Menyusuri Kurikulum Pendidikan Islam di Zaman Keemasan (8M-13M)

Seperti apa sesungguhnya pendidikan Islam di masa keemasan peradaban Islam, yakni pada masa Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah (abad 8-13 M)? Ini pertanyaan yang menarik dicari jawabnya karena peradaban pada masa itu menghasilkan hal-hal yang sangat mengesankan bagi semua orang, baik bagi orang Islam sendiri maupun bagi orang-orang non Islam. Banyak sekali penelitian yang dilakukan para cendekiawan dari berbagai latar bangsa dan agama mengenai era ini. Saking banyaknya, kita tinggal mengetik kata kunci saja di Google, langsung tersaji ribuan artikel dan buku yang membahasnya.

Mengapa peradaban Islam bisa setinggi itu pada masa lalu? Seperti apa pendidikan yang mereka jalankan sehingga bisa menghasilkan begitu banyak ilmuwan yang pengaruhnya terus terasa hingga saat ini? Dari Ibnu Jahiz sampai Ibnu Sina, dari Ibn Rusyd sampai Ar Razi. Nama-nama itu memberi sumbangan yang begitu besar pada ilmu pengetahuan, dan pemikiran-pemikiran mereka terus dipelajari di bangku-bangku universitas Eropa setidaknya sampai abad 19, sebelum akhirnya peradaban barat (Eropa-Amerika) mengambil alih dan mengembangkan semua hasil pemikiran para ilmuwan itu.

Artikel ini berupaya menyajikan bentuk-bentuk pendidikan yang dijalankan pada masa dua kekhalifahan awal Islam, yakni Umayyah, dengan alasan dinasti inilah yang pertama kali membangun pondasi peradaban ilmu pengetahuan Islam, dan Abbasiyah, karena inilah dinasti yang memerintah paling lama (hampir 500 tahun) dan di masanyalah lahir begitu banyak cendekiawan muslim.

Artikel ini akan cukup panjang, jadi saya akan memecahnya jadi beberapa bagian.

Filsafat Pendidikan

Sebelum bicara pendidikan pada tahap praktis (metode, kurikulum, materi), kita akan membahas akarnya dulu yakni konsep pendidikan Islam yang dirumuskan para filsuf pendidikan Islam. Ada beberapa filsuf yang merumuskan konsep ini, di antaranya Ibn Miskawayh, Ibn Jahiz, Al Farabi dan Al Ghazali. Meski ada beberapa konsep namun secara garis besar semua konsep mereka ini memiliki benang merah yang sama, yakni: etik sebagai ilmu pengetahuan paling terhormat dan knowledge follows action, alias pengetahuan mengikuti tindakan. Maksudnya, prilaku belajar seseorang akan berujung pada didapatnya pengetahuan, begitu kira-kira. Nah seperti apa prilaku belajar (metode) ini,  dibahas dalam  bab filsafat metodologi.

Pertama-tama, mari kita melihat konsep pendidikan Ibn Miskawayh. Beliau adalah seorang filsuf yang sangat disegani di masa Dinasti Umayyah. Ilmu pengetahuannya sangat luas, merentang dari filsafat, pedagogi, sejarah, kimia, biologi sampai sastra. Dalam bidang filsafat sendiri, Ibn Miskawayh menghasilkan pemikiran filsafat pendidikan yang tertuang dalam Ta’dib al akhlaq wa tathir al a’raq. Baginya, pendidikan itu berarti ta’dib, yaitu membuat seorang manusia jadi memiliki adab. Pendidikan adalah suatu cara bagaimana menanamkan sebuah adab kepada anak didik. Dengan begitu pendidikan sesungguhnya sebuah latihan membentuk karakter-karakter terhormat.

Beberapa poin penting dalam pemikiran Ibn Miskwayh adalah:

  1. Hanya orang yang memiliki karakter terhormat dan berpengetahuan luas sajalah yang semestinya menjadi pendidik anak-anak. Karakter guru, disadari atau tidak, sedikit banyaknya akan masuk ke dalam diri anak-anak, jadi kualitas guru menjadi perhatian utama di sini.
  2. Jika harus memberi teguran, jangan ucapkan secara eksplisit apalagi sampai menyakiti secara fisik, karena ini justru akan memberikan dampak buruk pada mental siswa dan membuat mereka menjadi tidak responsif pada pelajaran
  3. Semua instruksi pelajaran harus dilakukan sesuai kemampuan setiap anak didik. Jadi tidak ada instruksi yang sama untuk semua anak didik. Guru harus memahami aneka prilaku belajar anak didiknya.

Berikutnya saya akan membahas konsep pendidikan filsuf lain seperti Ibnu Jahiz dan Al Farabi. Insyaallah di kesempatan berikut.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.