Menumbuhkan Budaya Baca dengan Membangun Jaringan Literasi Daerah

Oleh Maya Lestari Gf

Novelis dan Pendiri Kelas Kreatif Indonesia

Selama empat tahun bergerak atas nama Kelas Kreatif Indonesia (KKI), komunitas yang saya dirikan bersama beberapa teman untuk mengembangkan kemampuan literasi siswa sekolah dasar di Padang, saya menemukan dua persoalan pokok. Pertama, sumber daya sekolah sangat terbatas untuk menyediakan buku-buku yang dibutuhkan siswa, kedua, jika sekolah memiliki buku di perpustakaan, sebagian besarnya bukan jenis buku yang menarik minat siswa. Dua hal ini, meski tampaknya butuh sumber daya besar untuk mengatasinya, namun, dari pengalaman KKI, ternyata pemecahannya begitu sederhana. Kuncinya ada pada kerjasama, kemauan serta kemampuan membangun jaringan literasi masyarakat. Berikut uraian saya yang didasarkan atas pengalaman KKI selama ini.

Mendongeng ‘based on book’ merupakan salah satu cara KKI untuk menarik perhatian anak pada buku

Fase Emas

Ada satu alasan mengapa KKI lebih menaruh perhatian pada pengembangan literasi anak-anak usia sekolah dasar. Hal ini karena semakin dini seorang anak terpapar pada bacaan, akan semakin besar peluang mereka untuk menjadi lebih cerdas di masa depan. Fase usia <12 tahun adalah fase emas pengajaran literasi. Berbagai studi, di antaranya yang dilakukan oleh Edinburg and King’s College London terhadap 2000 kembar identik selama sembilan tahun menunjukkan, kecerdasan merupakan hasil stimulasi terus menerus sejak kecil. Anak yang rutin mendapat stimulasi bacaan memiliki kecerdasan yang lebih tinggi ketimbang kembarannya yang tidak mendapatkan perlakuan sama. Hal ini karena membaca melatih seorang anak untuk memvisualkan gambaran yang ada di buku dengan imajinasinya. Ini akan menguatkan kemampuannya berpikir abstrak, sesuatu yang ia butuhkan ketika mempelajari matematika dan sains. Wajar kiranya, jika kemudian banyak negara-negara maju memprioritaskan program membaca di kalangan anak usia sekolah dasar. Masa kecil adalah masa pembangunan pondasi intelektual. Jika pondasinya dibangun dengan baik, kita bisa berharap mendirikan bangunan megah dan tinggi di atasnya.

Problem Sekolah

Apa sesungguhnya problem sekolah-sekolah dasar yang membuat kurang terbangunnya budaya membaca di kalangan siswa? KKI mencatat dua hal, sebagaimana yang sudah disampaikan di bagian awal tulisan ini. Dua masalah ini memiliki empat persoalan turunan sebagai berikut.

Satu, sekolah yang tidak punya sumber daya memadai tidak tahu bagaimana menemukan cara alternatif untuk memenuhi kebutuhan membaca siswa

Program KKI bersama Perpustakaan Provinsi Sumbar

Dua, sekolah yang punya sumber daya memiliki buku-buku yang kurang menarik minat siswa. Masalah kedua ini memiliki cabang masalah lagi, yakni, buku-buku yang tersedia tidak disesuaikan dengan tingkatan usia anak, kurang imajinatif sehingga membosankan, rata-rata temanya seragam atau kurang variatif.

Tiga, sekolah yang punya sumber daya kurang melakukan upaya untuk menarik perhatian anak terhadap buku. Sekolah menganggap, kalau perpustakaan sudah penuh buku, maka itu berarti cukup, padahal, buku dalam hal ini sebatas potensi atau stimuli, untuk menjadikannya berdaya, perlu stimulasi, atau upaya lanjutan dari sekolah.

Empat, kurang terbangunnya kemitraan sekolah dengan orang tua untuk membangun budaya baca di kalangan siswa. Peningkatan minat baca tidak bisa hanya dikerjakan salah satu pihak. Orang tua dan sekolah dalam hal ini harus bekerja sama untuk mencapai tujuan.

Sumber Daya Sekolah dan Upaya Melakukan Stimulasi

Kegiatan mendongeng berdasarkan buku, menulis kreatif dan bagi-bagi buku di salah satu SD di Kabupaten 50 Kota

Apa yang dilakukan KKI selama empat tahun ini adalah membangun jaringan literasi untuk memecahkan beberapa kebuntuan. Dua persoalan pokok menumbuhkan budaya baca di atas, bersama empat turunannya, bisa diatasi dengan membangun jaringan literasi antar lembaga, baik yang bersifat swadaya masyarakat maupun instansi pemerintahan. Berikut uraiannya.

Kegiatan bersama salah satu Pesantren Al Kautsar

Persoalan pertama, terbatasnya sumber daya sekolah.

Jika sebuah sekolah tidak memiliki sumber daya memadai untuk mendirikan sebuah perpustakaan, maka ia bisa bekerja sama dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (DKP) setempat untuk menyuplai buku-buku ke siswanya.  DKP memiliki sumber daya luar biasa, baik berupa buku maupun SDM. Mobil pustaka keliling DKP bisa melakukan kunjungan rutin ke sekolah-sekolah yang tidak memiliki sumber daya buku. Selain dengan DKP, sekolah-sekolah juga bisa bekerja sama dengan komunitas dan taman-taman baca masyarakat (TBM) yang memiliki fasilitas taman baca keliling.

Kegiatan KKI di SD Percobaan Padang

Persoalan kedua, sekolah punya sumber daya, tetapi buku-bukunya kurang menarik minat siswa. Hal ini bisa diatasi jika sebelumnya ada kajian mengenai buku-buku seperti apa yang menarik minat siswa setiap tingkatan.

Berdasarkan pengalaman KKI selama ini, anak-anak berusia <9 tahun, cenderung lebih menyukai buku yang melibatkan kejutan dan aktivitas motorik di dalamnya. Mereka juga menyukai buku dengan gambar-gambar besar yang berwarna, dengan maksimal 50 kata di setiap lembar. Buku-buku yang masuk kategori ini misalnya buku berjendela, buku lipat (folded book), buku dengan lembaran aktivitas seperti maze. Untuk anak yang berusia antara 10-12 tahun, sebagian di antaranya sudah menyukai buku minim gambar seperti novel, tetapi cenderung lebih menyukai kisah yang imajinatif seperti petualangan.

Persoalan ketiga, sekolah sudah punya buku yang cocok untuk setiap tingkatan usia, tetapi masih minim upaya mengajak anak untuk menyukainya.

Ada tiga kegiatan yang selama ini dilakukan KKI untuk memecahkan permasalahan ini. Satu, membacakan beberapa halaman awal sebuah buku pada anak-anak, lalu membiarkan mereka yang penasaran dengan lanjutan kisah, untuk membacanya sendiri. Cara ini berlaku di setiap tingkatan usia sekolah dasar, perbedaan hanya pada jenis buku yang dibacakan. Dua, mendongengkan cerita yang berasal dari sebuah buku, lalu mengajak anak-anak untuk membacanya sendiri, dan ketiga, menyelenggarakan kelas-kelas penulisan kreatif di perpustakaan. Cara ini, berdasarkan pengalaman KKI, terbukti efektif dalam menumbuhkan budaya baca di kalangan siswa.

Kelas-kelas kreatif KKI juga berhasil menumbuhkan kemampuan menulis para siswa. Harian Rakyat Sumbar mempercayakan siswa-siswa KKI untuk menggarap satu halaman penuh rubrik Junior. Seluruh tulisan di halaman ini dibuat oleh siswa SD

Persoalan keempat,  kurang terbangunnya kemitraan antara sekolah dan orang tua untuk membangun budaya baca siswa. Pertanyaannya, kemitraan seperti apa yang diharapkan? Menurut pengalaman KKI selama ini, kemitraan yang diharapkan itu berbentuk fasilitas membaca yang diberikan orang tua pada anak. Fasilitas itu bisa berupa menyediakan bahan-bahan bacaan di rumah, atau mengajak anak menjadi anggota perpustakaan umum. Edukasi yang dilakukan sekolah terus menerus dalam setiap pertemuan dengan orang tua akan sangat membantu terwujudnya kemitraan ini. Berdasar pengalaman KKI, kemitraan juga bisa otomatis terjadi ketika orang tua melihat dampak positif buku terhadap anak-anaknya. Kelas-kelas penulisan kreatif yang diselenggarakan KKI, dan menuai hasil berupa dipublikasikannya karya-karya siswa di koran, ternyata memicu semangat para orang tua untuk memberikan bahan-bahan bacaan untuk anak-anaknya.

Jaringan Literasi

Sekarang kita sampai pada pertanyaan paling penting. Bagaimana cara membangun atmosfer membaca seperti di atas, bila sekolah tidak tahu kemana harus mencari sumber daya? Jawabnya, dengan membangun jaringan. Selama ini KKI bukan hanya membangun jaringan literasi ke sekolah-sekolah, tapi juga ke Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatra Barat, Dinas Pendidikan, komunitas dan media. Dengan berjejaring, banyak masalah yang bisa dipecahkan bersama. Untuk ini, Dinas Pendidikan di setiap daerah mungkin bisa membangun semacam jejaring literasi daerah dengan cara mendata semua sumber daya literasi, baik instansi pemerintah, masyarakat maupun media. Bila sebuah daerah sudah punya jejaring literasi, maka persoalan-persoalan yang terjadi di sekolah bisa dipecahkan bersama.  Sekolah yang minim sumber daya akan tahu kepada siapa meminjam sumber daya. Dengan bergotong royong, apa yang dirasa berat, bisa menjadi mudah. Tak ada kerja besar yang bisa diselesaikan sendirian. Mengutip pepatah Indian, untuk membesarkan seorang anak, tak cukup bersandar pada satu dua orang saja, perlu orang sekampung untuk melakukannya. Dalam hal ini, kampung itu bisa kita namai jaringan literasi.

 

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.