Kualitas Kata, Bukan Kuantitas yang Menentukan Kemampuan Berbahasa Seorang Anak

Judul ini saya salin dari sebuah artikel tentang sebuah studi yang dilakukan oleh Kathryn Hirsh Pasek, seorang profesor psikologi di Temple University. Penelitiannya ini sangat menarik karena secara gamblang mengemukakan penyebab mengapa kemampuan berbahasa anak dari keluarga A lebih maju ketimbang anak dari keluarga B. Kebiasaan berbahasa keluarga, terutama orang tua atau pengasuh bayi, menjadi faktor penentu kemampuan ini. Yang paling menarik, kualitas kata-kata, tepatnya kualitas interaksi yang melibatkan kata, dan bukan kuantitas yang menentukan seberapa baik kemampuan berbahasa seorang anak.

Apa yang dimaksud dengan kualitas itu adalah, percakapan yang:

  1. Melibatkan benda atau lambang, misal, “Hei, lihat ada bulan purnama. Bentuknya bulat dan cerah.”
  2. Percakapan tentang sebuah ritual, misal, “Sudah waktunya tidur nih, Dek, ayo kita cari buku untuk dibaca. Adek mau buku apa yaaaa?”
  3. Percakapan yang sifatnya melancarkan pembicaraan anak, misal, anak bicara, “cang … cang …” saat menunjuk pisang, maka orang tua bisa berkata, “Iya, Nak, itu pisang. Adek mau pisang? Boleh. Bunda kupasin ya kulitnya.”

Hasil penelitian yang dipublikasikan tahun 2014 itu secara jelas menekankan bahwa cara bicara orang tua atau pengasuh bayilah yang mendorong pesatnya kemampuan berbahasa. Hasil penelitian ini mendukung studi yang dilakukan Betty Harts dan Todd R. Risley pada tahun 1995 yang menemukan bahwa nada bicara orang tua, respon serta mengajar bicara dengan menggunakan simbol-simbol membantu meningkatkan intelijensi dan kosa kata.

Studi ini dilakukan pada bayi berusia antara 11 – 14 bulan, dengan prediksi pada usia 2 tahun mereka bisa bicara dengan cukup lancar atau jelas.

Jadiiiii, kesimpulannya, banyaklah berinteraksi dengan anak, respon dia, bercakap-cakaplah dengannya. Jauhkan dia dari gawai. Insyaallah, perkembangan bicaranya akan bagus.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.