Buku Junior Menulis Kreatif

Setiap kali saya membuka kelas menulis kreatif, ada saja pandangan yang menyebutkan bahwa pelajaran menulis kreatif tidak terlalu penting, atau tidak mesti dipelajari semua anak, karena tidak semua anak punya bakat menulis. Memang, di masyarakat kita masih umum anggapan bahwa menulis itu adalah soal bakat. Mengikut pendapat Howard Gardner yang membagi kecerdasan manusia jadi sembilan, maka sebagian orang tua yang menganggap anaknya tidak punya kecerdasan linguistik, maka memutuskan tidak memberikan pelajaran menulis kreatif pada anak-anaknya.

Benarkah pandangan ini? Saya tidak sepakat, karena sembilan kecerdasan yang diungkap Howard Gardner adalah potensi. Minat tumbuh di atas potensi ini. Setiap bayi lahir dengan seluruh potensi kecerdasan, inilah yang mesti distimulasi terus menerus. Perihal apakah nanti dia lebih berminat menekuni dunia matematika atau linguistik atau seni visual misalnya, itu kan hal lain, yang penting, seluruh potensinya dikembangkan. Ya nggak mungkin kan, minat bisa maksimal tumbuh di atas tanah yang tidak disuburkan seluruh potensinya. Ilmu pengetahuan itu saling terhubung, sebagaimana halnya otak. Pembelajaran matematika baru bisa sukses bila potensi seni dan linguistik di otak manusia berkembang maksimal. Begitu juga halnya dengan linguistik, baru bisa tumbuh maksimal bila kemampuan logikanya diasah. Matematika sendiri membutuhkan kemampuan berpikir abstrak, suatu kemampuan yang baru tumbuh bila anak diajar seni dan bahasa.

Kembali ke dunia menulis kreatif. Sejarah sudah membuktikan bahwa di masa keemasan Islam, kurikulum pendidikan anak-anak yang paling banyak itu adalah sastra (bersama Alquran). Anak-anak diajar prosa dan syair, lalu belajar menulis cerita-cerita sederhana. Kenapa? Karena ini membuat anak mudah menguasai bahasa. Kenapa harus bahasa? sebab bahasa adalah alat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Bahkan untuk mempelajari Alquran pun, orang membutuhkan bahasa. Pernahkah anda menemukan orang yang baru membaca sebuah buku sebentar saja sudah merasa pusing, nggak sanggup mengikuti tulisannya? Apakah dia tidak bisa membaca? Bisa. Lalu apa yang terjadi? Itu karena dia tidak diajar untuk menguasai bahasa secara maksimal, sehingga besar sekali rintangan di otaknya utuk mendapatkan pengetahuan di dalam buku. Sekarang, terjawab mengapa di masa keemasan Islam lahir puluhan ilmuwan yang menguasai nyaris semua bidang ilmu. Ar Razi dan Ibnu SIna menguasai ilmu kedokteran, sejarah, filsafat, bahasa, musik, kimia. Al Jahiz menguasai sastra, biologi, filsafat, pedagogi, dan banyak lagi yang lainnya. Kenapa bisa begitu? Karena pelajaran berbahasa menempati porsi sangat besar dalam rentang usia 7-14 tahun di madrasah-madrasah/kuttab-kuttab. Mereka mudah menguasai banyak ilmu pengetahuan karena alat untuk belajar itu, yaitu bahasa, mereka kuasai saat kecil. Lain kali insyaallah saya akan mengupas tentang ini, juga mengupas kurikulum-kurikulum yang dirumuskan para filsuf pendidikan Islam masa itu.

Berikut ini adalah Buku Junior Menulis Kreatif dengan tebal 50 halaman yang saya susun untuk para¬†early writers, alias anak-anak yang baru mencoba belajarmenulis. Buku ini awalnya saya rancang untuk murid saya, peserta pelatihan menulis kreatif yang saya adakan beberapa waktu lalu, kemudian karena responnya sangat bagus, saya putuskan untuk menaruhnya di sini. Sengaja saya buat dalam bentuk ebook saja (tidak dipublikasi di penerbitan–untuk sementara), supaya bisa menjangkau lebih banyak keluarga, dan satu keluarga yang punya beberapa anak bisa menge-print sejumlah yang dibutuhkan anak. Jadi bisa lebih hemat.

Berikut ini beberapa contoh halaman dalamnya. Saya sertakan juga daftar isinya di sini.

Contoh halaman lainnya (ini bagian yang sudah saya print)

Berikut cara untuk mendapatkan ebook ini:

  1. Ebook dipesan ke email mayalestarigf@gmail.com/WA 082171446350
  2. Ebook akan dikirim ke email para pemesan.
  3. Pengiriman ebook dilakukan setelah pembayaran dilakukan
  4. Harga ebook 50.000,-

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.