Kubus dan Gambar: Metode Belajar Matematika yang Menyenangkan

Saya suka melakukan eksplorasi metode dalam berbagai pengajaran di rumah. Prinsip saya dalam belajar satu: menyampaikan dengan cara termudah. Sebab, ilmu itu pada dasarnya memudahkan. Jika sebuah ilmu justru membuat orang susah, berari mungkin cara penyampaiannya terlalu ruwet. Dalam hal ini, saya banyak belajar dari Prof. Yohanes Surya. Saya beberapa kali melihat penampilannya di televisi dan Youtube. Beliau kalau menerangkan pelajaran fisika itu, masyaallah, begitu mudah dimengerti. Sesuatu yang dulu kayake ribet banget, kok di tangan beliau jadi gampang banget ya? Ciri orang berilmu itu ya memang gitu ya. Kalau menyampaikan pelajaran itu selalu dengan bahasa dan cara sesederhana mungkin. Mereka sedapat mungkin menghindari istilah-istilah rumit. Hal ini terasa sekali di buku-buku pelajaran fisika/IPA yang beliau buat untuk anak-anak (ada beberapa seri tuh. Buku-buku beliau juga jadi referensi saya dalam merancang materi sains buat anak). Nggak hanya sains, saat menceritakan aneka peristiwa unik yang beliau alami dalam bukunya yang beken sejagad itu, Mestakung, bahasa yang digunakan juga sangat sederhana, renyah namun berisi. Ini membuat saya merasa ….

jeritan hati

Nah, saya suka melakukan berbagai eksplorasi metode dan materi untuk menemukan cara-cara belajar termudah, termasuk tanpa tahu malu ngintip cara belajar orang luar dengan cara banyak berburu metode dan materi via Google. Alhamdulillah, hasil perburuan itu tidak terlalu mengecewakan. Apa-apa yang menarik saya pelajari, kadang diajarin sebagaimana adanya ke anak, kadang saya modifikasi sedikit. Nah  salah satu metode belajar matematika yang saya pakai untuk semua anak saya itu adalah bermain dadu kertas yang setiap sisinya memiliki aneka gambar. Jadi, setiap dadu dilempar, anak akan melihat gambar apa yang keluar, lalu mencentang kotak gambar yang dimaksud di kertas kerja. Ini cara yang saya gunakan untuk mengajarkan konsep dasar statistik pada anak, sekalian dasar-dasar pembuatan grafik. Woaaa … ternyata belajar matematika tidak perlu bikin kening berkerut ya. Anak usia prasekolah saja bisa mengerti dengan sangat baik.

Lembar materi dan dadu kertas yang saya buat

Tapi … tapi apa gunanya anak belajar ini? Woaaaat? Apa gunanyaaah? ini kan salah satu materi dan metode mengajarkan konsep-konsep dasar pengetahuan ke anak. Dengan memahami satu konsep, dia secara mental dan intelektual akan bisa beranjak mempelajari level belajar berikutnya. Mengajarkan konsep ke anak itu ibarat meneroka jalan. Kalau jalan udah dibikin, meski masih jalan setapak, ya udah bisa dilalui. Makin sering dilalui, makin terbentuk jalan itu sampai akhirnya ia bisa menjadi jalan aspal yang lebar dan mulus ketika besar. Ketika jalan di otaknya sudah terbentuk, ya jadi gampanglah anak mempelajari banyak hal ketika dewasa.

Ketika anak sudah besar, lalu kita lihat dia ternyata nggak cakap ini itu, jangan keburu menghakimi kalau dia lelet. Bisa jadi itu karena jalan belajar di otaknya belum terbentuk maksimal. Kata pepatah, belajar di waktu kecil ibarat mengukir di atas batu. Ini mengandung pengertian, aneka pelajaran yang diberikan di waktu kecil (bila diberikan dengan cara yang tepat), akan membekas hingga ia dewasa nanti.

Nah, saya sih  menganjurkan ya metode belajar seperti ini, termasuk untuk di kelas-kelas. Soalnya, di sini anak kan juga bisa belajar berhitung juga. Setelah permainan selesai, anak akan menghitung jumlah semua gambar yang muncul kan. Beri setiap anak lembar kerja, dan ajak mereka bersama-sama mengikuti permainan ini.

Metode seperti ini bisa diajarkan untuk anak prasekolah sampai SD kelas rendah (1,2,3). Kalau untuk anak kelas tinggi mungkin bisa dimodifikasi dengan cara melakukan perkalian. Jadi, setiap gambar tertentu yang muncul, akan dikali dua atau tiga, empat dst. Cara belajar seperti ini sangat asyik.

Nah bagi yang membutuhkan pdfnya untuk pelajaran di kelas bisa mengunduhnya di sini 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.