Ketika Kamu Menjadi Konservatif dan Liberal Sekaligus

Bisakah seseorang menjadi konservatif dan liberal secara bersamaan? Yang pertama biasa disebut kanan, yang kedua biasa disebut kiri, nah, sederhananya, bisakah seseorang berada di kanan dan kiri sekaligus? Menurut logikanya tidak mungkin kan? Tapi, menurut sebagian orang, bisa, khususnya tentang saya, dan ini membuat saya merasa sebagai anomali.

Saya punya teman-teman dari beragam latar belakang, dan saya respek pada mereka semua, dari manapun mereka, dari yang paling kanan atau yang paling kiri, sebab, saya melihat, ada mutiara-mutiara dalam diri mereka. Pada teman-teman saya yang konservatif sampai ke yang paling konservatif, saya terkesan dengan bagaimana cara mereka menjaga moral diri, sementara pada yang liberal, termasuk yang paling liberal, saya terkesan pada bagaimana cara pandang mereka terhadap sesuatu, bahkan dari sisi yang tidak terpikirkan oleh saya. Mereka sama-sama punya etika dan pengetahuan sendiri, hanya saja kadang sudut pandangnya beda. Saya menghormati ini.

Tetapi, apa yang membuat saya repot adalah, ketika sebagian teman saya yang konservatif ini menyebut saya liberal karena saya dianggap terlalu banyak membaca buku-buku pendidikan yang ditulis orang-orang Amerika-Eropa yang notabene non muslim, juga membaca karya-karya pemikir barat tentang hal-hal lainnya di luar topik pendidikan. Padahal, apa yang disebut ‘banyak’ itu sebenarnya sangat sedikit, terbukti dengan minimnya pengetahuan saya saat harus menjawab ini itu. Padahalnya lagi, saya juga banyak membaca buku-buku tentang pendidikan yang ditulis para pemikir Islam, misalnya Capita Selecta-nya Pak Natsir yang fenomenal itu, karya-karya Buya Hamka (saya punya cukup banyak buku Buya Hamka tentang pendidikan (sebagian bukunya tipis-tipis, antara 20-30 lembar saja tebalnya. Itu buku-buku cetakan lama, mungkin cetakan tahun 70 atau bahkan 60-an), buku-buku filsafat pendidikan Islam Seyyed Hossein Nasr, Imam Al Ghazali, dan lain-lainnya. Tapi, ini ternyata tak cukup membuat saya dianggap agak ‘nganan’, meski, saya mengajar arti Alquran pada anak-anak menggunakan Tafsir Buya Hamka.

Dan yang tambah bikin repot, saat bersama teman-teman yang cenderung liberal, saya dianggap sangat konservatif karena terlalu stuck pada apa yang saya sebut prinsip, umumnya terkait hal-hal yang sensitif sifatnya. Saya tak bisa menerima argumentasi-argumentasi yang sebenarnya bukan argumentasi, tapi sebatas pembenaran atas sesuatu yang jelas-jelas salah, yang kadang–sorry– epistemologi argumentasi itu saja sudah tidak benar. Dan biasanya, kalau sudah stuck begini, langsung muncul tuduhan bahwa saya terlalu konservatif dalam memahami suatu fenomena. Dunia berubah, dan seharusnya pandangan kita terhadap sesuatu juga berubah. Tetapi, bagi saya, sebuah substansi, sampai dunia kiamat pun tidak akan ada perubahan, yang berubah paling hal-hal yang bersifat teknis. Bukan substansi hidup yang mesti menyesuaikan diri terhadap kita (karena jatuhnya bisa subjektif, sebab, sebuah pendapat bisa saja kita ambil untuk membenar-benarkan sesuatu, misalnya ego diri), tetapi, kitalah yang terus menjaga posisi agar tidak keluar dari substansi itu sendiri. Sebuah substansi ibarat jangkar, semacam pedoman saat kita melihat sesuatu. (Okeh, mungkin ini agak rumit). Jadi, inti dari omongan mutar-mutar ini adalah: saya dianggap konservatif dan liberal pada saat bersamaan.

Saya tidak tahu apakah harus tertawa atau bingung menghadapi ini (aiissshhh …), tapi ya sudahlah, setiap orang memiliki pendapatnya sendiri terhadap orang lain, sebagaimana saya. Sikap saya terhadap ilmu pengetahuan sederhana saja: ilmu pengetahuan itu hikmah, saya akan mengambilnya dimanapun dia terserak, di kubangan atau di dalam kotak kristal. Mutiara akan tetap mutiara meski dalam lumpur sekali pun. Itulah sebabnya, saya membaca semuanya, mulai dari pemikiran si A sampai pemikiran si Z. Saya meyakini, jika makin banyak yang saya baca, mudah-mudahan akan semakin banyak Tuhan menyingkapkan pengetahuan untuk saya. Tuhan tidak pernah pilih kasih menjatuhkan pengetahuan. Dia mempergilirkan kejayaan (pengetahuan) pada setiap bangsa. Kalau dalam bahasa DR Komaruddin Hidayat, kebudayaan itu akan berpindah pada orang yang mau memeliharanya. Ketika orang Yunani memelihara kebudayaan ilmu, maka mereka tumbuh menjadi bangsa yang mengagumkan, banyak pemikir besar lahir dari Yunani, lalu, ketika penghargaan itu mulai berkurang, dan umat Islam di masa dua dinasti, Abbasiyah dan Umayyah, mulai tampak mau memeliharanya, kebudayaan itu berpindah. Upaya-upaya penerjemahan besar-besaran dilakukan atas karya-karya Yunani, lalu umat Islam mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, hingga akhirnya, mereka bahkan mampu melompat dengan pencapaian-pencapaian baru berikutnya. Kemudian, ketika cahaya ilmu itu memudar, pemuda-pemuda Eropa yang rajin belajar ke universitas-universitas besar Islam ini, membawa kebudayaan ilmu itu ke Eropa, dan mulailah cahaya ilmu berpijar di sana, sampai hari ini. Apakah kita harus sinis karena ini? Tidak, saya pikir. Karena, semestinya di situlah Islam masuk. Ketika kebudayaan ilmu itu kering dari spiritualitas, Islamlah yang mesti menelusup dan mengisinya, sehingga terasa ruh ilahi dalam kebudayaan tersebut. Kita justru jangan menjauhinya.

Overall, mungkin di titik inilah saya disebut liberal dan konservatif sekaligus, kanan sekaligus kiri. Karena saya menerima, sekaligus memberi titik batas tertentu. Karena saya menerima, sekaligus menegaskan keilahian.

After all, semua ceracau ini sebenarnya tidak penting. Sekadar curhat malam hari, saat hari hujan, perut kelaparan, dan hidung mengendus-endus harumnya Indomie rebus tetangga.

Ya sudahlah.

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.