Anak-Anak Kurang Semangat Menulis? Coba Trik Writing Kit

Sabtu, 9 September 2017 lalu saya menangani sebuah kelas menulis kreatif anak usia SD. Ini adalah kelas rutin saya. Belakangan ini, kesibukan pengajaran literasi saya banyak berkutat di seputar anak-anak usia SD-SMA, seakan-akan saya sudah ditahbiskan punya spesialisasi di bidang ini, padahal enggak juga. Nah, karena sekarang saya bertekad untuk menampilkan materi dan metode-metode pengajaran saya di blog, pelajaran Sabtu lalu juga akan saya posting di sini.

Sebelum mulai merancang materi, pertama-tama, kita harus lihat dulu audiens kita, lalu kenali mereka. Anak-anak umumnya belajar dari sesuatu yang kongkret dan sangat tertarik pada sesuatu yang sifatnya imajinatif (orang dewasa sih juga sebenarnya). Tetapi, ini belum cukup. Jika dalam belajar anak-anak diberi tugas menulis di buku catatan, mereka akan merasakannya sebagai beban yang harus diselesaikan, kecuali mungkin untuk sebagian kecil anak. Untuk menghindari itu, sebaiknya lembaran tugas dikesankan sebagai hadiah atau sebuah permainan yang menarik untuk diselesaikan. Semua orang menyukai hadiah, dan semua orang menyukai permainan menarik, termasuk anak-anak. Jadi, mengapa kita tidak membuat sebuah kertas kerja yang didesain jadi lembaran permainan?

Nah, ini adalah materi saya Sabtu ini. Saya menyebutnya sebagai Writing Kit atau Paket Menulis.

Writing Kit saya

Seperti yang terlihat, paket ini saya taruh dalam sebuah amplop karton yang bagian tengahnya transparan. Kenapa transparan? Supaya anak-anak bisa melihat apa yang ada di dalamnya. Yaitu, kue. Yep! Anda suka kue? sama, anak-anak juga. Memasukkan snack ke dalam paket belajar anak-anak merupakan salah satu tips favorit saya. Makanan akan membantu mereka tetap bahagia dan fokus dalam belajar. Kalau saya lihat anak-anak sudah mulai ‘destruktif’, atau tak fokus, ribut dan yang semacamnya, saya tinggal mengajak mereka makan kuenya, dan kelas pun hening kembali 😀

Eits, tetapi mengapa harus ada kue? Ya, ini bukan sekadar hadiah, tapi kue ini ada hubungannya dengan tema paket menulis saya, yaitu: perayaan. Perayaan apa? Perayaan kelulusan Vani. Siapa Vani? Tokoh rekaan saya. Dan demikianlah saya memulai pelajaran. Saya mendongeng tentang seorang anak perempuan yang merayakan kelulusannya. Kelulusan apa? Kelulusan ujian tae kwon do? ujian naik tingkat les bahasa Ingris? Dapat beasiswa? Entah. Pokoknya dia lulus. Itu saja. Lulus dari apa, saya minta anak-anak mengarangnya sendiri.

Nah, sambil mendongeng tentang si Vani (dongeng yang tidak mendetail, karena saya ingin anak-anak yang mengarang sendiri detailnya), saya mengeluarkan isi writing kit ini. Apa saja? Cekidot.

Isi writing kit saya seperti ini

Nah, inilah isinya. Ada 10 lembar kertas di dalamnya. Woaaa … banyak. Hmm … banyak tapi menyenangkan kok. Nggak percaya? Ayok lihat lembaran permainan ini satu satu.

  1. Ini adalah lembaran mimpi. Vani punya seorang teman yang sangat bersemangat pada perayaan kelulusannya. Saking bersemangatnya, ia sampai memimpikan sesuatu pada malam sebelum pesta. Apa mimpinya? Entah. Saya tidak tahu, karena mimpi itu ada dalam kepala anak-anak. Mereka mesti menggambar apa mimpi Vani.

Apa isi mimpi Vani? Yuk kita lihat salah satu karya anak-anak.

Ternyata dia bermimpi tentang … ular? Mengapa ular? jawabannya akan saya ketahui di lembaran cerita, tapi saya menahan diri untuk tidak langsung membacanya. Saya menikmati imajinasi mereka.

2. Lembaran Hadiah. Teman Vani ingin memberi hadiah untuknya. Kira-kira anak bernama Hari ini ingin memberi hadiah apa ya? Oh, ternyata, dia berpikir sebaiknya hadiah Vani adalah seekor … KUDA NIL :v :v :v

3. Lembaran makanan. Hmm … kira-kira anak-anak akan diberi makanan apa ya di perayaan Vani? Ada yang menggambar es krim, ada yang menggambar ayam goreng, nasi dan kentang.

4. Peta rumah Vani. Ya, tentu saja kita harus tahu rumah Vani di mana. Kira-kira, jalan menuju rumah Vani seperti apa ya? Salah satu murid saya yang sangat rapi, membuat jalan dan rumah dengan rol. Mengukurnya panjangnya dengan cermat. Yang lainnya coret-moret aja, sekadar untuk ngasi tahu bahwa jalan ke rumah Vani kayak gini lho. Mengingatkan saya pada super kreatifnya peta saya sendiri, yang saking kreatifnya, tak ada orang yang bisa membacanya :v :v :v

5. Yah, ini lembaran maze. Lembaran permainan yang selalu disukai murid saya. Saya suka menyelipkannya karena mengerjakan ini membuat mereka lebih gembira. Tema mazenya adalah: temukan jalan yang benar ke rumah Vani. Gak nyambung ya sama petanya, tapi ya sudahlah :v :v :v

6. Ini lembaran buku saku. Apa yang harus ditulis di sini? Saya serahkan pada imajinasi anak-anak. Ada yang menulis ini adalah semua hadiah boneka yang diterima Vani. Anak tersebut menulis nama pemberi di bawah setiap gambar. Kreatif juga

7. Lembaran wajah. Yes! seperti apakah wajah si Vani yang kita bicarakan ini sodara-sodara? Begini wajahnya menurut dua murid saya. Ada juga yang menggambarnya sebagai anak perempuan berkaca mata, ada juga yang menggambarkan dia sebagai cewek periang dengan sebelah mata mengedip, ada juga yang menggambarkan Vani sebagai anak perempuan dengan bekas luka di pipinya. Hmm …kreatif.

8. Lembaran menulis. Yes! Nah, setelah kita bermain dengan gambar dan maze, mari tulis ceritanya. Seperti apa? Nah ini dia. Cerita mereka lucu-lucu dan bagus semua.

9. Stiker

Kenapa stiker? Karena umumnya anak-anak suka stiker untuk ditempel di lembaran kerjanya, jadi ya, saya beri masing-masing mereka dua stiker 😀

Pertanyaan yang mungkin diajukan untuk saya:

Kenapa kok materinya kayak gini? tujuannya apa?

Yes. Mari dijawab satu-satu.

  1. Setiap lembaran merupakan bentuk kongkret dari teori 5W+1H dalam menulis. 5W+1H adalah Who, where, why, what, when, dan how. Lembaran wajah Vani adalah bentuk kongkret who. Seperti apa dia? siapa dia? bagaimana deskripsi fisiknya? Kalau anak-anak bisa menggambarkannya dengan baik, mereka pasti bisa menuliskannya dengan baik pula. Contoh: Vani akan merayakan kelulusannya hari Sabtu ini. Dia anak perempuan yang lucu. Dia berkaca mata dan di wajahnya ada bekas luka. <– ini deskripsi sederhana fisik Vani.  Lembaran peta? itu bentuk kongkret dari where. Dimana dia tinggal? Bagaimana jalan ke rumahnya? Berapa lama waktu tempuhnya? dll. Lembaran mimpi? Itu bentuk kongkret dari when dan why. Maksudnya? Ada kata kunci di situ: Sebelum perayaan Fiko bermimpi … kapan dia bermimpi? Sebelum pesta Vani? Jadi kapan tepatnya pesta Vani? Mengapa Vani berpesta? Untuk apa? Anak-anak akan menjawabnya di lembaran cerita. Lembaran hadiah? makanan? itu bentuk kongkret dari how alias bagaimana perayaan itu terjadi.
  2. Belajar itu mesti serius, tapi yang perlu diingat, serius tidak sama dengan kaku. Serius dalam hal ini adalah sifat belajar, permainan adalah metodenya. Permainan atau bermain, tidak sama dengan bermain-main. Kata kedua tidak mengandung keseriusan.

Pertanyaan selanjutnya: ini mesti beli bahannya ya? mahal ya? Begini, saya memang mengeluarkan biaya untuk ini,  tapi tidak banyak. Total harga tidak sampai 30 ribu. Apakah itu masalah? saya pikir tidak. Karena saya pikir, saya dibayar cukup untuk pekerjaan ini.

😀

Nah, terima kasih sudah mengikuti materi Sabtu ini. Sampai jumpa di waktu berikut. Dadah 😀

O ya, ini bonus. Anak-anak saya ikut membantu saya mengemasi writing kit ini :D. Sebagai ucapan terima kasih, mereka boleh mendapatkan kuenya dan mengisi permainan di writing kitnya 😀

Share Button

2 Replies to “Anak-Anak Kurang Semangat Menulis? Coba Trik Writing Kit”

    • admin

      ada printable-nya, tapi karena menyangkut hak cipta gambar, nggak bisa kk bagi di sini :D. Nurul cari saja gambar-gambar serupa via Google 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.