Yuk Membuat Buku Fenomena Alam

Gerhana bulan tanggal 31 Januari 2018 lalu menyisakan banyak kesan menarik bagi saya dan anak-anak. Itulah untuk kali pertama anak-anak melihat gerhana bulan  (sebelumnya anak-anak melihat gerhana matahari total pada 2017). Dan mereka nggak cuma melihat gerhana saja, tapi juga mengamati perkembangan gerhana itu sejak mulai terlihat (sekitar pukul 18.45 WIB, saat matahari sudah benar-benar tenggelam, dan awan perlahan menyingkir dari  bulan), sampai puncak gerhana pada pukul 21.15 WIB. Mereka benar-benar mengamati dalam pengerttian duduk di luar selama dua jam lebih dan mereka. Gerhana itu dengan kamera poket dan gadget. Saya merasa wow banget dengan antusiasme dan kesabaran mereka memantau gerhana. Sama sekali nggak ada rasa bosan.

Anak-anak memang sudah sejak keciiiiil sekali dibiasakan melihat fenomena alam. Semesta sebagai salah satu mahakarya Tuhan memiliki misteri, keindahan dan keistimewaan yang tak sanggup diungkapkan kata. Orang-orang zaman dulu memiliki kebiasaan mengamati pergerakan benda-benda langit, yang dengan itu mereka–bukan cuma menentukan penanggalan, tapi juga–menentukan dimana posisi kuil-kuil keagamaan. Insyaallah kapan hari saya mau menjelaskan natural wisdom ini kepada anak-anak, yang perlahan terkikis seiring tahun berjalan, dan modernisasi melanda kehidupan kita.

Beberapa bentuk pelajaran astronomi yang saya berikan ke anak-anak di antaranya mengamati rasi bintang dan membuat tabel perubahan bulan. Tabel bulan ini biasanya saya ajarkan setiap Ramadhan. Jadi, setiap malam anak-anak mengamati bulan di langit dan menggambar perubahan bentuknya, dari sabit sampai purnama. Metode belajar seperti ini akan menanamkan kesadaran pada mereka bahwa kita semua hidup di sebuah semesta, yang satu sama lainnya saling tergantung atau terkoneksi. Ini insyaallah akan melahirkan adanya natural wisdom dalam diri anak-anak.

Nah, pelajaran astronomi mereka kali ini setelah mengamati gerhana bulan adalah membuat buku fenomena alam. Mereka melihat-lihat di Youtube berbagai video tentang aneka fenomena alam, lalu memilih salah satunya untuk dituliskan. Ayesha memilih fenomena gerhana, sementara Alifa memilih fenomena sundog, yaitu sebuah peristiwa optikal dimana matahari tampak memiliki kembaran, entah kembar dua, tiga atau empat. Peristiwa ini umumnya terjadi di daerah-daerah subtropis.

Setelah anak-anak tahu apa yang akan mereka tulis, mereka lalu mencari referensi di internet. Saya mengajarkan mereka untuk menjelaskan sesuatu secara lengkap menurut rumus 5W+1H.

Coretan mind mapping yang dibuat anak-anak untuk bukunya

Ayesha memutuskan membuat ensiklopedi gerhana dengan gaya bercerita, sementara Alifa maunya menempelkan tulisan-tulisan yang ia temukan saja ke bukunya. Hasilnya bisa dilihat di gambar-gambar berikut.

Nah lalu bagaimana, Mahreen? Mahreen memilih membuat buku tentang fenomena sundog, tapi karena ia belum bisa menulis, akhirnya ia menerangkan melalui gambar-gambar saja. Emaknyalah yang ia minta untuk menuliskan ceritanya. ^_^

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.