Jejak Cinta: Ketika Perjalanan Membawamu Pada Hal Paling Tak Terduga

Bagaimana rasanya karam selama 20 tahun oleh cinta tak berbalas? Pertanyaan ini terus berputar di benak saya, suatu hari pada tahun 2015. Pertanyaan ini membawa saya ke pertanyaan-pertanyaan lain tentang hidup, cinta dan kebahagiaan hingga akhirnya saya memutuskan mencari jawabnya dalam sebuah novel. Saya berjalan dari satu tempat ke tempat lain di Sumatra Barat untuk menemukan hal-hal yang sebelumnya tak terpikirkan oleh saya. Saya berlayar di perairan Mandeh yang hangat oleh cahaya matahari Samudera Hindia, di Pesisir Selatan, berhujan-hujan di sebuah kampung di Tanah Datar yang tak ditemukan di Google Maps dan gemetar karena kedinginan di lima air terjun Lembah Harau. Perjalanan adalah seni menemukan hal-hal tak terduga, demikian kesimpulan saya. Banyak pengalaman yang saya dapatkan, terutama dalam hubungan dengan manusia dan alam semesta. Saya merangkum semua jawaban yang saya temukan dalam sebuah novel yang saya mulai penulisannya di bulan-bulan awal 2017. Alkisah …. demikian saya memulai, ada seorang lelaki bernama Bernard Hadison yang terbangun pada suatu pagi dengan ingatan akan Rinjani, perempuan berambut ikal yang diam-diam dicintainya. Perempuan itu sudah berlalu selama 20 tahun dari hidup Ben, demikian dia biasa dipanggil, tetapi cinta Ben terhadapnya tak berkurang satu noktah pun. Begitu mendengar Rinjani sudah kembali sendiri, dia memutuskan kembali dari Leiden, kota pelariannya selama 20 tahun ini, menuju Sumatra Barat, tempat dia kehilangan Rinjani. Bertiga bersama dua keponakannya, Abby dan Keegan, ia menelusuri setiap sudut Sumatra Barat untuk menelusuri keberadaan perempuan yang selama ini cuma ada dalam mimpi-mimpinya. Dapatkah dia menemukannya? Apakah yang akan terjadi ketika ia menemukannya?

Novel yang kemudian diberi judul Jejak Cinta  20 Tahun Berlalu ini merupakan sebuah kisah pencarian. Bukan pencarian ke luar diri, tapi ke dalam diri sendiri. Saya menjalin kisahnya dengan latar budaya, wisata dan kuliner ranah Minang. Terkadang, kita berkelana ke manapun, entah secara fisik atau batin/pikiran untuk menemukan jawab akan sesuatu, meski sebenarnya, jawaban itu sudah tersaji di hadapan kita sendiri. Kita tidak menemukannya terkadang karena kita terlalu takut untuk menghadapi kenyataan-kenyataan. Pencarian, dalam hal ini, tak ubahnya semacam kamuflase pikiran untuk mengalihkan kita dari melihat kebenaran.Hal inilah yang kemudian dirasakan Bernard Hadison. Pelarian dan pencarian-pencariannya selama ini, ternyata tidak membawanya kemana-mana, karena segala jawab yang ia butuhkan sebenarnya sudah tersaji di ruang batinnya sendiri.

Novel Jejak Cinta, beda dengan novel saya sebelumnya Habibie Ya Nour El Ayn yang lebih puitis dan dramatis, dikemas dalam bahasa ringan, karena ditulis dalam sudut pandang Abby, keponakan Bernard Hadison yang menyertai pamannya dalam perjalanan mencari Rinjani. Abby adalah cewek pintar, berusia 20 tahun, yang selalu dengan cerewet mempertanyakan segala maksud perjalanan sang paman. Bersama dia juga ikut Keegan, keponakan Bernard yang lain, yang merupakan sepupu satu kakek buyut Abby. Mereka berdua, Abby dan Keegan, sebenarnya sama-sama saling jatuh cinta, namun enggan mengakui dan memilih mempertanyakan hati mereka masing-masing, ketimbang menerima perasaan mereka. Pada akhirnya, perjalanan bersama Bernard Hadison, membuat mereka berhenti sejenak dan melihat ke dalam diri sendiri. Mereka dewasa bersama perjalanan itu. Inilah pamungkas novel Jejak Cinta, bahwa, perjalanan sesungguhnya seni menemukan hal-hal tak terduga: jati diri, pencarian makna hidup, eksistensi, dan lainnya.

Bagi yang ingin mendapatkannya, buku ini sudah ada di toko buku, atau bila yang ingin membeli online, sila meluncur ke sini.  Terima kasih. Salam

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.