Apa Perbedaan Metode Pendidikan Montessori, Charlotte Mason dan Waldorf? (bag 3)

Waldorf

 Perjalanan saya mempelajari aneka konsep pendidikan yang dirumuskan para filsuf pendidikan, mulai dari zaman Aristoteles, sampai zaman Paulo Freire (masa kini), membawa saya ke Waldorf. Saya menyukai konsep pendidikan Waldorf karena membuat saya bisa memetakan apa saja hal yang sebaiknya saya ajarkan pada anak sesuai tahapan usianya. Seorang anak, boleh saja matang secara intelektual di usia 12 tahun, tapi kematangan mental, secara umum mengikuti usia. Jadi, metode pengajaran, sudah selayaknya mempertimbangkan tingkat kematangan mental ini (hal yang nyaris sama juga yang saya temukan dalam konsep-konsep pendidikan yang dirumuskan para filsuf muslim seperti Ibn Miskawayh dan Ibn Khaldun.

Apa yang membedakan Waldorf dari dua metode sebelumnya adalah, dia membagi tiga tahap perkembangan anak didasarkan pada perkembangan fisik, sikap, emosi, kognisi, sosial dan aspek spiritualnya. Tahap pertama 0-7 tahun, kedua 7-14 tahun, dan ketiga di atas 14 tahun. Pada dua tahap pertama Waldorf lebih menekankan pada pengajaran etika dan estetika, jadi mempelajari seni dan kisah-kisah sangat penting di sini. Ini bukan hal baru sebenarnya, karena metode pendidikan Islam pada zaman dahulu juga menekankan pentingnya pengajaran etika dan estetika. Terbukti, kalau kita baca riwayat hidup semua cendekiawan muslim, dari Ibn Jahiz sampai Ar Razi, semuanya menghabiskan masa kecil dalam kelompok belajar seni sastra. Rata-rata semua cendekiawan itu menguasai sastra dan musik. Di masa mereka, musik dianggap bagian dari pelajaran matematika oleh karena susunan/ketukannya membutuhkan pengetahuan matematis dasar. Bahkan, Ibn Jahiz, zoologis pertama di dunia yang karya-karyanya terus menginspirasi ilmuwan hingga ke masa modern, adalah seorang ahli linguistik, dan ia menghabiskan masa remajanya dengan mempelajari sastra. Buku sastranya sampai sekarang masih menjadi objek kajian peneliti.

Selain hal di atas, perbedaan mencolok lainnya dari dua konsep sebelumnya ada pada tema. Satu tema untuk satu periode. Jadi, jika bulan ini temanya adalah kelinci, maka selama sebulan anak-anak akan belajar segala hal yang berkaitan dengan kelinci, misalnya, siklus hidup, jenis-jenisnya, animasinya, membuat boneka kelinci, dst. Waldorf juga menekankan pentingnya makna dalam sebuah pelajaran. Sebuah sekolah Waldorf, misalnya, ketika ada peristiwa badai siklon yang melanda daerahnya, maka dengan segera mereka akan mempelajari seluk beluk badai siklon ini, menghitung kecepatan anginnya, menghitung kerusakan yang ditimbulkannya, bagaimana dampaknya secara ekonomi dan sosial, dst. Jadi, pelajaran itu lebih terasa bermakna bagi para siswa.

Saat ini, metode Waldorf adalah metode yang sangat populer di negara-negara yang pendidikannya maju. Sebagian keluarga homeschooling juga mengadopsi metode ini untuk anak-anaknya.

Nah, Anda sudah membaca tiga metode ini, mana kira-kira yang paling sesuai untuk Anda?

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.