Mana yang Lebih Baik: Sekolah atau Homeschooling?

Pertanyaan di judul di atas, cukup sering saya terima semenjak saya memutuskan meng-hs-kan anak-anak. Btw, sebenarnya, ini bahkan bukan pertanyaan, tapi permintaan untuk saya memilih dua opsi: sekolah atau homeschooling. Saya pikir, saya tidak akan menjawab pertanyaan seperti ini karena mindset pertanyaan di atas sendiri bermasalah. Pendidikan itu bukan semata institusi. Institusi hanya semacam sarana yang memfasilitasi pendidikan. Jangan terjebak pada kulitnya, lihatlah lebih jauh ke dalamnya.

Selama tiga tahun ini, saya terjebak di tengah dua kelompok, pertama, yang menganggap homeschooling itu lebih baik dengan alasan (antara lain), tanggung jawab pendidikan ada di tangan orang tua, jadi pendidikan semestinya linier dengan visi keluarga, dan kedua, yang menganggap sekolah/lembaga pendidikan (dalam bentuk apapun) lebih baik, karena berpegang pada pemikiran ‘serahkanlah sesuatu pada ahlinya’. Jadi, karena orang tua menganggap dirinya bukan seorang yang ahli di bidang pendidikan, maka ia memutuskan menyerahkan anaknya pada lembaga yang dianggap kredibel. Pemikiran kedua kelompok ini sama baiknya sih, karena sama-sama masuk akal. Trus yang tidak baiknya yang mana? Ya pendapatmu yang memutlak-mutlakkan bahwa x jauh lebih baik dari y. Sekali kamu berpikir begini, tertutup sudah dialektika dalam kepalamu.

Apa cara yang paling baik dalam mendidik anak? Entah. Selama ribuan tahun orang-orang berupaya merumuskan apa makna mendidik itu sebenarnya. Buah pikir para filsuf, dari Aristoteles sampai Paulo Freire berupaya menjelaskan apa yang disebut mendidik. Dan selama ribuan tahun pula, orang-orang berijtihad menemukan metode mendidik yang pas. Konsep dan metode yang dirumuskan, dipraktekkan sepanjang peradaban. Ini adalah mutiara-mutiara berharga sejarah yang sudah selayaknya kita pungut. History has proved  bahwa ada model pendidikan yang tampil cemerlang, dan melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang sulit dicari tandingannya. Setidaknya, sependek yang saya ketahui, ada tiga peradaban yang menghasilkan pemikir-pemikir paling cemerlang, pertama peradaban Yunani yang menghasilkan orang-orang seperti Aristoteles, Plato dan Archimedes, kedua, peradaban Islam yang menghasilkan Ibnu Sina, Al Khawarizmi dan Ar Razi dan ketiga, peradaban barat pasca renaissance (saat ini), yang menghasilkan orang-orang sekaliber Einstein, Chomsky dan Hawking. Mana yang lebih baik? Tentu saja semua sama baik. Man jadda wa jadda, kata pepatah Arab. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan. Jadi kalau orang Yunani yang lebih bersungguh-sungguh menemukan, ya mereka akan mendapatkan, begitu juga kalau nanti orang Indonesia bersungguh-sungguh belajar, ya pasti akan berhasil.

Balik ke judul di atas, mana yang lebih baik, homeschooling atau schooling?

Keduanya sama baik atau buruknya, tergantung sikon. Homeschooling yang diselenggarakan asalan, tanpa pengetahuan memadai ya tidak akan maksimal hasilnya, tetapi, sekolah yang dijalankan dengan sangat baik, yang seluruh elemen di dalamnya sama-sama berupaya untuk memajukan anak didik, ya insyaallah akan menghasilkan murid yang cerdas dan berakhlak. Sebaliknya, jika homeschooling diselenggarakan dengan sangat baik, hasilnya akan sangat luar biasa, sementara sekolah yang setiap elemennya kurang punya kesadaran untuk memajukan anak didiknya, ya sulitlah memperoleh hasil maksimal. Jadi, yang penting itu bukan institusinya, tapi pendidikan yang dijalankan. Jangan kita terjebak mempertanyakan institusi, sehingga lupa pada substansi. Ini sama kayak kita makan kue. Yang akan kita konsumsi itu pembungkusnya atau isinya? Pembungkus kan bisa apa saja, plastik, kertas, daun pisang, daun pandan. Yang penting kondisinya baik. Kalau kondisinya bagus, baru liat isinya, enak apa tidak? bergizi atau nggak? Kalau bagus berarti nggak masalah kan?

Saya sendiri, meski pelaku homeschooling, tidak pernah merasa homeschooling jauh lebih baik dari bersekolah formal. Biasa-biasa aja sih. Ini kan cuma metode ya. Bila ada yang mau nge-hs-kan anaknya juga, trus tukar pikiran ama saya, ya ayo. Saya tidak dalam posisi mengajak orang untuk ber-hs ria. Ya, nggak terlalu penting juga sih bagi saya hal-hal yang kayak gini.Saya males banget direpotin oleh hal-hal yang tidak substantif begini. Jadi, kalau ada perdebatan hs-non hs saya lebih milih minggir aja sambil ngemut es krim.

Dalam hidup itu, yang penting berusaha melakukan sesuatu dengan baik dan benar. Udah gitu aja. Trus banyak senyum, ketawa dan makan-makan. Kalau berat badan udah nambah, nah itu baru jadi masalah. Hehehe

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.