Mengapa Saya Menahan Diri Menulis Tentang Cara-Cara Terbaik Mengajar Anak

Bagi yang rutin mengikuti setiap postingan saya tentang pendidikan di situs ini, mungkin masih ingat kalau dulu saya cukup sering menulis segala hal tentang pendidikan di sini. Mulai dari kritik terhadap metode, sistem, materi dan segala macamnya mengenai dunia pendidikan kita, sampai memberi saran-saran mengenai cara terbaik mengajar anak. Setelah sekian lama asyik menulis tentang itu, saya kemudian berhenti. Lebih tepatnya, menahan diri. Menahan diri dari apa? Dari hasrat ingin koar-koar tentang segala sesuatu yang sebenarnya saya tidak betul-betul tahu. That’s it! Saya tidak ingin terjebak dalam keasyikan-keasyikan tak jelas macam begini, mengingat saya sendiri sebenarnya terlalu awam dalam dunia pendidikan anak. Perlu orang yang sangat mumpuni untuk bicara tentang pendidikan dalam konteks yang lebih subtil, dalam dan filosofis. Terus terang saya malu bicara ini itu dengan kualitas ilmu yang tidak mumpuni, sementara para pakar pendidikan dunia itu, dari yang muslim sampai non muslim, dari yang klasik sampai yang modern adalah para filosof yang memahami betul pondasi berpikir yang benar. Dari Plato sampai Paulo Freire, Ibn Miskawayh sampai Seyyed Hossein Nasr, semuanya adalah orang-orang yang bila diibaratkan dengan manusia saat ini, adalah para raksasanya pemikir. Apalah saya ini yang cuma remah rengginang di dasar kaleng Khong Guan :v :v :v.

Malu saya bicara ini itu, sementara ketika saya baca pemikiran orang-orang ini, masyaallah, rasanya pengen sembunyi aja gitu di dalam lemari. Akhirnya yang bisa saya lakukan, kalaupun ada yang nanya-nanya soal pendidikan anak ke saya, paling sekadar mencomot pemikiran orang-orang besar itu. Menurut Plato begini lho … menurut Ibn Miskawayh begini lho … menurut Al Ghazali gini lho ….

Terus terang saya jadi terbebani dengan tulisan-tulisan saya sendiri yang boleh jadi banyak ngawurnya ketimbang benarnya. Bayangin ini, kalau ngawurnya lebih banyak, mereka yang baca bakal ikutan ngawur. Hweleh ….

Bukan perkara mudah bicara tentang pendidikan itu, apalagi kalau nggak punya basic filsafat ilmu yang kuat. Pendidikan itu bisa dibilang akarnya kehidupan. Jatuh bangunnya manusia, tegak-telentangnya sebuah peradaban, bergantung pada pendidikan. Baik buruk jiwa manusia, juga antara lain bergantung pada pendidikan macam apa yang ia terima. Materi pendidikan betul metode salah, bakal gak kena sasaran. Materi salah, metode betul, ya bakal ngawur. Itu sebabnya orang sepanjang peradaban manusia terus berusaha mencari metode-metode pendidikan terbaik.

Pertanyaannya, seperti apa yang terbaik itu? Bagaimana kita tahu metode pendidikan tertentu dipandang baik dalam konteks zaman kita hidup, dan terlebih lagi, dalam budaya tempat kita bertumbuh. Ali bin Abi Thalib bilang:  didiklah anakmu sesuai zamannya. Ada dua term yang perlu dicari pengertiannya di sini, pertama, pendidikan dan mendidik itu apa. Kedua, sekarang itu zaman apa? Baru setelah bisa menjawab dua pertanyaan ini kita bisa merumuskan materi dan metode yang tepat. Metode yang bagus pada masa lalu, belum tentu tepat diterapkan pada masa sekarang, meski secara subtansi, metode itu baik-baik saja.

Hanya kasidah yang mampu menjelaskan

Jadi, yaaa …. perlu kajian yang sangat mendalam dan komprehensif mengenai ini. Itulah sebabnya saya akhirnya memilih mengibar bendera putih. Saya tahu diri. Pengetahuan gak sampai seupil juga berani-beraninya ngomong tentang hal-hal besar. Malulah sama rumput yang bergoyang.

Jadi itulah sebabnya kenapa saya kemudian memilih bikin-bikin materi belajar aja untuk diunduh siapa saja yang suka. Atau … bagi-bagi pengalaman saya saja dalam belajar dan mengajar. Atau … kalau ketemu hasil riset terbaru tentang pendidikan, ya saya bagi di sinilah. Syukur-syukur kalau bermanfaat. Nah, kalau memang bermanfaat, jangan lupa dibagi yaaah 😀

Ke depannya situs ini boleh jadi akan lebih banyak membagi materi-materi belajar saja. Sooo, jangan lupa di-cekidot ya. Insyaallah bakal ada yang baru terus di situs ini setiap minggu (harapan saya sih minimal setiap dua hari sekali). Materinya untuk sementara dikhususkan bagi anak usia hingga 13 tahun (prasekolah-SD). Soale ini adalah usia-usia krusial membangun kemampuan berpikir anak-anak. Kalau masa-masa ini bisa terlewati dengan baik, insyaallah akan gampang bagi anak belajar apa saja pas SMP. Saya nggak sedang berteori. Ini adalah kenyataan yang dialami keluarga saya pribadi. Kapan hari insyaallah saya akan cerita-cerita soal ini.

Okeh, tengkiu ya sudah membaca curhat gak jelas ini. Jangan kapok ke sini lagi.

Dadah.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.