Pengabdi Setan: Keren tapi Kurang Emosional

Akhirnya saya memutuskan untuk nonton film horor besutan Joko Anwar yang lagi ramai dibicarakan orang: Pengabdi Setan. Yaah … hitung-hitung jadi insan kekinian gitu ^_^. Meski horor sebenarnya bukan genre favorit saya (favorit saya adalah thriller psikologis, fantasi dan romance —>wooy nggak ada yang nanya), tapi beberapa kali saya menyempatkan diri nonton film horor, misalnya kisah si Chucky dan sekuelnya. Saya sebenarnya paling malas nonton film yang suka nakut-nakutin penonton itu, tapi ya … karena pengen kekinian, akhirnya ginilah hasilnya (gemeteran >_<)

Kalau ditilik dari judul, kayaknya film ini musyrik banget yah. Berhubung karena saya nggak pernah nonton versi aslinya, dan belum baca sinopsis utuhnya, maka di kepala saya yang ada cuma dugaan-dugaan kalau nanti di film itu akan ada adegan penyembahan setan, lengkap dengan ritual aneh-aneh macam pengorbanan orang atau nelan donat berjamaah tepat pukul tiga sore. Tapi ternyata lah kok nggak ada ya. Nih film kok ada lucu-lucuannya gitu. Mannaaah ritualnyaaaah?

Okeh baiklah.

Film ini dimulai dengan … IKLAN, yep, bener. Kan kalo nonton di XXI ada iklan film coming soonnya. Nah, sebelum film Pengabdi  Setan dimulai, juga ada iklannya (nggak nyambung ya). Maksud saya … film ini dimulai dengan sebuah keluarga yang selama dua tahun mendapat cobaan karena sang ibu sakit parah  yang dokter sendiri juga nggak tahu gimana ngobatinnya. Keluarga ini terdiri atas ayah (diperankan Bront Palarae), dan empat anak (satu cewek dan tiga cowok) dan ibu, mantan penyanyi terkenal. Suatu hari, si ibu meninggal dan dikuburkan. Masalah keluarga itu selesai? Tidak. Justru setelah pemakaman masalah baru muncul. Sesuatu yang jahat mendatangi rumah mereka dan meneror habis-habisan. Si ibu ternyata dulu pernah masuk sekte Pengabdi Setan (oh ternyata judul ini merujuk pada nama sekte ya) supaya bisa punya anak. Perjanjian yang ia buat adalah, ia harus menyerahkan anak bungsunya pada sekte itu tepat saat usia anak 7 tahun. Meninggalnya si ibu tidak membuat perjanjian itu gugur. Ibarat debt collector, setan-setan ini nggak akan berhenti menganggu sampai hutang itu dibayar. Teror demi teror mendatangi mereka saban malam (saya jadi mikir, kok pas malam aja ya mereka diteror), dan berbagai kejadian merenggut nyawa orang-orang yang mereka kenal. Meskipun rumah itu sudah dizikiri segala macam, tetap aja kejadian buruk mendatangi mereka. Satu-satunya cara mereka bisa bebas adalah dengan pindah total dari sana.

Film ini lumayan meneror sih … sampai segala pocong muncul di akhir cerita, membuat buyar ketegangan. Pada akhirnya malah jadi aneh aja melihat pocong ngejar-ngejar mobil yang mengangkut keluarga ini pergi. Mestinya nggak usah ada pocong ya, dan masalah mestinya tidak selesai secepat itu. Kalau di cerpen jadi kayak ‘si A pusing karena harus bayar uang persalinan istrinya, lalu di tengah jalan ketemu dompet berisi banyak uang, ia memilih mengembalikan, ternyata dompet itu milik kepala rumah sakit, akhirnya istrinya dibebaskan dari segala biaya persalinan sebagai ungkapan terima kasih‘. Mestinya ada perjuangan menghadapi hantu-hantu ini ya, jadi ketika cerita sampai di antiklimaks ada kepuasan karena penonton serasa ikut berjuang bersama para tokoh cerita untuk melawan para hantu dan berhasil. Tapi yang ada para tokohnya cuma lari dari satu tempat ke tempat lain untuk menyelamatkan diri. Emang sih, kalau di dunia nyata pasti orang begitu juga, tapi di flim ini saya pikir harusnya beda. Karakter Budiman, teman si nenek, mestinya bisa dieksplorasi lebih dalam sebagai ujung tombak pemutus perjanjian dengan para pengabdi setan itu, tapi kenyataannya malah tidak. Solusi yang dia tawarkan malah kabur dengan jipnya, padahal, melalui surat si nenek, kita tahu kalau dia punya pengetahuan yang luas tentang sekte ini. Mestinya, pengetahuan dan keberaniannya ini yang menjadi solusi masalah keluarga tersebut. Kisah kematian si nenek juga seperti terpisah dari cerita lainnya. Tidak ada penjelasan kenapa si nenek sampai bangkit dari kursi rodanya trus tahu-tahu sudah ada di dalam sumur. Apa dia nyemplung sendiri atau dicemplungin setan, juga gak jelas.

Satu lagi yang bikin ganjalan adalah soal Ian, si anak bungsu. Ada sedikit kebingungan bagi saya di sini, karena awalnya, abangnya, si Bondilah yang berprilaku aneh, sampai-sampai nyembunyiin pisau segala. Prilakunya juga nggak normal karena cenderung membuat takut Ian, yang tidur sekamar dengannya, tapi kemudian di akhir cerita, kita dikasi tahu kalau Ianlah yang bermasalah. Dia titisannya si setan. Jadi agak kurang linear (atawa kurang konsisten gitu, karakternya, kecuali kalau ada penjelasan, Bondi bersikap begitu karena mencurigai Ian yang menurutnya aneh, sebab, suatu kali ia pernah melihat Ian melakukan hal yang menakutkan/mengerikan). Kemudian, sikap si Ian yang kemudian dibawa ibunya yang jadi zombie ini mengingatkan saya pada adegan akhir film horor Mama. Di film itu si anak juga memilih ikut si hantu. Bedanya, di film Mama, adegannya cenderung emosional, di film Pengabdi Setan  enggak. Si Bapak cuma kaget karena Ian malah ikut ibunya yang zombie, lalu selesai. Padahal, mestinya adegan ini bisa sangat emosional. Harusnya si ayah dan kakak-kakaknya melakukan segala cara untuk mengambil Ian lagi (dan mestinya Ian tidak usah disebut sebagai titisan setan), tapi tidak berhasil, karena si anak sendiri yang memang rela ikut ibu zombie-nya. Saya jadi gak dapat greget emosinya. Padahal itu anak dan adik yang begitu dicintai lho, yang si bapak sampai rela nyebur ke sumur untuk menyelamatkannya. Lah di akhir cerita kok seperti rela-rela aja melepasnya.

Satu lagi (lah banyak amat satu laginya), anggota sekte pengabdi setan ini kurang dieksplorasi. Kalau menurut saya nih, mestinya saat pemakaman si ibu, beberapa anggota sekte ini hadir dan di situ si Rini, anak tertua, mulai merasakan hal-hal aneh tentang mereka. Lalu, secara bertahap satu atau dua orang muncul ke hadapan mereka dalam kejadian-kejadian buruk. Jadi, para anggota ini mulai meneror mereka perlahan, karena ya … mereka kan mau ngambil si Ian. Firasat buruk Rini dan adiknya terhadap mereka makin kuat ketika mereka melihat foto-foto lama sang ibu yang ternyata di situ  juga ada gambar orang-orang aneh yang hadir di pemakaman ini.   Tapi, di film kita cuma dikasi tahu rupa anggota sekte ini dari cerita Tony, anak kedua saja. Itupun dia cerita berdasar ingatannya. Jadi, pengetahuan itu kurang kongkret bagi penonton.

Terlepas dari semua itu, film Pengabdi Setan ini juara dalam beberapa hal, sinematografi, musik dan akting. Kemampuan sutradara membangun ketegangan hingga mencapai klimaks juga bagus. Kata teman saya yang nonton, Pengabdi Setan lebih keren dari Conjuring. Yah saya manggut-manggut aja sih, soalnya belum pernah nonton Conjuring.

Share Button

2 Replies to “Pengabdi Setan: Keren tapi Kurang Emosional”

  1. Destrian

    Kalo gw sih nangkep jalan cerita film ini keren banget krna bukan sosok hantunya yg di utamain tapi pembawaan k penontonnya yg di tonjolin bukan cuma horrornya tapi kita di buat bertanya” jadi gw bilang ini film bagus karna sekali lagi bukan ‘hantu’ nya yg di tonjolin tapi perspective kita dalam menonton, walaupun ada kekurangan pendalaman tentang perjanjian ibunya atau tentang sektenya dll yg kita masih bertanya” adalah karena mungkin akan jadi sequel dan jawabannya di film selanjutnya krna di akhir cerita muncul 2 sosok dari sekte yg ngasih makanan dan punya se topless benih penjemputan, tapi secara overall dari segi cerita ini film bagus krna jelas yg nonton pasti bingung krna jawabannya semua ada di akhir yg mirip cerita film “pintu terlarang”.. nanggepin isi cerita di film ini, perihal tingkah laku bondi (si anak k3) adalah si bondi ini di rasukin sama arwah neneknya yg udah tau bahwa si ian ini titisan iblis yang seharusnya di bunuh, itulah kenapa bondi bertingkah aneh (tapi pasti mikirnya si bondi yg jahat) padahal si ian emang harus di bunuh dan cuma si nenek yg tau waktu itu sampe berapa kali si ian di ganggu itu sebenernya sama arwah nenek supaya ian ga ada dari yg main petak umpet sampe ian yg di masukin k sumur dan ian cuma bisa di bunuh kalau ada salah 1 orang di kluarga yg ga sayang sama dia (makanya si ian bilang i love u sama bondi waktu ian terbang” di tarik sama si nenek yg nunggu di samping sumur krna kalo si bondi sayang lagi ian ga bisa di bunuh.. Kematian neneknya itu karna neneknya nulis surat ke temennya yg akhirnya di anterin sama si anak k1 k temennya karna isi surat itu pemberitahuan tentang si ian ini, emang untuk Kematian ga jelas tapi di akhir baru ketangkep bahwa yg bunuh secara fisik si ian ini seperti halnya kematian pak ustadz yg di bantu sama hantu” (krna hantu ga bisa bunuh manusia secara fisik, tetap harus manusia lagi yg bisa bunuh manusia).. Alasan kenapa si ian di tinggal gitu aja adalah pernyataan temen si nenek ini yg bilang bahwa itu bukan anaknya tapi anak si ibu sama si iblis.. Untuk si ian ini, knp ga linear supaya kita berasumsi bahwa si ian yg selama ini harus di selamatkan sesuai dengan awal tulisan temen si nenek di majalah itu, sedangkan di surat yg di ambil itu ada revisi dari akhir artikel di majalah yg sebenernya bahwa anak terakhir lah si anak iblisnya yg mau membunuh semua Keluarga.. Ya tanggepan dari gw sih gitu

    • admin

      Sip, memang film bagus itu adalah film yang mampu membuat penontonnya berdiskusi panjang sehabis nonton ya 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.