Mempelajari Wage dari Catatan Ayesha

Apa yang menarik dari Wage adalah pikirannya, begitu ujar Ayesha dalam ulasan filmnya, yang merupakan salah satu tugas homeschoolingnya. Film karya John de Rantau ini sudah saya tunggu-tunggu sejak bulan lalu oleh sebab spirit yang dikandungnya. Selama ini saya cuma tahu Wage Rudolph Supratman, pencipta lagu Indonesia Raya itu secara garis besar saja. Dia komponis, dia ikut Kongres Pemuda, dia bikin lagu Indonesia Raya, lagunya dilarang dinyanyikan, dia dipenjara. Udah, itu saja. Makin lama, kisahnya makin jauh terasa. Karena itu penting sekali-khusus bagi saya pribadi-mengangkat dan menonton film-film biopik seperti ini supaya seorang yang luar biasa di masa lalu tidak menjadi sebatas angka saja dalam deretan tokoh besar bangsa.

Secara umum film ini bagus, memang ada beberapa yang kurang, tapi (sekali lagi) secara umum film ini keren dan sebaiknya jadi salah satu materi pelajaran sejarah anak-anak supaya secara kongkret mereka paham, bahwa negara ini tidak didirikan oleh sikap mau menang sendiri, chauvinisme atau primordialisme. Perlu energi besar untuk mendirikan negara ini. Dan kesadaran itu, setidaknya bisa lahir dari hal-hal yang kadang dianggap kecil bagi sebagian orang, seni, lebih spesifiknya lagi, musik.

Bisakah musik mempersatukan jutaan manusia yang berdiam di lebih 17 ribu pulau? Bisa. WR Supratman membuktikannya. Dia sekaligus secara lugas menunjukkan bahwa untuk berjuang itu banyak cara dan bentuknya. Bidang apapun yang kamu tekuni saat ini, apapun minatmu, kamu bisa menjadikan itu sebagai alat untuk membangun masyarakat dan negara. Yang penting kamu punya visi, sebab, visi itulah yang akan menuntunmu melakukan hal-hal besar.

Belanda tidak takut pada musik Wage, begitu kesimpulan Ayesha, Belanda takut pada pikiran yang ada dalam musiknya. Ayesha benar. Jika saat Wage menulis lagu untuk dansa-dansi, dia tidak akan menjadi sosok yang ditakuti. Dia malah akan hidup berkecukupan, sebagaimana yang dia alami saat menjadi bagian orkestra Black and White di Makassar. Tapi Wage tidak mau demikian. Ia tinggalkan ketenarannya di Makassar, memilih hidup miskin di Batavia agar bisa ikut berjuang bersama teman-temannya di situ untuk kemerdekaan Indonesia. Dia melarat dan sakit-sakitan, tapi di situ dia punya arti. Dia kuras semua energi jasmani dan ruhaninya untuk membuat sebuah lagu yang kelak dinyanyikan orang dari Sabang sampai Merauke, menggetarkan ruhani mereka untuk kemudian bergerak bersama, menjadi sebuah bangsa. Siapa yang tidak tergetar hatinya, saat di berbagai pertandingan, entah itu olimpiade, Asian Games, All England atau yang lainnya, melihat bendera merah putih digerek bersama lagu Indonesia Raya. Gambaran Susi Susanti yang berderai air mata saat lagu Indonesia Raya mulai dinyanyikan (Olimpiade Barcelona 1992) begitu ikonik, dan saya yakin, mereka yang menonton juga ikut terharu saat lagu itu mulai dimainkan.

Film Wage mengharukan. Di akhir hidupnya, ia sendirian. Betapa menyedihkannya, tokoh yang mempersatukan orang-orang dengan musiknya itu, justru pergi dalam kesendirian dan kesakitan.

“Seandainya Wage melihat apa yang terjadi dengan bangsa ini sekarang,” ujar Ayesha, ia merujuk pada atmosfer kebencian dan primordialisme yang begitu tajam menguar saat ini, bahkan di antara teman-temannya sendiri, anak-anak yang mestinya masih murni dari kepicikan-kepicikan macam begitu, “dia pasti akan kecewa. Inikah orang-orang dari sebuah bangsa yang dulu dia perjuangkan?”
Entah, saya jadi sedih mendengar pertanyaan Ayesha. Terkadang, saking banyaknya hal-hal yang menyakitkan di sekeliling kita, yang bisa kita lakukan hanya diam. Mungkin … mudah-mudahan, Ayesha dan rekan-rekan segenrasinya yang bisa membantu bangsa ini keluar dari situasi seperti sekarang. Jika ya, kita akan bersabar menunggu. Meski butuh bilangan masa.

*note: foto ini adalah catatan Ayesha tentang film Wage di buku homeschoolingnya

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.