“17 Tahun Itu Bikin Pusing”

Aku pikir, aku bisa pergi dari sini. Aku pikir, aku bisa lari dan tak kembali. Aku pikir aku ….

Alarm ponselku tiba-tiba berbunyi nyaring. Kubuka mata. Kutatap layarnya yang membiru. Satu kalimat berkeredap di situ.

Pukul 13.00 WIB, pemred Finia.

Kubalikkan ponsel itu ke kasur.

Alarm itu salah. Aku gagal jadi pemred Finia. Sani jatuh cinta pada Poni Zebra dan aku mempermalukan diri sendiri di radio sekolah.

Demi Tuhan, aku ingin lari saja.

**

Itulah petikan awal novel baru saya “17 Tahun Itu Bikin Pusing” yang diterbitkan Pastelbooks, lini remaja Mizan. Novel ini mengisahkan seorang Nana, cewek SMA kelas 11, berumur 17 tahun yang gagal mencapai apa yang paling dia inginkan, menjadi pemred Majalah Finia, majalah sekolahnya. Nana bercita-cita menjadi seorang jurnalis handal suatu saat nanti, dan baginya, menjadi pemred Finia, sebuah majalah sekolah yang tiap dua bulan sekali jadi suplemen di sebuah koran beroplah besar di Sumatra Barat, adalah sebuah prestise tersendiri. Sayangnya, saat rapat penentuan pemred yang dipimpin oleh Sani, sang ketua OSISĀ  yang juga sahabat Nana sejak kecil, yang terpilih justru Amanda, alias si Poni Zebra, rival berat Nana di Finia. Semenjak itu jungkir baliklah hidup Nana. Dia bukan cuma keluar dari kepengurusan majalah, tapi juga babak belur oleh kelakuan Amanda yang selalu menggagalkan semua upaya Nana untuk meraih kembali mimpinya. Dia kena detensi membersihkan toilet sekolah selama tiga hari, dipermalukan seluruh siswa saat harus membersihkan lautan busa hasil polah teman-temannya, sampai ngamuk-ngamuk di radio sekolah saat jam makan siang. Nggak cukup itu, teman-teman sekolahnya pun menggosipkannya terus di twitter. Nana jatuh, kalah, dan tak berdaya, sampai akhirnya dia mulai mendapat keyakinan diri, dan merangkak keluar dari jurang kejatuhannya.

Yess, ini adalah novel yang mengisahkan kegalauan seorang remaja dalam masa-masa pencarian identitas dirinya. Di dalamnya ada semangat meraih mimpi, sikap pantang menyerah saat mengalami kejatuhan, dan kemauan menarik pelajaran dari berbagai kepahitan, supaya nanti bisa menjadi lebih baik. Pengalaman akan membawa perubahan, itulah yang terjadi pada Nana di novel ini.

“17 Tahun Itu Bikin Pusing” saya kerjakan tahun 2014, lalu bolak-balik ngedit. Saya mengendapkan naskah ini selama sekitar enam bulan, supaya riak kreativitasnya menjadi tenang, jadi saya bisa melihat dimana kekurangan dan kekuatan novel ini. Setelah masa pengendapan berlalu, saya membaca naskah ini lagi dan melakukan pengeditan ulang, hingga akhirnya menjadi seperti yang sekarang. Hal yang paling melegakan saya tentang naskah ini adalah komentar editor saya: “Suka banget novelnyaaa!” Alhamdulillah, berarti nggak sia-sia kerja panjang yang saya lakukan untuk novel ini.

“!7 Tahun Itu Bikin Pusing” sudah masuk ke toko buku. Silakan kekep yaaa. Tengkiuuu ^_^

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.