Pastelbooks, Mizan, dan sudah bisa didapatkan di Indonesia International Book Fair, di JCC, Jakarta, yang berlangsung pekan ini. Dan saya sungguh tidak mengira, kalau apa yang akan saya temukan di perjalanan kali ini adalah sebuah ingatan yang selama puluhan tahun tersembunyi di lapisan bawah memori saya. Ingatan itu bernama hiasan bulu putih, mari dinamai saja begitu.

Pada saat saya berumur lima tahun (masih TK), saya dipilih bersama 4 atau 5 anak lain untuk tampil di sebuah pementasan. Saya dan teman-teman berlatih menari setiap pulang sekolah selama sekitar 10 hari. Saya ingat perasaan saya ketika untuk pertama kali melihat baju seragam tari saya. Warnanya biru pekat, berkilat-kilat, dan berlipit, mengingatkan saya pada baju Ratu dari Negeri Dongeng yang sering saya baca kisahnya di Majalah Bobo ketika itu. Tapi, waktu itu saya tidak merasa jadi sang ratu, melainkan Nirmala, salah satu putri di istana sang ratu, meski warna baju Nirmala merah jambu.

Pagi jelang pementasan, saya dan teman-teman mulai dirias. Sebagai aksesoris, orang tua kami diminta untuk membeli hiasan rambut berwarna putih. Ibu saya–yah namanya juga ibu yang sangat bersemangat pada pementasan pertama anaknya,  membelikan saya hiasan rambut putih berbunga dan berbulu yang luar biasa cantik, beda dengan teman-teman saya yang hiasan rambutnya nyaris sama, berbentuk kipas putih. Alhasil, hiasan rambut saya mencolok sendirian, itu membuat saya langsung menjadi pusat perhatian di antara tim tari saya. Begitu teman-teman saya menyadari itu, mereka langsung jengkel, marah-marah pada saya, dan buntutnya, mengucilkan saya. Mereka sibuk membicarakan hiasan rambut saya yang beda. Selanjutnya, apapun yang saya lakukan dipandang salah oleh mereka. Bahkan, ketika saya membantu mengambilkan hiasan rambut salah satu dari mereka yang terlepas karena jepitannya tidak kuat, saya juga yang salah. Mereka semua malah ramai-ramai menuduh saya penyebab lepasnya hiasan rambut itu, entah dimana logikanya. Saat mulai menari di panggung, mereka semua berjarak dari saya. Itu adalah awal dari ragam peristiwa pembulian yang terjadi pada saya, sejak masa kanak-kanak, (bahkan) hingga dewasa.

Semua peristiwa ini saya ingat kembali–tanpa sengaja– saat saya melihat gantungan bulu cantik, yang mirip hiasan bulu-bulu di kepala saya kala itu, yang tergantung di kaca depan bus yang saya tumpangi. Tanpa itu, semua ingatan ini akan tetap terkubur di samudera ingatan yang begitu luas dan dalam. Ingatan ini memancing ingatan-ingatan berikutnya. Rentetan kejadian buli tahun demi tahun yang–kini saya sadari–ikut membentuk sudut pandang akan hubungan dengan orang lain.

Saya bukannya tidak sadar pada trauma-trauma psikis akibat buli ini (mulai dari buli lisan sampai buli fisik yang menyakitkan). Sejak memasuki usia 20 tahun, seiring bertambahnya pengalaman hidup saya (apalagi sejak usia 19 tahun saya sudah mandiri sama sekali. Saya tidak menerima bantuan keuangan apapun lagi dari orang tua. Sebagai anak usia belasan yang tinggal sendiri di rantau orang, saya menerima bertubi-tubi pelajaran hidup yang berharga), saya mulai belajar untuk menelisik diri sendiri. Saya belajar membongkar batin saya. Melakukan semacam upaya forensik jiwa, untuk mengetahui kenapa saya bersikap begini dan begitu. Seiring tahun berjalan, banyak file trauma yang saya bongkar dan perbaiki. Ibarat anti virus, saya memindai virus-virus negatif ini dan melakukan berbagai upaya untuk membersihkannya. Pertama-tama, dengan menerimanya. Penerimaan mempermudah saya memahami, baik diri sendiri, si pembuli, maupun buli itu sendiri. Sebagian besar dari bulian ini sudah saya maafkan, sebagian lagi, yang persentasenya kecil, dalam proses ‘loading’ memaafkan. Nyaris setiap hari saya memindai fila-file hidup saya untuk menemukan virus-virus yang merusak.

Setelah menerima, upaya kedua yang saya lakukan adalah, mengeluarkan virus itu. Saya mengeluarkannya melalui (antara lain) tulisan-tulisan saya. Ada trauma yang saya keluarkan secara samar, di setiap tulisan, ada yang secara eksplisit saya sampaikan. Bentuk-bentuk penyampaiannya beragam dan hanya saya dan suami saya yang tahu di bagian mana tulisan itu ada. Kenapa suami? Karena saya menceritakan segalanya pada dia supaya dia memahami saya dengan sebenar-benarnya. Karena dia membaca semua tulisan saya, dari yang paling konyol dan tak penting, sampai ke yang paling serius.

Semua orang memiliki trauma-trauma dalam hidupnya, dan itu membentuk karakternya, serta pandangan dunianya. Ada yang tanpa sadar tetap memilih bersama traumanya, ada yang secara sadar berupaya membersihkannya agar ia bebas dari emosi-emosi negatif.

Pada saat menulis ini, di paragraf terakhir ini, tiba-tiba saya menyadari satu hal. Mungkin inilah jalan yang harus saya lalui untuk menjadi penulis. Sebab tanpanya, mungkin saya  tidak akan punya momen apapun untuk dibagi.

Hidup memang penuh misteri.

(9/9/2017, di atas bus Jasa Malindo)

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.