Menyusuri Kurikulum Pendidikan Islam di Zaman Keemasan (abad 8-13 M): Maktab dan Madrasah

Setelah kemarin kita membahas sedikit tentang konsep pendidikan Islam di abad 8-13 M yang bisa dibaca di sini  sekarang kita lanjut aja membahas prakteknya ya, yaitu penerapan konsep-konsep pendidikan tadi di dunia nyata.

Pada masa itu usia belajar dibagi menjadi tiga fase, yaitu 0-7, 7-14 dan 14+. Anak-anak baru diantar belajar ke maktab-maktab mulai usia 7 tahun (ada juga sih yang belajar mulai usia enam tahunan). Fase-fase belajar ini terus-terang mengingatkan saya pada fase belajar di konsep pendidikan Waldorf. Konsep Waldorf emang rada sama dengan konsep belajar di masa medieval Islam dulu. Nah sekarang yang jadi pertanyaan, apa dasar pembagian fase usia ini? Tak lain tak bukan karena ini adalah fase usia mental manusia. 0-7 tahun itu masa early stage-lah ya dalam bahasa Inggrisnya. Masa PAUDlah, kira-kira begitu. Pada masa ini anak-anak belajar di rumah. Membangun ikatan dengan keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Setelah masa ini lewat, anak baru diantar ke maktab. Apa itu maktab? Merupakan ruang belajar yang ada di berbagai masjid. Di maktab mereka belajar apa saja? Alquran, fiqh dasar, bahasa, literatur sastra, sejarah, etika dan kemampuan-kemampuan praktis.

Anak-anak belajar di maktab sampai berusia 14 tahun. Gurunya? para ulama dan ahli linguistik atau sastrawan. Rata-rata ulama pada masa itu adalah para pakar linguistik yang sangat mumpuni (ya wajarlah, untuk mempelajari Alquran kan perlu menguasai bahasa. Mereka mesti belajar bahasa dulu dari akarnya sebelum mulai mempelajari kitab suci dan menafsirkannya). Para murid tidak mutlak belajar hanya di satu tempat saja seperti sekarang, mereka bisa berganti-ganti belajar ke maktab-maktab lain. Pelajaran bahasa mendapat porsi besar bersama pelajaran Alquran pada masa itu. Rata-rata sastrawan hebat adalah para guru di maktab-maktab ini. Saya akan menyebut beberapa di antaranya, yaitu Al Asma’i (seorang filolog, leksiograf dan penyair), Abu ‘Amru bin al ‘alla (ahli qiroah dan tata bahasa), dan Ibn Abbas (ahli fiqh, ahli tafsir, pakar linguistik dan sastrawan). Rata-rata ilmuwan yang kita kenal sekarang, dari Ibn Jahiz sampai Ibn Sina, intens mempelajari bahasa dari usia maktab ini. Contohnya Ibn Jahiz, salah satu zoolog terbesar dunia, menghabiskan usia maktabnya dengan belajar pada sastrawan masyhur kala itu, Al Asma’i. Setelah menyelesaikan pendidikan di maktab, Ibn Jahiz lanjut ke madrasah dan mulai mempelajari biologi.

Apa itu madrasah dan apa saja yang dipelajari di sana? Madrasah bisa dikatakan majelis pendidikan tinggi pada masa itu. Majelis-majelis ini terbuka untuk mereka yang berusia di atas 14 tahun. Madrasah ini pada awalnya berada di masjid-masjid dan perpustakaan, namun seiring perkembangan zaman kemudian memiliki bangunan sendiri. Beberapa madrasah yang terkenal adalah Qarawiyyin dan Nizamiyyah (kemudian disebut universitas). Pada masa keemasan Islam berdiri ribuan madrasah yang tersebar di berbagai kota, baik yang dikelola masjid, perpustakaan atau bahkan pribadi. Di Damaskus saja pada masa Dinasti Abbasiyah ada lebih 50 madrasah.

Apa saja yang dipelajari di madrasah? Ya seperti di universitas pada masa sekarang. Para murid umumnya mempelajari sesuatu yang lebih spesifik, seperti astronomi, sejarah, aritmatika, dan lainnya.

Apa yang Bisa Kita Ambil Darinya?

Dari selintas sejarah pendidikan di masa keemasan Islam di atas terlihat bahwa bahasa merupakan pelajaran yang sangat penting. Segala aspek bahasa dikaji, mulai dari nahwu (ilmu penyusunan kalimat), balaghah, qiro’ah, penulisan, retorika, syair, prosa, dan lainnya. Mengapa bahasa mendapat perhatian besar? Dan mengapa para pengajar di usia maktab adalah para ahli linguistik/sastrawan? Jawabnya, karena bahasa adalah alat untuk mencapai ilmu pengetahuan. Untuk mempelajari Alquran orang membutuhkan pengetahuan maksimal akan bahasa. Untuk memahami matematika orang butuh menguasai bahasa, karena mereka mempelajari matematika dengan perantaraan bahasa. Jika pengetahuan dasar ini tidak duduk, tentu akan sulit bagi anak-anak mempelajari pengetahuan lain. Sebab, alat ilmu itu tidak mereka kuasai. Ibarat petani, mereka nggak punya cangkulnya, atau kalaupun punya, mereka cuma punya cangkul yang sudah tumpul atau yang tidak ada gagangnya. Ini sekaligus menjadi jawaban bagi kita mengapa di masa keemasan Islam dulu para ilmuwan bertumbuhan seperti cendawan di musim hujan. Mengapa satu orang bisa menguasai hampir seluruh bidang ilmu, dari filsafat sampai sastra, dari medis sampai astronomi, dari puisi sampai matematika. Lihat bagaimana pelajaran di maktabnya. Lihat pula siapa pengajarnya. Jadi ya, maklum kalau pendidikan seperti itu kemudian menghasilkan para cendekiawan yang sekarang kita kenal.

Mari kita lihat kembali pelajaran anak-anak kita, entah dia homeschooling atau sekolah formal. Jika kemampuan berbahasanya kurang, genjotlah sebisanya. Biar dia bertumbuh dengan kemampuan berbahasa yang memadai.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.